Setelah Daud Beureueh turun gunung, harapan masyarakat Aceh untuk maju sesuai kepentingan budayanya pun berangsur menghilang. Kemudian zaman Orde Lama berakhir diganti Orde Baru, dan harapan itu kian terkikis.
Setelah zaman Oerde Baru berakhir dengan zaman Reformasi, bersamaan menguatkanya Gerakan Aceh Merdeka kembali di Aceh, harapan itun muncul lagi, bahkan lebih dari sekedar untuk maju, yakni saat itu ingin punya negara sendiri.
Tetapi harapan itu menghilang lagi ketika diberlakukan status Darurat Militer untuk Aceh pada tahun 2003. Tatkala musibah smong (tsunami) melanda, harapan itu datang lagi, bukan untuk maju tapi untuk aman. Harapan tersebut pun terwujud pada 15 Agustus 2005, MoU Helsinki.
Satu persatu harapan tumbuh, orang-orang tersembunyi hadir di hadapan masyarakat secara bebas, bendera terlarang pun menghiasi tiang-tiang di sepanjang jalan seluruh Aceh. Irwandi-Nazar yang dinaikkan oleh bekas pejuang pun terpilih jadi gubernur.
Namun keadaan tidak membaik, lalu harapan digantungkan pada terpilihnya orang-orang rakyat pada pemilu legislatif tahun 2009. Setelah para calon yang dinaikkan oleh partai bekas pejuang itu terlilih dengan suara terbanyak, perubahan yang diinginkan pun belum tiba. Maka, harapan digantungkan pada pemilihan gubernur 2012.
Itu pun terjadi, Zaini-Zakir yang dinaikkan Partai Aceh pun menang. Namun celaka, harapan yang digantungkan sejak 2006-2007 belum terlihat tandanya akan terpenuhi. Apa lagi?
Orang-orang yang diperlukan sudah menjabat di legislatif dan eksekutif di sebagian besar wilayah Aceh. Setelah para dewan itu memasuki dan menjelang selesai dua periode, Aceh belum juga maju. Aceh masih masuk ke dalam wilayah termiskin dan tertinggal dibandingkan beberapa wilayah lain. Ada apa ini?
Namun di tengah kegagalan para politisi itu, kita dapat menyaksikan, harapan hidup untuk maju dari masyarakat Aceh terhitung tinggi. Setelah banyak kegagalan dari politisi yang diharapkan, masih juga masyarakat percaya pada kampanye mereka.
Selama beberapa tahun terakhir saya memperhatikan hal tersebut, mengapa masyarakat masih percaya pada orang-orang ini setelah dipercaya sepuluh tahun masih gagal? Apakah para politisi itu jago berpidato di podium dan di kedai kopi? Hanya itukah senjatanya?
Ternyata tidak seperti itu, cara kampanye tersebut tidak berguna saat memperjuangkan bendera Aceh di hadapan orang Jakarta. Para politisi dari Aceh itu malah dipermainkan seperti anak-anak. Lalu mengapa orang Aceh memilih mereka? Ataukah gaya kampanye mereka hanya sesuai untuk orang Aceh karena kesamaan budaya dan berbeda dengan orang-orang di Jakarta? Tidak seperti itu juga.
Terakhir, saya menemukan bahwa orang-orang memang tidak percaya lagi pada para politisi ini, walaupun tetap dipilih saat pemilu. Lalu, mengapa dipilih? Di sinilah ajaibnya, ternyata harapan orang Aceh untuk maju masih besar. Orang Aceh adalah masyarakat optimistik. Mereka masih mengharap ada orang yang mampu memperbaiki Aceh.
Mereka tahu telah salah karena terlanjur mempercayai orang-orang yang kemudian diketahui tidak berkemampuan untuk memperbaiki nasib Aceh. Namun hanya orang itu yang ada untuk dunia politik di Aceh saat ini serta mereka mengenalnya. Maka, masyarakat pun memilih orang yang dikenal, walaupun sudah diketahui tidak mampu.
Keadaan ini terus terjadi, orang-orang lebih memilih orang bodoh sebagai wakil atau pemimpinnya daripada bergantung pada harapan kosong, yang orang-orang di dalam pemerintahan bukan dari orang-orang mereka. Di sini terlihat bahwa rasa keacehan orang Aceh masih kental dan harapan untuk maju masih tinggi.
Keadaan seperti ini menyediakan ruang revolusi sosial yang apabila nantinya ada orang kuat di bidang yang diperlukan dalam politik, akan mampu mengambil seluruh simpati dari orang-orang bekas perang yang tidak mengerti memimpin tersebut.
Lalu, apakah masyarakat akan percaya pada orang-orang baru itu nantinya. Ya. Rakyat hanya ingin Aceh maju, bukan menginginkan orang bekas pejuang dalam perang untuk memimpin. Perang, telah dinilai sebagai sesuatu yang salah tatkala para pelakunya orangnya diberikan kesempatan memimpin tapi gagal memperbaiki kerusakan sebelum perang. Dari perjalanan waktu yang ada, sekira kurang dari sepuluh tahun lagi, itu akan terjadi.
Peta sejarah akan berubah lagi, itu hanya karena harapan hidup dan maju dari orang Aceh selalu ada di dalam darah mereka. Ini membuktikan, jurus terakhir (pamungkas) kafir Belanda yang diusulkan Snock gagal total untuk Aceh. Sikap optimisme Aceh akan selalu ada selama Aceh itu ada. Kalau ingin mencari bukti optimistik secara kolektif, carilah di kampung-kampung seantero Aceh.[]
Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025.




