27.2 C
Banda Aceh
Sabtu, September 25, 2021

Prahara Kebudayaan Aceh

Oleh: Nab Bahany As 
Budayawan, tinggal di Banda Aceh
Surat Elektronik: nabbahanyas@yahoo.co.id

Adat bek meukoh reubong
Hukom bek meukoh purieh
Adat hanjeut beurangkaho takong
Hukom hanjeut berangkaho takieh

Lama saya menahan diri untuk tidak menulis apa yang menimpa Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh dalam tiga tahun terakhir ini. Lembaga Keistimewaan Aceh yang dibentuk dengan Qanun Nomor 3 Tahun 2004 ini, adalah sebuah lembaga Otonom (mitra pemerintah Aceh) dalam mengurus dan membina kelestarian adat istiadat Aceh—sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Aceh—yang sejak didirikan terus berjalan seadanya. Sesuai anggaran yang dialokasikan pemerintah Aceh.

Mubes demi Mubes MAA dilaksanakan tiap lima tahun sekali, tak ada masalah yang menerpanya. Meskipun anggaran yang dialokasikan tiap tahunnya untuk membangun dan melestarikan adat istiadat Aceh, kadang tidak sebanding dengan apa yang diharapkan, agar MAA ini dapat berperan optimal dalam membangun dan membina adat-kebudayaan Aceh di tengah terjangan budaya global, yang membuat nilai-nilai adat dan budaya Aceh satu-persatu berguguran, di tengah kepungan nilai budaya baru yang makin menghilangkan indentitas budaya keacehan.

Di tengah tertatih-tatihnya perjalanan Majelis Adat Aceh ini, dengan segala keterbatasan anggran yang disediakan. Tiba-tiba setelah Mubes bulan Oktober 2018, lembaga Keistimewaan Aceh di bidang adat-kebudayaan Aceh ini, diterpa badai prahara yang sangat dahsyat dan menyedihkan. Lembaga keistimewaan ini dibuat tak ubah seperti sebuah organisasi partai politik, yang dibenturkan kepemimpinannya oleh Plt. Gubernur Aceh. Yaitu antara pimpinan MAA hasil Mubes 2018, dengan pengangkatan Plt. Ketua MAA baru oleh Plt. Gubernur Aceh, yang menurut Ombusdman Aceh Plt. Gubernur Aceh telah bertindak Maladministrasi pemerintahan di luar kewenangannya.

MAA
Apa yang menimpa Majelis Adat Aceh dalam tiga tahun terakhir, sebenarnya sebuah petaka besar bagi kebudayaan Aceh, yang tidak disadari oleh yang tidak memiliki kesadaran budaya itu sendiri. Memberturkan dua pimpinan dalam sebuah organisasi partai politik, mungkin itu sudah merupakan hal biasa. Dimana setelah Mubes atau Kongres sebuah partai politik tertentu, kemudian tidak diakui oleh kubu lainnya dalam partai politik tersebut. Hingga penyelesaiannya harus saling gugat menggugat ke pengadilan. Majelis Adat Aceh pun diseret dalam gaya politik seperti itu, hingga masalahnya harus berujung ke pengadilan.

Benturan gugat-menggugat semacam itu mungkin sudah lumrah terjadi dalam sebuah organisasi partai politik. Tapi sangat fatal dan memalukan, bila gaya partai politik seperti itu ikut diterapkan pada sebuah lembaga kebudayaan bernama Majelis Adat Aceh, yang identik sebagai lembaga pengawal moral, etika, dan akhlak, adat istiadat, serta perilaku dalam berkehidupan masyarakat Aceh yang berbudaya Islami.

