Mimpi mimpi belum juga padam
seperti api dengan jilatan lidahnya.
Waktu telah remuk-redam
dengan sedikit dendam
yang diselimuti maaf.
Mimpi terus menggantung
berdenyut dengan lipatan malam
atau berlari saat pagi dan siang.
Tidur ingin merangkul mimpi itu,
membuatnya bisu
atau mungkin mensucikannya
agar menjadi kisah abadi.[]
Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik


