Kota Syah, Agustus 2023
Karya: Thayeb Loh Angen
Penyair dari Sumatra
Inilah Kota Syah, Agustus 2023
Inilah Kota Syah yang telah lama dijatuhkan
menuju impiannya yang mengapung di tanah
Langkahnya sama dengan ketika dia terjatuh
luka-lukanya belum pulih
tertatih-tarih.
Di sudut barat kota
sebagian rambut peneliti sejarah telah luruh
kepalanya kian membotak setiap membaca artefak
Orang-orang datang, berdecak
“Luar biasa, itu kerja yang mulia.”
Lalu mereka pergi
Esoknya, datang yang lain lagi
“Sejarah memang penting. Harus dilestarikan.”
Lalu, mereka menjauh, kembali ke mahligainya.
Para peneliti dalam kepungan abu masa lalu
terbatuk-batuk, matanya berdebu, suaranya parau
Di ruangan rapatnya tertulis
“Berikan sejarah haknya
Bangunlah kota dengan selera zaman ini
jangan merampas milik sejarah.”
Para peneliti kembali ke dalam debu artefak
Rambut-rambut memutih dibalut serbuk fosil.
Di timur kota
para sarjana menyusun laporan di rak kayu
menyiapkan laporan baru
Dari balik jendela kerjanya
ia kehabisan tenaga
Di tengah kota
para politisi membagi-bagikan tumpukan hidangan
menuruti amanah partai dan dermawan kampanye
menuruti daya kerja para kawula.
Begitu sampai pada rakyat, hidangan tinggal sisa
tahun berlalu, masuk tahun baru, berulang begitu
Hidangan rakyat dibagi di meja judi terlarang
para pengusaha melihat peluang
membawa pisau tajam, piring perak terbaik
membagi-bagikannya kepada para politisi
Lalu. mereka pulang dengan piring-piring penuh
Sementara di bagian lain kota
orang-orang mencangkul di sawah
benih dan pupuknya utang dari tengkulak luar kota
Benih ternak dan bibit tanaman dari negara
sampai ke petani menjadi ampas
saripatinya dibagikan di piring-piring perak terbaik
diisi ratusan kilometer jalan, ratusan bangunan
miliaran Rupiah belanja kebudayaan dan pendidikan
miliaran Rupiah belanja kesehatan
miliaran Rupiah belanja penguat ekonomi rakyat.
Piring-piring perak terbaik itu selalu penuh
Walaupun kemarau datang tanah kering kerontang
walaunpun orang-orang di luar gedung itu
kurang makan, kurang gizi.
Inilah Kota Syah yang terjatuh
Yang lemah
menyerah mengusir penjarah
Handai taulan penyair
Kita adalah bintang di langit malam
Kita sentiasa menyalakan cahaya keadilan
Walaupun syair-syair kita
tidak menghantarkan keadilan ke setiap jiwa
tetapi setidaknya, menjelmakan harapan baru.
Banda Aceh, 5 Agustus 2023.
Thayeb Loh Angen
Penyair dari Sumatra.[]