Pahara yang terjadi pada Majelis Adat Provinsi Aceh ini, memang bermula dari hasil Mubes Oktober 2018, yang pelaksanaan Mubes itu tentu mengacu pada Qanun Nomor 3 tahun 2004. Hasil Mubes inilah yang kemudian dikonspirasikan oleh pihak tertentu yang mempengaruhi Plt. Gubernur Aceh untuk tidak mengakui keabsahan hasil Mubes MAA 2018. Walau pun Plt. Gubernur Aceh sendiri, atas nama pemerintah Aceh, sehari setelah Mubes MAA 2018, turut menyampaikan ucapan selamat melalui sebuah iklan di Harian lokal yang terbit di Banda Aceh, atas terpilihnya kembali secara aklamasi H. Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum sebagai Ketua MAA periode 2019-2023.

Mubes MAA
Namun apa yang terjadi, hasil Mubes MAA 2018 ini dikonspirasikan sebagai hasil Mubes yang tidak sah. Salah satu alasan yang dikonspirasikan tidak sahnya Mubes MAA 2018 ini, karena Mubes tersebut dilasankan tidak memenuhi unsur pesertanya, yang juga tidak jelas unsur perserta yang bagaimana yang tidak dilibatkan dalam Mubes tersebut. Bila itu yang menjadi alasan tidak sahnya Mubes MAA 2018. Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan Mubes-Mubes MAA sebelumnya yang telah berulang kali dilaksanakan. Kenapa tidak dikonspirasikan sebagai Mubes yang tidak sah?

Untuk melegalkan alasan tidak sahnya Mubes MAA 2018, yang mengacu pada Qanun Nomor 3 Tahun 2004. Dibuatlah Qanun baru, yaitu Qanun Nomor 8 Tahun 2019 Tentang Majelis Adat Aceh. Dengan Qanun ini seolah-olah MAA tidak sedang dalam bermasalah dengan hukum, antara Plt. Gubernur Aceh (tergugat) dengan Ketua MAA terpilih hasil Mubes MAA 2018, yaitu H. Badruzzaman Ismail (penggugat). Dengan dibuatnya Qanun Nomor 8 Tahun 2019 ini dinggap akan semakin legal untuk melaksanakan kembali Mubes MAA November 2020, dalam membatalkan hasil Mubes MAA 2018.

Di mana dalam Mubes MAA November 2020—sebagai Mubes MAA tandingan—dari hasil Mubes 2018, Prof. Farid Wajdi, MA (almarhum) yang sedang di-Plt-kan sebagai Ketua MAA oleh Plt. Gubernur Aceh, sebagai pengganti dari Plt. Ketua MAA Saidan Nafi, yang sebelumnya juga di-Plt-kan oleh Plt. Gubernur Aceh sebagai Plt. Kekua MAA. Maka dalam Mubes MAA tandingan November 2020, Prof. Farid Wajdi terpilih sebagai Ketua MAA yang dianggap divinitif.

Yang hendak kita katakan, begitulah kesan yang dipertontonkan dari sebuah cara kerja konspirasi dalam upaya menggulingkan Ketua MAA terpilih dari hasil Mubes MAA 2018, yang dialasankan sebagai Mubes MAA yang tidak sah. Bila kita coba analogikan apa yang dipesankan dalam Hadih Maja Aceh: “Adat bek meukoh reubong, hukom bek meukoh purieh, adat hanjeut berangkaho takong, hukom hanjeut beurangkaho takieh”.

Qanun MAA
Maka Qanun MAA Nomor 8 Tahun 2019 itu adalah termasuk bentuk Qanun hukom yang meukoh purieh, terhadap Qanun MAA Nomor 3 Tahun 2004. Artinya, Qanun MAA Nomor 8 Tahun 2019, adalah ibarat Qanun orang membuat purieh (tangga dari batang bambu) dengan cara membersihkan pucuk dan ranting bambu pada ujungnya saja, untuk mengahsilkan sebuah purieh yang diinginkan. Dengan tidak melihat akar persoalan sesungguhnya yang terjadi pada MAA. Itulah yang dimaksud dengan hukom meukoh purieh.

