“Para elite Aceh jangan lagi punya prinsip peuglah pucuk droe, pakek prinsip catok (cangkul), tetapi harus peduli rakyat bawah prinsip sudok dan kolaborasi dengan semua komponen bek meuklok-klok,” kata Moharriadi Syafari, Anggota Majelis Permusyawaratan Nasional (MPN) Partai Gelora.

Ditemui portalsatu.com/ di Banda Aceh, Kamis siang, 2 Februari 2023, Moharriadi Syafari mengatakan kondisi politik Aceh hari ini begitu memprihatinkan, para elite hanya mementingkan dirinya semata.

Melihat kondisi Aceh hari ini, Moharriadi, mengajak semua elemen masyarakat untuk mengambil langkah konsolidasi spiritual demi menyatukan hati, “beu meusaboh hate“, atau satu hati dan jangan lagi memperuncing masalah-masalah kecil baik yang diakibatkan maupun yang mengakibatkan perpecahan.

“Perlu menguatkan rasa persatuan untuk kembali berjuang bersama guna mengembalikan kembali posisi Aceh supaya bisa berkembang dan maju,” ujarnya.

Ia meminta semua lapisan dapat berkonsentrasi dan berpikir untuk menyejahterakan rakyat. Artinya, sudahi yang telah berlalu. “Cukup, selama ini masyarakat yang menjadi korban, sementara para elite hanya sibuk bertikai di pusaran isu-isu. Tidak bisa bersepakat serta bekerja sama untuk menyelesaikan hal-hal mendasar yang dihadapi oleh rakyat,” tuturnya.
Pandangan Gelora Aceh terhadap Partai Politik Lokal

Moharriadi menyebutkan, dengan banyaknya partai politik lokal (parlok) di Aceh sebagai wujud keistimewaan harusnya bisa optimal, baik oleh jajaran parlok sendiri maupun stakeholder, para mitra, masyarakat dan partai nasional guna mewujudkan parlok sebagai dongkrak untuk memajukan Aceh.

“Parlok harus menjadi pilar utama harapan masyarakat,” imbuh Moharriadi.

Lebih lanjut, kata Moharriadi, sebagai partai nasional, Partai Gelora memandang semua partai lokal akan sangat efektif dalam mewujudkan harapan masyarakat.

“Nantinya, partai lokal bisa berdiri di depan atau bersama-sama dengan seluruh partai nasional melakukan perbaikan untuk Aceh,” ucapnya.

Jadi, kata Moharriadi, umpamanya, partai lokal berdiri di depan, sementara partai nasional men-support (mendukung) di belakang.

Gelora Menawarkan Gagasan

Sebagai partai pendatang baru, Partai Gelora sendiri, kata Moharriadi, tetap pada landasan awal sebagaimana yang digaungkan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) di Jakarta, Anis Matta dan Fahri Hamzah, yang dijual sebagai basis perjuangan nantinya adalah gagasan atau ide.

Maka, sebut Moharriadi, sebagai pendatang baru Gelora tidak khawatir, selama ide-ide untuk perbaikan masyarakat dan perbaikan daerah terus didiskusikan dan ditawarkan ke tengah-tengah masyarakat. “Saya yakin, dukungan untuk Partai Gelora akan besar,” tukasnya.

Jadi, tambah Moharriadi, masyarakat saat ini akan mendukung siapapun yang memiliki konsep dan gagasan yang bagus.

“Ini memang masanya orang-orang yang memiliki ide,” imbuhnya.

Salah satu ide yang akan ditawarkan Partai Gelora Aceh nantinya, sambung Moharriadi, adalah pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) atau disebut dengan pembangunan mental.

Selain itu, Moharriadi menilai, selama ini Aceh hanya terpaku dengan pembangunan fisik (infrastruktur) semata dengan anggaran yang terbatas dan semakin hari semakin susut.

“Kita terkadang melupakan basis pembangunan mental. Padahal, bila ini beriringan dengan pembangunan fisik, saya kira langkah berikutnya akan lebih mudah,” ulasnya.

Membangun Mental Spiritual

Moharriadi juga mengatakan, bangsa-bangsa di dunia ini, bila memperhatikan unsur pembangunan mental spiritualnya, tentu akan menjadi modal bagi mereka untuk bangkit dan maju.

“Kita di Aceh, jangan lupa pada pembangunan pendidikan, budaya dan agama. Bila 3 hal ini bisa kita perkuat, maka mental pemerintah dan rakyat akan harmonis,” jelasnya.

Ketika ketiga unsur itu telah dibingkai, sambung Moharriadi lagi, rakyat dan pemerintah telah jalan selaras, maka di Aceh tak akan ada lagi kasus-kasus korupsi seperti selama ini.

“Karena yang sangat mengganggu sekarang ini adalah benih-benih korupsi yang belum hilang, itu akan mengganggu siapapun yang ada di poros kekuasaan,” ungkapnya.

Dengan begitu, sebut Moharriadi lagi, bila mental korup itu dapat dibenahi, maka besar harapan rakyat Aceh akan memiliki pemimpin dan pemerintahan yang dapat dipercaya. Sehingga rakyat pun akan termotivasi untuk bangkit.

“Kalau sekarang kita lihat, rakyat apatis dan sibuk dengan urusan sendiri, pemerintah pun sibuk sendiri. Tidak menyatu. Mungkin pemerintah lupa pada rakyat. Ini yang perlu diperbaiki,” pungkasnya.[]

Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen.