BEREDARNYA isu hasil survei dari Setara Institute beberapa hari yang lalu, yang menyatakan Kota Banda Aceh sebagai kota yang dikategorikan sebagai kota intoleren, menyebabkan beberapa pihak angkat bicara.

Di antaranya, Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman. Ia mengaku tidak terkejut sama sekali mendengar kabar kalau Banda Aceh dinobatkan sebagai kota Toleransi no 2 terendah di Indonesia. Menurutnya, ada beberapa hal yang menyebabkan penelitian tidak independen seperti ini terjadi.

“Namun dari kebanyakan ini terjadi karena penelitinya, umumnya memiliki phobia atau ketakutan yang berlebihan terhadap Islam,” kata Mawardi melalui rilisnya pada Selasa, 11 Desember 2018.

Padahal, katanya, Islam adalah Rahmatal Lil Alamin, tanpa Islam manusia masih hidup dalam Jahiliyah dan tidak akan bisa  merasakan peradaban modern.

Aktivis kebudayaan yang kini fokus mensosialisasikan pakaian adat Aceh itu meminta Setara Institute belajar tentang sejarah Banda Aceh lebih banyak lagi. Karena seharusnya pihak Setara Institute mengetahui bahwa Kota Banda Aceh telah didirikan ratusan tahun lalu.

“Cobalah pergi ke Banda Aceh anda akan mendapatkan Lonceng Cakra Donya pemberian Cheng Ho dari Kaisar Yong Le Dinasti Ming tahun 1412, kemudian adanya Gampong Keudah, Gampong Jawa tempat jamaah haji dari Jawa belajar di Aceh pada masa lalu sebelum berhaji ke Mekkah, ada Gampong Bitay kediaman perwira Turki masa lalu masa melawan Portugis, ada Gampong Surien tempat kediaman para perwira Suriah di Aceh yang membantu melawan Portugis di Malaka, ada Gampong Kleng, ada Gampong Peunayong yang banyak komunitas Cina hidup rukun dan damai mencari rezeki,” katanya.

Menurut Mawardi, Setara Institute harus mengetahui bahwa Aceh adalah negeri ideal yang Baldatun Tayyibatun Warabbul Ghafur. Maka, katanya, para peneliti luar jangan melakukan penelitian ilmiah tentang Aceh dari jarak jauh.

Meskipun wali kota Banda Aceh, sebagai mana yang diberitakan oleh kumparan.com juga menolak hasil survei yang dikeluarkan oleh Setara Institute, namun Ketua Peusaba itu sebagai mana yang sering dikatakannya di setiap kesempatan, sampai saat ini juga masih terus berharap walikota Banda Aceh benar-benar serius menjaga situs sejarah, dan berhenti terlibat ikut mencari donatur membuat proyek IPAL dan PLTSa di Gampong Pande dan Gampong Jawa yang akan memusnahkan sejarah Aceh. 

“Di sana terkubur 500 ulama dari Turki Seljuk Bagdad. Supaya Walikota sadar inilah implikasi dari meninggalkan adat dan sejarah negeri sendiri,” kata Mawardi.

Dalam pengamatan Mawardi, ia menyaksikan bahwa kini walikota masih terlihat bekerja keras habis-habisan melobi pusat untuk melanjutkan IPAL dan PLTSa (pembangkit listrik tenaga sampah) di kompleks makam ulama. “Apa balasan yang diterima Banda Aceh, menjadi negeri nomor 2 yang tidak memiliki toleransi”. 

Peusaba terus berharap walikota menyadari kesalahannya dan bertingkah laku terpuji selayaknya pemimpin dari Kota Banda Aceh menjadi kota tua yang setara London dan Istanbul agar terus melaksanakan syariat Islam melindungi makam para ulama dan raja dan menjauhkan proyek IPAL dan PLTSa Sampah di Gampong Pande dan Gampong Jawa dan terus melaksanakan syariat Islam dengan mendengarkan arahan para Ulama Aceh.

Komentar Tuanku Warul Walidin

Demikian juga dengan salah seorang keturunan dari Kesultanan Aceh Darussalam, atau yang sering dikenal sebagai Pang Ulee Komandan Al-Asyi, Tuanku Warul Walidin, juga menanggapi isu yang dikekuarkan oleh Setara Institute tentang Kota Banda Aceh sebagai kota intoleran.

Menyikapi hasil survei Setara Institute, Tuanku Warul merasa bahwa ada pengkebirian atau mendiskreditkan nilai-nilai toleransi yang ada di Kota Banda Aceh. “Pihak Setara Institute sebaiknya tidak perlu mencantumkan Kota Banda Aceh sebagai kota di dalam kategori tersebut”. 

“Terlihat mereka tidak paham akan sejarah peradaban Kota Banda Aceh yang sudah berusia 813 tahun yang sangat toleran dengan keberagaman agama dan bangsa yang ada di sini. Tidak pernah kita mendengar sejak dahulu ada pembakaran rumah ibadat, atau pengusiran satu etnis suatu suku bangsa, dan setiap umat beragam hampir rata-rata merupakan umat yang taat beragam sesuai agama mereka masing-masing,” kata Warul.

Warul mengatakan bahwa umat Islam di Aceh sepanjang sejarah tak pernah merendahkan dan menghina umat minoritas lain yang ada di Aceh, baik kepada umat Nasrani, Budha, atau Hindu.

Bahkan sampai sekarang pun Warul telah melihat sebagaimana saat tsunami 14 tahun yang lalu sifat toleransi di Aceh sangat jelas terlihat. Kejadian musibah itu telah mengantarkan banyak relawan dari hampir seluruh bangsa dunia ke Aceh, dan mereka telah merasakan bagaimana tolerannya masyarakat kota Banda Aceh.

“Malah sekelas Jakarta saja tidak pernah seramai Banda Aceh tingkat heterogensi masyarakatnya di saat para relawan dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Banda aceh dalam rangka rehab rekon dan pemulihan bencana alam di Aceh,” demikian kata Tuanku Warul Walidin.[] (rel)