Sehingga bunyi hadih maja: “hukom hanjeut beuarangkaho takieh” tidak lagi menjadi filosofi pedoman hidup orang Aceh seperti yang terjadi dalam kasus MAA ini. Qanun Nomor 8 Tahun 2019 Tentang MAA ini, sebenarnya boleh saja disiapkan, untuk menyempurnakan Qanun Nomor 3 Tahun 2004, yang mungkin sudah anggap kadaluarsa, perlu revisi dan penyempurnaan kembali. Tapi pemberlakuan Qanun Nomor 8 Tahun 2019 ini, secara logika mestinya dapat diberlakukan untuk Mubes MAA setelah berakhirnya masa kepengurusan hasil Mubes MAA 2018. Bukan langsung digunakan untuk dilaksanakan Mubes MAA tandingan dengan Qanun Nomor 8 Tahun 2019 itu.

Sehingga Qanun Nomor 8 Tahun 2019 Tentang MAA ini, terkesan sekali sebagai Qanun hukom yang meukoh purieh dalam membatalkan Qanun MAA Nomor 3 Tahun 2004, yang tujuannya adalah untuk melegalkan tidak sahnya hasil Mubes MAA 2018. Selain itu, Qanun Nomor 8 Tahun 2019 ini juga meninggalkan kesan, bahwa Qanun itu adalah sebuah prodak hukum yang ternyata bahwa hokom jeuet beurangkaho takieh. Ini sangat bertengan dengan filosifi yang dipesankan dalam hadih maja Aceh, bahwa hukom hanjeut beurangkaho takieh.

Yang jadi masalah sekarang, seluruh putusan hukum negara dalam kasus MAA ini, mulai dari putusan PTUN Banda Aceh, putusan banding PTUN Medan, dan putusan kasasi (inkrah) Mahkamah Agung (MA), semua putusan hukum itu memerintahkan tergugat (Gubernur Aceh) untuk mengembalikan posisi Ketua MAA berdasarkan hasil Mubes MAA Oktober 2018.

Taruhan Bagi Gubernur Aceh
Tentu saja ini taruhan bagi Gubernur Aceh yang akan menjadi penilaian publik. Bagaimana Gubernur Aceh akan bersikap dalam hal ini. Apakah akan taat pada keputusan hukum negera yang telah ditetapkan, atau akan menjadi kebal hukum yang telah diputuskan oleh negara. Semua itu terpulang pada pak Gubernur. Publik hanya bisa menilai sejauh mana seorang Gubernur akan taat pada sebuah keputusan hukum negara?[]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Terbaru

Gayo Lues Tuan Rumah Pra-PORA Sepak Bola

BLANGKEJEREN - Kabupaten Gayo Lues  akan menjadi tuan rumah Pra-Pekan Olahraga Aceh (PORA) Cabang...

Palestina: Israel Haraus Tinggalkan Yerusalem Timur dalam 1 Tahun

Presiden Palestina Mahmoud Abbas menuduh Israel menghancurkan prospek penyelesaian politik berdasarkan solusi dua negara  melalui permukiman di Tepi...

Saksikan Pacuan Kuda di Gayo Lues, Pengunjung Disuntik Vaksin, Dikasih Sembako

  BLANGKEJEREN - Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kabupaten Gayo Lues menggelar latihan bersama...

Putri Bimbim Slank Mezzaluna Siap Go Internasional Lewat Lagu ‘In Situ’

Putri Bimbim Slank, Mezzaluna D'Azzuri mengikuti jejak sang ayah terjun di industri musik Indonesia. Bukan sebagai drummer,...

Berikan Pemahaman kepada Masyarakat Pentingnya Vaksinasi Covid-19

SABANG – Sekretaris Daerah Aceh, dr. Taqwallah M.Kes., menitipkan pesan kepada para kepala Puskesmas...

Aceh Hari Ini: Siasat Kawat Palsu Pemuda Atjeh Sinbun Untuk KNIL

Para pemuda pejuang Aceh di redaksi surat kabar Atjeh Sinbun membuat kawat palsu atas...

SMUR Minta Pemkab Aceh Utara Cabut Izin HGU PT SA

LHOKSEUMAWE – Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) bersama warga Kecamatan Simpang Keuramat, meminta Pemerintah...

