Potret Tanah Kita

Malam dan siang memberi cerita

dari kurun yang lama

dari sebelum disebut Nusantara

atau Indonesia.

 

Tentang tanah yang basah, molek dan ranum

Tempat bermanja segenap imajinasi

dan di atasnya dibangun narasi ketuhanan dan

keadilan.

 

Tanah kita bagai cermin kita jua

ke ujung mana kita melirik, harapan dan kepincangan masih terus menjadi tesis atau semata asumsi tentang esok yang lebih baik.

Sekarang kita tidak hanya berlomba dengan diri sendiri tapi juga dengan siapa saja di luar kita, lewat industri, infrastruktur,  sistem nilai dan harga diri.

Tanah kita sejatinya selalu cocok untuk menyemai setiap mimpi dan perbaikan. Tapi, mungkin, orang orang yang menggamit dan membajak tanah itu memiliki mimpi yang buruk untuk dirinya dan masa depan kita.[]

Penulis: Taufik sentana

Peminat Literasi sosial. sedang menyusun Buku Puisi “Password Kebahagiaan”.Menetap di Aceh Barat.