Oleh: Juanda Djamal
Ketua Fraksi Partai Aceh di Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Besar Periode 2019-2024.
Pada Gugusan Pulo Aceh terdapat lima pulau besar, antara lain: Pulau Nasi, Pulau Breuh, Pulau Kreuse/Teunom, Pulau Bunta, dan Pulau Batee. Di antara lima pulau tersebut, hanya pulau Batee yang tidak ada penghuninya. Pulau Bunta dan Teunom sudah berpenghuni dan pemukimnya sempat mendirikan gampong, tetapi gempa dan tsunami tahun 2004 mengosongkan pulau ini.
Sejarah membuktikan, kemakmuran Pulo Aceh dan kesuksesan masyarakatnya. Konon, masyarakat yang mendiami kawasan Pulo Aceh sudah ada sejak abad ke-12 Masehi, di mana raja Aceh mengirimkan 25 orang dari beragam keahlian untuk mendiami kepulauan ini.
Umumnya, menjadi petani dan nelayan adalah sumber penghidupan bagi warga di sana, terutama masyarakat Pulau Nasi dan Pulau Breuh. Hanya saja, keadaan sosial di antara kedua pulau ini, justru pulau Nasi lebih homogen daripada pulau Breuh yang cenderung lebih heterogen. Pulau Breuh memiliki 12 gampong dan Pulo Nasi ada lima gampong, jadi Pulau Breuh lebih luas.
Menurut beberapa sumber, Pulo Aceh ini memang sudah sejak Belanda dipoles sedemikian rupa, sehingga mercusuar Williems Toren III yang didirikan tahun1875 menjadi fakta sejarah hari ini. Nama tersebut diabadikan dari nama Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk (1817-1890), raja Luxemburg yang giat membangun ekonomi dan infrastruktur di wilayah jajahan Hindia Belanda. Mercusuar ini hanya ada tiga, selain Pulau Breuh hanya ada di Belanda dan pulau Karibia.
Tentunya, apa yang sudah dilakukan oleh raja Aceh di abad ke-12 dan Langkah Williems Toren patut menjadi semangat kita hari ini. Di mana, infrastruktur dan ekonomi menjadi langkah strategis yang dapat kita lakukan hari ini, tinggal lagi kita atur rencana membangun ekonomi Pulo Aceh bak “Mutiara” tersebut. Jadi, BPKS dapat berperan menyiapkan infrastruktur dan Pemerintah Aceh Besar dapat mengambil peran dalam membangun ekonomi dan layanan dasar lainnya.
Konon cerita dari beberapa orang tua, ditabalkannya Pulau Nasi dan Pulau Breuh sebagai nama kedua pulau tersebut, dilandasi oleh jaraknya daratan ke pulau. Jika ke pulau Nasi, mereka bisa membawa nasi saja karena tidak perlu menginap di sana. Sedangkan jika ke pulau Breuh, siapapun yang datang ke pulau ini harus membawa “Breuh/beras” karena tidak bisa pulang-pergi dalam sehari alias harus menginap.
Namun, cerita lain juga ada, maka perlu dikaji lebih dalam agar pengetahuan tentang Pulo Aceh bisa memberikan pembelajaran bagi generasi selanjutnya.
Kelima pulau memiliki pegunungan yang hijau dan garis pantai yang menyuguhkan panorama pantai pasir putih dan bebatuan yang indah. Hal tersebut menyebabkan Pulo Aceh cocok untuk perkebunan dan bercocok tanam. Selain itu, pulau ini juga memiliki daya tarik wisata internasional yang eksotis, serta kaya hasil laut dengan biota laut dan jenis ikan yang beragam. Menurut nelayan setempat, ikan tuna yang kaya gizi menjadi titik akhir migrasi dari laut Pasifik, makanya nelayan pemburu tuna memarkir kapal/boat mereka di kawasan kepulauan Aceh.
