Oleh Taufik Sentana*
Rembulan yang Turun di Malam Bisu
Rembulan turun di malam bisu
membawa cahaya ranum dan hangat
menitipkan bias mentari yang lelah berdebu.
Rembulan turun dengan selembar kisah
tentang daun daun hijau dan bunga bunga putih,
tentang kelopak zaman yang menua oleh asap.
Rembulan mengintip dari balik jendela kaca yang lebar di antara celah pepohonan yang angkuh
dekat kolam pemandian anak anak kecil.
Ada keindahan yang terselip dan tersingkap oleh tiupan angin yang mengoyak luka.
Rembulan menjauh saat pagi menyeruak asa
saat kisah baru akan segera dituliskan.
Orang orang mencari rembulan yang turun tadi malam, menyusur jalan jalan aspal, membelah semak semak. Mencarinya ke ujung waktu hingga malam datang kembali:
Apakah rembulan akan selalu turun di malam hari?
Rembulan yang Cahayanya Berguguran
Engkau perempuan,
Rembulan yang cahayanya berguguran
oleh angin zaman yang menakutkan
saat pintu pintu bebas terbuka
dan orang orang berkata:
engkau perlu dilepas dari ikatan usang
sambil mematut diri pada cermin norma
yang disepakati bersama.
Engkau perempuan, rembulan yang cahayanya
berguguran satu satu, menimpa rumah rumah
menimpa ranting ranting
terurai di tepi jalan.
Sebagian cahayamu mengendap menjelma kemuliaan yang lain.
Rembulan Jatuh di Taman
Orang orang sibuk memungut sisa cahayamu
membawanya ke sudut sudut pustaka.
Malam tak akan kehilanganmu
sebab keindahan telah tergantikan
oleh polesan industri.
Disini, di taman ini, sisa sisa cahayamu
yang berserakan akan disatukan kembali menjadi hiasan pengantin.[]
*Taufik Sentana
Guru, peminat seni, sains dan kreativitas. Sedang merampungkan antologi puisi “Password Kebahagiaan”.



