Penulis sengaja memilih kata “Belajar” karena ia lebih khusus dari kata “Pendidikan”. Belajar juga menjadi bagian pokok dari proses pendidikan, karena secara ideal, pendidikan dapat mengembangkan kesadaran belajar individu secara mandiri dan kontinyu.
Dalam fase perubahan yang begitu cepat seperti sekarang ini, banyak faktor yang perlu dipertimbangkan untuk kepentingan belajar anak dan masa depan pendidikan mereka secara umum. Pada pokok ini yang menonjol adalah pola pendidikan, sistem sekolah dan implikasi personal dan kulturalnya.
Secara praktis, belajar diperuntukkan guna memenuhi kemampuan diri dalam mengelola lingkungannya, memenuhi kebutuhannya dan menyelaraskannya dengan nilai nilai tertentu. Disini belajar sebagai penguat materialisme global. Singkatnya, belajar untuk keperluan kerja dalam ragam tingkatan dan gengsi.
Bila cenderung pada core belajar di atas, maka sedari dini diperlukan asesmen kompetensi dan minat yang relevan dan dikaitkan dengan perubahan sosial dalam mendorong sikap belajar si anak, yaitu menjadi spesialis dan berkembang secara bertahap yang disesuaikan dengan nilai kepercayaan yang dianut. Asumsi ini juga akan mematahkan “ide sekolah lama dan universitas lama” yang monoton, kaku, terjadwal dan penuh beban belajar yang tumpang tindih sehingga menumpulkan ketajaman kompetensi anak, akibatnya para lulusan hanya mencapai level tenaga kerja dan sulit menjadi ahli.
Kabar buruk tentang para spesialis-materis ini adalah, banyaknya aplikasi teknologi yang mungkin dapat menggantikan kecakapan mereka, bahkan pada tingkatan pengacara ataupun dokter. Disini setiap SDM akan bersaing tidak hanya dengan orang lain, tetapi juga dengan “kecerdasan buatan” manusia (mesin/digitalisasi).
Para pakar menggaris bawahi bahwa, yang mungkin tidak tergerus oleh laju teknologi zaman now adalah para “spesialis-genaralis”, yang memiliki ragam keahlian dengan kemampuan belajar dan adaptasi yang tinggi, yang tidak banyak disuguhi (terlepas dari jebakan) “formalisme belajar”.
Golongan ini adalah mereka yang dapat memanfaatkan waktu sekolah mereka untuk pengembangan diri yang komprehensif dan bertahap. Mereka dapat menentukan prioritas belajar di tengah padatnya “beban” acuan yang mesti dikuasai dalam waktu yang sama dan singkat, serta terpola dalam pembiasaan karakter sosial ataupun spiritual berdasarkan nilai nilai yang tinggi.[]
Taufik Sentana
Praktisi pendkdikan Islam.
Inisiator Albanna Internasional College, Aceh Barat.



