SINABANG – Selain  cengkeh dan lobster, rotan sempat menjadi komoditas unggulan Kabupaten Simeulue, tapi menurunnya produksi dan meurunnya harga membuat para pencari rotan beralih profesi, mencari lahan pekerjaan baru.

Nurmila (36) salah seorang pekerja di tempat pengepul rotan mengungkapkan, pada tahun 2017 pemasok rotan ke tempatnya bekerja biasanya mencapai 2.000 hingga 3.000 batang, tapi belakangan ini dalam tahun hanya sekiar 500 batang saja.

Ia menceritakan, proses pengolahan rotan juga terbilang rumit, pertama rotan harus di rebus air belerang selama dua hari, penjemuran selama lima belas hari, setelah itu dijemur dan dicuci mengunakan deterjen. “Setelah diproses selama satu bulan baru siap kirim ke Medan, Sumatra Utara,” jelasnya.

Nurmila menambahkan, banyak pengepul rotan di Sinabang mengeluh dengan situasi tersebut, bahkan katanya para pencari dan pengepul rotan sudah  mulai beralih profesi. Rotan Simeuleu biasanya dijadikan sebagai bahan baku meubel seperti kursi, meja, tamu, rak buku, keranjang hantaran, souvenir dan lain sebagainya.[MAG MJC: Syahrul Mauliddin]