Presiden Partai Butamah Aceh, Firman Saputra, kini telah resmi bergabung dengan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) partai NasDem Aceh yang dikomandoi oleh Teuku Taufiqulhadi.

Kepada portalsatu.com/, via WhatsApp, Jumat, 03 Februari, 2023, Firman mengatakan, alasannya memilih bergabung ke dalam partai besutan Surya Paloh itu hanyalah perihal pikiran dan hati.

“Itu perkaranya hanya dua hal, pikiran dan hati yang menentukan arah saya ke NasDem,” katanya.

Menurut Firman, perkara pilihan atau memilih partai politik (parpol) mana yang kini telah dipilihnya, bukanlah suatu soalan. Sebab, seorang warga negara bergabung dalam sebuah parpol tentu diawali oleh pertimbangan yang matang, terutama oleh pikiran dan kehendak hati.

Ketika ditanya kenapa tidak bergabung dengan partai lokal yang kini menjadi salah satu keistimewaan Aceh, Firman hanya berkata, “saya bukan tidak senang dengan partai politik lokal (parlok). Lagi-lagi ini urusan hati,” ujarnya.

Baca juga: Anggota MPN Gelora: Elite Aceh ”Bek Pakek Prinsip Catok”

Ia menyebutkan, sebagai masyarakat Aceh, semua harus bangga dengan adanya parlok. Karena lahirnya parlok adalah kelebihan yang diberikan negara untuk masyarakat Aceh.

“Tetapi ini kembali ke persoalan hati dan pikiran. Ibarat, kenapa orang Aceh sebagian tidak menikah dengan orang Aceh. Demikianlah contohnya,” ucap Firman.

Administrasi Partai Butamah Sudah Rampung

Menjawab pertanyaan yang dilayangkan portalsatu.com/, Firman menimpali, bahwa secara administrasi partai Butamah pada 2022 kemarin sudah rampung dan sudah siap mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) sebagai peserta pemilu.

“Setelah dipikir-pikir, kalau ada nama partai Butamah di surat suara nantinya akan menjadi sebuah bercandaan bagi masyarakat (pemilih) untuk para intelektual di kalangan parlok lainnya,” ucap Firman.

Lebih lanjut, Firman menggambarkan kondisi politik Aceh saat ini masih belum berkembang. Menurutnya, ritme politik di Aceh terkesan jalan di tempat dan hampir bisa dikatakan mundur. Terbukti tidak sinkronnya program eksekutif dengan legislatif. “Satu ke kanan satu ke kiri, satu jual ikan, satu jual air,” ulasnya.

Akhirnya, dengan kondisi demikian, rancangan perencanaan suatu daerah masih tertinggal, sebab kurangnya koordinasi. Apalagi 2 tahun belakangan ini Aceh dipimpin oleh seorang Penjabat (Pj) Gubernur yang dikirim dari luar Aceh, dan belum paham kondisi Aceh.

Kondisi Aceh Hari Ini

Ia menyebutkan, bagaimana memajukan Aceh. Berbicara maju tidak majunya Aceh hari ini jangan dilihat dan berpatokan di ibukota Banda Aceh semata. Tetapi lihatlah kabupaten/kota lainnya.

“Di mana masih banyak siswa-siswi harus melewati sungai ke sekolah, anak mengantar ayah berobat puluhan kilometer dengan becak, fasilitas publik belum terealisasi dengan baik di pedalaman-pedalaman,” urainya.

Belum lagi, sambung Firman, perihal tenaga kerja luar Aceh berbondong-bondong ke Aceh untuk bekerja, sementara putra-putri Aceh memerlukan kerja dengan rekomendasi orang dalam (Tuan Polan dan Tuan Polem). “Mana maju Aceh,” tegasnya.

Baru-baru ini, tambah Firman, seluruh Aceh dihebohkan dengan “rekom awak dalam” pada penerimaan Panitia Pemilihan tingkat Kecamatan dan desa. Seakan-akan peristiwa ini suatu yang lazim.

“Yang ada rekom baru lewat. pertanyaannya pahamkah orang-orang yang mengantongi rekom itu tentang pemilu,” tandasnya.

Maju Sebagai Caleg DPRK

Firman mengatakan, pada pemilihan umum 2024 mendatang dirinya akan maju sebagai bakal calon anggota legislatif (bacaleg) Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Utara mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) VI.

“Saya kali ini maju di tingkat kabupaten. Maju sebagai DPRK Aceh Utara. Ini diawali dari yang tingkat bawah, karena berbagai polemik di Dapil saya: Dapil 4 (Dewantara, Sawang, Muara Batu) penting untuk saya Kawal. Apalagi Dewantara ini,” papar Firman.

Empat kecamatan itu, sebut Firman, merupakan wilayah industri yang selama ini kurangnya perhatian dari perusahaan industri bagi masyarakat lingkungan tersebut. Terutama dalam hal tenaga kerja.

Bila nanti terpilih menjadi anggota dewan, Firman berkata, “kuneuk seupot mandum dinas yang hana” sinkron dengan program kami DPRK. Artinya, ia akan membuat perhitungan dengan dinas-dinas yang tidak sinergi.

“Satu hal lagi, yang perlu diketahui oleh NasDem nantinya, bila saya melanggar etik partai, saya tidak takut PAW (Pergantian Antar Waktu) jika program saya bertolak belakang dengan partai dalam membela suara masyarakat,” tutupnya.[]

Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen.