Selasa, Juni 25, 2024

Yayasan HAkA Minta APH...

BANDA ACEH - Berdasarkan pemantauan yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh...

HUT Ke-50, Pemkab Agara-Bulog...

KUTACANE - Momentum HUT Ke-50, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tenggara bekerja sama dengan...

Pemilik Gading Gajah Super...

BLANGKEJEREN - Satreskrim Polres Kabupaten Gayo Lues berhasil mengungkap kasus kepemilikan dua gading...

YARA Minta Polisi Transparan...

ACEH UTARA - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) mendesak kepolisian serius menangani kasus...
BerandaNewsPlus Minus Dayah...

Plus Minus Dayah Modern

Oleh Taufik sentana

Kita merujuk kata dayah sebagai kontekstualisasi pendidikan Islam di Aceh secara khusus. Bila kata “dayah” hendak dikaitkan dengan istilah Arab, setidaknya kata dayah dekat dengan kata “daurah”, yang bisa bermakna sebagai proses pendidikan dan latihan yang dirancang secara khusus dan berkelanjutan. Sejalan dengan kata “meunasah” yang dianggap berakar dari kata madrasah. Sedangkan secara nasional istilah dayah identik dengan pesantren, tempat pendidikan santri (pelajar Islam) dengan satuan program tertentu pula. Keduanya memiliki tujuan dan fungsi yang sama.

Sejak awal muncul dan berkembangnya ala pendidikan dayah, lembaga ini ditengarai atau diyakini sebagai pilar utama sekaligus tameng (perisai) pendidikan Islam di Indonesia. Paling tidak, dayah atau pesantren telah ada jauh sebelum Belanda membangun sekolah umum yang kemudian menjadi corong” imperialismenya. Lalu disusul oleh “sekolah” Muhammadiyah, Taman Siswa dan NU (sejak periode 1912-1935).

Ketika Indonesia berdiri sebagai negara dan mengadopsi pola sekolah umum tadi, maka kesenjangan terhadap dunia dayah pun menjadi lebar, baik dari segi fasilitas ataupun SDM. Terlebih lagi karena belum adanya skema sistematis dan integral yang merospon lulusan dari dayah atau pesantren dan madrasah. Walau telah dibentuk menteri agama (sebagai wujud kompromi), kenyataan tersebut masih tersisa hingga kini.

Hanya saja, paradigma masyarakat tentang sekolah Islam (dayah dan pesantren) telah mulai berubah secara perlahan. Perubahan ini setidaknya berawal dari berkembangnya istilah “ijo royo-royo” pada rezim Suharto alm. Dimana hijau diidentikkan ke dunia Islam Indonesia yang mesti dirangkul. Agaknya semarak “pesantren kilat” juga muncul pada masa ini, inilah masa menjamurnya pendidikan Islam.

Upaya yang konstan untuk meningkatkan daya saing pesantren, citra dan bergainingnya (daya tawar) terhadap pemerintah, menurut penulis, dikomando oleh  Pesantren Darussalam Gontor dengan label “modern”, yang kemudian diikuti oleh puluhan pesantren binaannya dan berkembang ke sekolah Islam sejenis. Ini tentu berkat ketulusan para pendirinya dan para alumni dengan kecakapan yang siap pakai di masyarakat.  Maka di sekitar tahun 98, mulai berdiri pula Sekolah Islam Terpadu dengan menginduk ke dinas pendidikan, yang misinya hampir sama dengan dayah dan pesantren ataupun madrasah.

Antimodern?

Awalnya memang sulit menghubungkan Islam dan modern dalam benak masyarakat (saat itu hanya ada radio atau TV hitam-putih dengan satu siaran, tanpa aroma industri berupa iklan gaya hidup). Peran tak langsung media global telah mereduksi Islam sebagai agama yang rendah, kumuh dan memunculkan bibit “radikal”. Padahal sejatinya, bibit peradaban modern dengan kebangkitan Eropa, memiliki kaitan sejarah dengan keemasan Islam di Baghdad, Spanyol dan Madinah. Bagaimana tidak, ilmuwan muslimlah yang mengenalkan kepada mereka bagaimana mengelola masyarakat, rumah sakit, sekolah, irigasi bahkan “teknik terbang” yang dikembangkan Ibnu firnas dan pentingnya “mencuci tangan” oleh Ibnu sina ratusan abad sebelumnya.

Penggunaan kata modern nyatanya, tidaklah meninggalkan yang asli dari Islam. Tidak pula menanggalkan yang ma'ruf dalam sistem dayah dan pesantren. Kata modern diletakkan dalam model belajar, sistem, tata kelola, program dan pendekatan. Kata ini juga dianggap relevan dengan sifat manusia yang dinamis, progressif dan mengedepankan hal yang mutakhir (terkini). Dengan catatan, nilai-nilai universal Islam yang kemudian menyaring kemutakhiran tersebut hinga layak diadopsi.

Plus minus sebagai tantangan untuk perbaikan

Kata “ishlah”, atau tepatnya perbaikan, telah menjadi bagian dari fungsi taktis para nabi. Pola ini sejatinya direflikasi oleh sistem nilai pendidikan dayah atau pendidikan Islam lainnya.

Secara kurikuler, minus yang paling menonjol dari dayah modern adalah, sedikitnya waktu untuk (atau tak terkelola?) melazimkan penguasaan kitab klasik ala dayah tradisional secara bertahap. Walaupun mereka secara teknis kompeten dalam mengkaji” matan kitab tersebut. Beberap dayah telah menyiasati dengan memberi waktu khusus bagi kelas tertentu  dalam mempelajari matan taqrib atau fathul-muin.

Sedangkan dari ilmu alat berupa Bahasa Arab, dayah modern lebih praktis dari segi penguasaan(bicara) dengan sedikit kelemahan pada kaidah detil dan khusus.

Dalam pola dayah modern, figur guru (ustaz dan kiyai) terkesan tidak begitu sentral, figur tersebut dibangun dalam subjektifitas tertentu, sedangkan dalam dayah tradisional hubungan guru-murid-kiyai/abu menjadi hubungan orisinalitas (sanad) ilmu yang dituntut. Kelebihannya, dayah modern bisa membangun sistem belajar yang lebih terbuka dan dinamis dengan tetap mempertimbangkan adab terhadap guru.

Selanjutnya dayah modern juga menghadapi dilema dengan kata modern yang menawarkan kemungkinan gaya hidup yang instan, minim apresiasi personal dan terkikisnya rasa spiritual,  sisi inilah yang kira paling menonjol utuk upaya penajaman program dalam rangka menghidupkan sikap spirituil (dengan aplikasi di luar ibadah wajib, adab Islam tertentu, ibadah sunnah dsb ) tanpa menghilangkan rasa modernitas.[]

Taufik sentana

Alumni kelima pesantren Darul Arafah Medan. Pernah mengabdi di Dayah MisbahulUlum Lhokseumawe. Konsultan SDM  untuk Albanna Internasional College  Aceh Barat.

Baca juga: