Kee awak Paloh, pakon, teuman?
Itulah kalimat barbar dari kami anak-anak Paloh, dulu, saat bertengkar dengan anak-anak lain di mana saja, baik di Cunda, Krueng Geukueh, atau tempat lain yang kami datang berkelompok, membuat kekacauan dengan anak lain seusia sebisanya, lalu pulang.
Sebelum bicara tentang karakter anak Paloh dulu, mari kita kenal dulu Cot Panggoi.
Cot Panggoi itu adalah sebuah bukit karang sekira kurang satu kilometer dari pantai, dan sekarang pantainya sudah jadi pabrik penyuligan gas sejak 1970-an. Tapi Cot Panggoi masih Cot Panggoi, dan sekarang dijadikan tempat wisata Goa Jepang atau Kurokrok, di Blang Panyang, Lhokseumawe (Teluk Samawi). Cot Panggoi ini sebenarnya masuk ke dalam beberapa Gampong, yaitu Blang Panyang, Panggoi (?), dan Paloh Dayah.
Namun pihak Pemerintah kota Lhokseumawe yang mempromosikannya menyatakan itu di Gampong Blang Panyang, karena yang mengurus itu orang Blang Panyang (?) atau karena mereka tidak bisa melihat Paloh Dayah yang indah menawan ke selatan bukit itu.
Aku tidak tahu jumlah pasti kurukrok itu, belum pernah menghitungnya, dan sudah sekira lima tahun tidak ke sana. Ada yang kecil ada yang besar, ada yang luas ada yang sempit. Itu adalah benteng yang digali atas perintah para Samurai dari Jepang yang dijadikan tentara oleh Kaisar pada perang dunia II untuk menguasai Asia.
Samurai? Seperti di film-film? Ya, betul. Kaisar Jepang mengambil para Samurai untuk tentaranya dalam perang itu. Mereka adalah ksatria kelas utama, yang tunduk patuh pada pemimpin tanpa membantah satu kata dan kelakuan pun. Bushido. Mesin pembunuh yang paling efektif.
Mendarat dari arah Banda Aceh, untuk wilayah Lhokseumawe, Jepang bikin markas di Blang Pulo, dan area markas di luar pagar adalah Paloh Meuria, Blang Kumbang (Padang Sakti), Paloh Dayah, Blang panyang, Panggoi, dan lainnya.
Mereka melatih anak muda untuk menguasai bahasa Jepang dan teknik kemiliteran. Mereka menggaji para penduduk untuk menggali goa di Cot Panggoi, sesuai dengan desain mereka. Orang-orang di sekitar, termasuk Paloh Dayah menggali kurokrok itu. Dibayar normal.
Kurokrok itu baru satu sempat disemen, namanya kurokrok Ramulah. Itu kurukrok paling depan, paling dekat jalan raya, dan mengerikan. Dinamakan Kurokrok Ramulah karena di sana pernah dipenggal kepala seorang perempuan bernama Ramulah yang berilmu kebal dan diduga anggota PKI. Begitulah cerita aslinya, aku tidak tahu lebih detil. Kalau mahu tahu, tanyalah apa orang-orang tua di sekitar itu.
Menurut cerita dari almarhum ayahku, Tgk Sulaiman din Dadeh, para Samurai itu sebenarnya ingin menyemen semua kurukrok. Semen itu diambil paksa dari kedai milik Cina di kota Lhokseumawe. Orang Cina juga dipaksa kerja menggali kurokrok tanpa gaji, kadang tanpa dikasih makan dan minum, dilarang istirahat. Perlakukan mereka pada Cina, musuh utama dan turun temurun bangsa Jepang, berbeda untuk Aceh. Orang Aceh dianggap kawan oelh Jepang. Itu jika mereka tidak tengah ditugaskan mengambil seluruh padi dan pakaian milik masyarakat, sampai harus memakai goni sebagai pakaian.
Cukup sebegitu cerita kurukrok, kalau mahu tahu lebih lengkap, tanyakan pada orang dinas kebudayaan Lhokseumawe dan orang-orang tua di sekitar bukit karang itu.
Sekarang, kita masuk bagian inti cerita. Tentang perkelahian anak Paloh di Cot Panggoi. Saat itu aku tidak ingat pasti, tahun berapa. Tapi itu sekira tahun 1990. Aku baru tamat MIN. Entah karena apa awalnya, tapi perkelahian begitu memang sering terjadi. Tapi sebelum kuceritakan perkelahian itu, kuceritakan dulu karakter kami saat itu dan beberapa perkelahian yang lain.
Begini siklusnya. Karakter kami saat itu adalah suka berkelahi. Sesama satu kampung, bahkan antar jurung dalam sebuah gampong.
Kalau di Paloh Dayah, itu ada Rot Barat, Geunteng, Cot Paya, Loh Angen. Di Paloh Meuria itu ada awak Sukon, Awak Keude (Paloh), awak Keudee Baroh. Tidak cukup itu, ada awak jurung-jurung lagi. Di sana ada jurung (lorong) Panah, jurung Damai, dan ada awak Blang Panyang.
Di gampong lain, sekitar itu juga begitu. Oleh karenanya, tidak perlu diherankan, kalau perang terbesar di sekira tahun 1990 karena ada tokoh perlawanan yang hebat di masa itu, di antara banyak yang lainnya, ada satu yang paling terkenal, Raman Paloh. Maka, tahun 1990-an yang diterapkan DOM itu ada kaitannya dengan Raman Paloh, orang yang kami kagumi, tapi kami tidak mengenalnya.
Sementara di era setelah DOM dicabut, itu tokohnya ada Ahmad Kandang. Nah, karakter orang Kandang dengan Paloh ini hampir sama. Makanya dulu, ketika ada turnamen Muara Dua Cup yang dibikin oleh PT Arun, sebelum Kecamatan Muara dua dibelah menjadi Muara Dua dan Muara Satu, lawan terkuat orang Paloh dalam tanding bola itu adalah Kandang. Bukan tanding bola saja. Itu perkelahian pasti ada.
Kalau dua klub itu bertanding, biasanya di final, maka lapangan dan tribun penuh sesak sampai ke jalan. Seru, sepak bola diiringi sikap ego kekampungan, seakan-akan itu sebuah perang besar yang mempertaruhkan harga diri dan harkat martabat bangsa. Padahal hanya tanding bola sepak.
Selain dengan Kandang, perkelahian pasti terjadi apabila lawanya adalah Blang Pulo, kampung selang satu dari Paloh Meuria. Padahal sama-sama Paloh.
Selain Paloh dan Kandang, karakter suka berkelahi ini dulu juga muncul di Keudee Cunda dan Pusong. Istilah yang kami dengar saat kanak-kanak kala itu, ada preman Cunda, ada Preman Pusong. Makanya, kalau sudah ingin berkelahi, anak-anak Paloh tinggal datang berkerumun ke Keudee Cunda atau Keude Pusong di pusat Kota Lhokseumawe, pasti perkelahian terjadi, karena lawan sudah siap sedia.
Demikianlah itu bahwasanya ide perpecahan atau perkelahian tidak perlu diajarkan pada kami, karena kami lahir dan dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, dan menganggapnya sebagai hiburan.
Lalu jika begitu karakter kami, apakah di sana tidak ada orang ulama atau orang pandai bidang agama atau akademisi ulung? Bahkan tokoh besarnya kami punya. Di sana ada ulama kharismatik, Tgk H Muhammad Thaib. Juga ada anaknya yang pendiri dan pimpinan Pesantren Modern Darul Arafah di Sumatra Utara, anak dari almarhum Tgk H Muhammad Thaib. Ia juga pendiri pesantren modern (dayah terpadu) Misbahul Ulum Paloh, yang mendapat peringkat terbaik di Aceh. Orang-orang dari mana saja belajar ke sana. Lalu, apakah orang-orang mendengar nasehatnya? Tanyakan pada orang-orang di sana.
Tapi orang-orang Paloh, setelah masuk masa konflik Aceh 1999, mereka mulai bersatu karena sudah ada musuh bersama yang lebih besar. Orang-orang kandang, Pusong, Cunda, dan lainnya juga begitu. Begitu juga orang Buloh, Nisam, dan semuanya di seluruh Aceh. Mereka bersatu, melawan musuh yang lebih besar.
Bagaimana dengan masyarakat Paloh sendiri? Orang-orang yang dikenal sebagai tokoh setempat, bahkan yang paling kasar sekalipun, entah bagaimana, mereka mulai mengikuti pengajian rutin di masjid. Dan kemudian mereka adalah orang-orang yang menegakkan agama di sana sampai kini. Paloh telah berubah. Total. Entah bagaimana, kami menjadi orang yang sangat menghormati ulama. Jangan kaucoba-coba menghina ulama di hadapan orang Aceh, bisa terjadi perang besar.
Kalau kita ajak berkelahi dengan mereka sekarang, maka orang-orang Paloh (apalagi yang terlibat langsung perkelahian di masa kecil aatu muda mereka), akan tertawa terpingkal-pingkal karena teringat masa beberapa puluh tahun lalu, saat mereka sering berkelahi.
Di masa itu, pernah seorang geuchik Paloh Meuria ditangkap oleh polisi di polsek Batuphat. Orang-orang datang ke kantor polisi itu entah berapa truk, sepertinya satu kampung ke sana semua. Mereka menghardik polisi di pos itu, menrampas makanan-makanan di rak pasar malam. Apa boleh buat, geuchik itu dibawa pulang dengan santun.
Oh, aku hampir lupa tentang janji tadi, cerita perkelahian anak Paloh di Cot Panggoi.
Ini ceritanya. Kami anak Paloh Dayah, saat itu bermusuhan dengan anak Meunasah Sukon (nama resmi Meunasah Meuria dulu), khusus dengan anak sekitaran meunasah. Pernah terjadi perkelahian pada suatu malam, ada yang terluka karena irisan pisau. Itu terjadi di balai pengajian milik almarhum Tgk Muhammad Thaib. Itu dekat Meunasah Sukon.
Anak meunasah Sukon ini juga bermusuhan dengan anak keudee Paloh (satu geuchik dengan anak Sukon), juga bermusuhan dengan anak Kudee Baroh (satu geuchik dengan anak Sukon). Kami, di Paloh Dayah, waktu itu cuma beberapa orang saja yang suka berkelahi, karenanya kekurangan orang.
Sementara anak Meunasah Sukon, mereka itu berjumlah banyak dan semuanya suka berkelahi. Jadi, kami kalah jumlah. Sudah terbukti, perkelahian yang terjadi di malam itu ada yang terluka, yang terluka itu adalah kawanku, kami tidak mau membawa pisau. Aku juga, karena lawan membawa pisau, aku pun membawa rantai dan memakai ikat kepala kain putih bertulis 'marabattas” dengan cat merah. Marabattas (Manusia rantai batu Thayeb Sulaiman).
Aku tidak ingat lagi, entah mencari sekutu anak Keudee Paloh atau Keudee Baroh saat itu. Yang pasti perjanjian perkelahian pun disepakati. Di Cot Panggoi. Pada pagi Ahad. Sebenarnya, Cot Panggoi itu adalah tempat yang buruk untuk berkelahi, karena medannya sulit. Kita sudah kehabisan tenaga saat mendaki bukit itu, jadi ketika mahu berkelahi, itu adalah waktu untuk istirahat, sebenarnya.
Di pagi itu, anak Paloh Dayah naik ke Cot Panggoi lewat Cot Paya (Paloh Dayah bagian Timur). Dan, anak Meunasah Sukon datang lewat Kurukrok Ramulah, Blang panyang. Itu adalah alam yang indah, bukit karang, dan ilalang semak belukar. Kami menyeruak ilalang di jalan setak punggung bukit. Ketika sampai di bagian puncak bukit yang disepakati, terlihat anak Meunasah Sukon di turunan seberang, maka kami saling berteriak, saling mengejek dan mengancam.
Tapi, tidak ada satu pihak pun yang berani maju ke pihak lawan, karena seacra alami kami memahami bahwa berada di puncak lebih menguntungkan, sementara turun ke lekukan punggung bukit sejauh seratusan meter itu adalah kesalahan, karena sulit untuk berbalik arah dan sulit menghadapi lawan yang datang dari arah ketinggian. Maka seperti itulah. Hanya terjadi perang mulut. Itu benar-benar tempat perkelahian yang salah.
Lalu, datanglah orang-orang dewasa mengejar kami, dan kami dari kedua pihak pun berlari kencang menaiki bukit dan menuruninya menaiki lagi turun lagi untuk pulang. Sebab, kalau diketahui orang tua kami bahwa kami berkelahi, maka urusannya lebih besar daripada perkelahian itu sendiri. Maka, perkelahian kelompok kami antara anak Paloh di waktu itu tidak pernah terjadi. Tapi, tentu saja pernah terjadi pada waktu dan tempat lain.
Pada suatu malam, aku pernah bertengkar dengan anak Padang Sakti. Karena mereka ramai, maka aku berbalik dan mengajak satu anak ulee kawan di Keude Paloh. Aku saat itu memang sering di Keudee Paloh, karena menginap di dayah komplek masjid di sana.
Pada malam yang lain kami datang mengeroyok anak itu. Mereka cuma beberapa orang. Namun urusannya menjadi besar karena kami berkelahi tepat di hadapan rumah seorang anggota polisi yang keluar mengacungkan pistol untuk menghentikan perkelahian yang menjadi perang anak antar kampung itu.
Akhirnya yang berurusan orang tua juga. Mereka harus membayar anak orang karena kami memukul anak orang lain dan membayar uang damai untuk keluarga itu. Setelah menulis ini, baru aku ingat bahwasanya aku pernah membuat kekacauan di masa kecil, dan aku pun tidak kenal anak itu lagi sampai sekarang.[]




