Alquran mempunyai banyak kelebihan dan keistimewaan yang telah disebutkan dalam Alquran dan hadis Rasulullah Saw. Allah berfirman, “Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya….”(QS. al An’aam: 92).

Imam Darimi meriwayatkan dengan sanad shahih bahwa sesungguhnya Ikrimah bin Abu Jahal seringkali meletakkan mushaf di wajahnya sambil berkata, “Ini adalah kitab Tuhanku, kitab Tuhanku”. Di antara berkahnya adalah bahwa membaca sebagian surah atau ayat Alquran bisa mengusir setan dari pembaca dan rumahnya. Sesungguhnya berkumpul untuk membacanya merupakan jalan bagi turun derasnya rahmat Allah, memperoleh keridaannya, tempat datangnya ketenangan.

Allah menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk membimbing manusia. Turunnya Alquran merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan tinggi kedudukannya bagi penghuni langit dan bumi.

Turunnya Alquran pertama kali pada Lailatul Qadr (malam al-Qadr) yang merupakan pemberitahuan kepada alam samawi yang dihuni oleh para malaikat berkaitan kemuliaan umat Muhammad.

Allah memuliakan kita sebagai umat Muhammad pada hari ini dengan risalah barunya agar menjadi umat yang paling baik.

Berdasarkan pengangan jumhur ulama, Alquran diturunkan secara sekaligus ke langit dunia di Baitul ‘Izzah untuk menunjukkan kepada para malaikat-Nya bahwa betapa agungnya Alquran ini. Seterusnya Alquran diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pertama kali pada malam itu juga. Kemudian secara beransur-ansur selama 23 tahun bersesuaian dengan peristiwa-peristiwa yang mengiringinya, bermula dari beliau diutus.

Selama 13 tahun beliau tinggal di Makkah, dan selama itu jugalah wahyu turun kepadanya. Selepas hijrah, beliau tinggal di Madinah selama 10 tahun. Beliau wafat dalam usia 63 tahun.

Ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan Al-Qur’an telah Kami turunkan dengan beransur-ansur agar kamu membacakannya perlahan-perlahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bahagian demi bahagian.” (Surah al-Isra’, 17: 106)

Proses turunnya Alquran secara beransur-ansur amat berbeda dengan kitab-kitab yang turun sebelumnya, sangat mengejutkan orang, dan menimbulkan keraguan terhadapnya sebelum jelas bagi mereka rahsaia hikmah Ilahi yang ada di balik itu. 

Rasulullah Saw tidak menerima risalah besar ini dengan cara sekaligus, dan kaumnya yang sombong dan berhati keras turut dapat ditawan (dilunakkan) dengannya.

Antara hikmah wahyu ini turun secara beransur-angsur adalah demi menguatkan hati Rasul-Nya dan menjadikannya saling berkait dengan peristiwa serta kejadian-kejadian yang mengiringinya sehingga Allah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat-Nya.[]