Realisasi PAD Getah Pinus Gayo Lues Baru 14 Persen

BLANGKEJEREN – Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Gayo Lues dari bagi hasil getah...

Kabid Humas Polda Aceh: Khana Darasa Naswa Hanya Alami Sikosomatik

BANDA ACEH – Khana Darasa Naswa (12) siswi SMK Negeri 1 Lkokseumawe yang tumbang...

Tim Polyrobocom PNL Ikuti Kontes Robot Indonesia 2021

LHOKSEUMAWE - Tim  Polyrobocom Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) mengikuti ajang Kontes Robot Indonesia (KRI)...

Ganti Rugi Lahan Jalan Tol di Padang Tiji Dinilai Bermasalah

BANDA ACEH - Pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol di Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten...

Orang Tua Siswi Korban Vaksin di Lhokseumawe akan Tempuh Jalur Hukum

LHOKSEUMAWE – Aji Usman (52) akan tetap menempuh jalur hukum, setelah Khana Darasa Naswa...

Ritual Pagi Hari Demi Kualitas Hidup

Pebisnis sekaligus penulis buku "The Miracle Morning", Hal Elrod, mengakui, bangun pada pagi hari...

Risiko Berat Mualaf Juan Berjuang Sembunyikan Islamnya

Juan Dovandi (19 tahun) masih terus berproses sebagai mualaf. Karena hingga saat ini dia...

Conor McGregor Bikin Onar dan Patah Kaki, Nasibnya Kini

Kabar terbaru disampaikan Presiden Ultimate Fighting Championship (UFC) Dana White. Hal ini soal nasib Conor...

Kemenag dan Dinas Dayah Persiapkan Hari Santri Nasional

BANDA ACEH - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh dan Dinas Pendidikan Dayah Aceh...

Tak Layak Pakai, Delapan Ruang Belajar SMPN 1 Tanah Luas Direhab

LHOKSUKON – Delapan ruang belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Tanah Luas,...

Polisi Selidiki Kasus Dugaan Penyerobotan Lahan di Simpang Keuramat

LHOKSEUMAWE- Tim penyidik Polres Lhokseumawe melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan penyerobotan lahan antara masyarakat...

Jika Bitcoin Jadi Sangat Sukses, Ini Prediksi Miliarder Ray Dalio

NEW YORK - Pendiri hedge fund terbesar di dunia, Bridgewater Associates, Ray Dalio memprediksi...

Premier Oil Andaman Cari Cadangan Migas Baru di Aceh

BANDA ACEH – Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKSK) Premier Oil Andaman mencari cadangan minyak...
Butuh CCTV, dapatkan di ACEH CCTV. ALAMAT: Jln Tgk Batee Timoh lr Peutua II, Gampong (Desa) Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Aceh. Kode Pos 23114. TLP/WA : 0822.7700.0202 (MUSRIADI FAHMI). Taqiyya Cake and Bakery, Tersedia: Brownies, Bolu pandan, Bolpis, Bolu minyak, Bolu Sungkish, Ade, Donat, Serikaya, Raudhatul Jannah (082269952496), Perum Gratama Residence No 5 Mibo Lhoong Raya Banda Aceh. Kunjungi Showroom Honda Arista. Jl. Mr. Teuku Moh. Hasan No.100, Lamcot, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh 23242. Hubungi: No Tlp/WA : 082236870608 (Amirul Ikhsan). Kunjungi Usaha Cahaya Meurasa/ Kue Kacang Alamat: Perumahan Cinta Kasih, Gampong (Desa) Neuheun, Kec. Masjid Raya, Aceh Besar. Tersedia Kue Malinda/Kacang dan Nastar. Hubungi TLP/WA: 085277438393 (Nurjannah) - Bimbel Metuah, Almt: Jl. Seroja No. 5, Ie Masen Kayee Adang, Ulee Kareng, Banda Aceh. HP/WA: 0823 6363 2969 (Ola). Instagram: @bimbelmetuah @metuah_privat