Oleh Taufik Sentana*
Teman Hujan
Adakah teman hujan,
selain daun daun dan bebatuan?
Dimanakah akar dan tanah kering?
Ada sepotong bunga merekah malu
sedang di sampingnya
rindu terjepit dalam ingatanmu.
Pesan Hujan
Aku ingin jatuh dan tumpah
menjadi ladang ladang
atau luapan dendam
dari serakah dan bodoh.
Aku ingin bermain denganmu
sambil membaca pujian
atau membasuh kealpaanmu yang akut.
Suara Hujan
Selain seperti suara ibu,
suara hujan seperti suara kekasih,
ia suara yang kurindu,
saat ia jatuh perlahan satu satu
dan menyeka daun daun lusuh
menyentuh dan merayapi batang pohon
hingga menjadi senyap di urat bumi.
Rumah Hujan
Pernahkan hujan
menginap di rumahmu?
Menatap ruang tamu
mengisi ruang tidur
dan berhias di halaman belakang.
Keesokan hari, sekeliling pagarmu
ditumbuhi bunga bunga kecil warna warni.
Mata Hujan
Pada mulanya mata hujan
memandang kehidupan,
sebagaimana dulu
jutaan tahun lalu
hujan turun
dan menenteramkan ekosistem
setelah panas yang panjang
atau badai yang garang
Kini mata hujan itu memandangmu
dengan campuran logam pabrik
dan partikel debu.[]
Taufik Sentana
Guru, peminat seni, sains dan kreativitas. Sedang merampungkan Antologi Puisi Password Kebahagiaan.