Pulau yang kaya sumber daya alam ini sepatutnya kita kelola secara berkelanjutan, artinya, ”mengelola potensinya untuk kepentingan memajukan ekonomi Aceh, namun tetap mengedepankan budaya dan lingkungan, sehingga generasi kita berikutnya tetap bisa melanjutkan pengelolaannya tanpa merusak”.
Mari Berkunjung ke Pulo Aceh
Bagi penulis, ini adalah pengalaman kedua berkunjung ke pulau Nasi. Kunjungan pertama saat selesainya pelabuhan Lamteng. Saat itu masih mengabdi dengan tugas-tugas Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias tahun 2008.
Kunjungan kedua ini tidak lepas daripada menunaikan janji dengan imum mukim baru pulau Nasi, yaitu Pak Azmi. Saya berjumpa beliau saat menjadi narasumber bimbingan teknis bagi imum mukim se-Kabupaten Aceh Besar tahun 2020. Kebetulan saya menjadi pembicara pengganti daripada ketua DPRK (Dewan Perwakilan Rakyat) Aceh Besar 2019-2024. Saat itu beliau mengundang saya,” Insya Allah, saya penuhi janji tersebut”.
Bersama saya, ikut juga dua kawan dari wilayah Samudera Pasee, yaitu Teuku Murdani yang tengah menyelesaikan studi di Canberra Australia, ahli pembangunan internasional, juga pengajar di UIN Ar-Raniry. Seorang lagi adalah Jabar Abdullah, polisi muda, yang menjabat sebagai anggota Humas di Polda Aceh. Kunjungan ini dibantu secara teknis oleh Sekcam Pulo Aceh dan seorang anak muda Pulo yang berfikiran maju, voluntarism, memiliki pengabdian tinggi dan kemauan/keinginan untuk mengembalikan kejayaan dan kemakmuran Pulo Aceh, yaitu Safwan.
Tentunya, ini bukanlah kunjungan kedinasan yang membawa Surat Tugas (saat BRR dulu) ataupun SPPD (anggota DPRK Aceh Besar). Jadi, perjalanan ini layaknya jak meujame/silaturahim menunaikan janji berkunjung dengan Tgk Imum Mukim.
Kenapa saya ajak Murdhani? Karena, katanya dia sekolah di negara maju, Australia, punya banyak referensi atas pembangunan wilayah di belahan dunia. Saya tantang beliau, cobalah aplikasi ilmunya di kawasan yang ada “success story”, tetapi mengalami kemunduran, sehingga serpihan harapan yang tersisa pada generasi muda seperti Safwan dan saya sendiri bisa dikumpulkan menjadi kapital baru dalam menggali potensi alam Pulo Aceh. Kita kelola potensinya agar anugerah Allah ini bisa kita jaga sampai generasi berikutnya.
Pemikiran saya di atas, sebagaimana kata guru ngaji saya, Tgk Muhammad Amin di Dayah Bustanul Ulum Bueng Syin, Lamlheu-Sibreh, sebagaimana dikutip dari kitab Sirus Salikin karya Syekh Abdus Samad yang bahwa ilmu menjadi pangkal segala perbuatan kita. Kita salat, berpuasa, dan menunaikan segala rukun Islam, ilmu menjadi faktor penentunya.
Begitu pula jika kita membangun negeri “Aceh” tanpa ilmu pengetahuan daripada generasi Aceh maka negeri kita tidak akan pernah kembali pada kemandirian dan kemakmuran.
Makanya, mengembalikan kejayaan Pulo Aceh, Aceh Rayek ,dan Aceh, haruslah dengan ilmu pengetahuan, agama maupun ilmu teknis lainnya. Mengedepankan uang/anggaran semata maka tidak akan pernah selesai daripada perdebatan cukup dan tidak cukup, puas dan tidak puas.
Sebenarnya, Islam telah mengajarkan kita atas langkah-langkah pembebasan agar kita dapat keluar dari segala persoalan di dunia ini. Allah menciptakan alam untuk umat manusia, meskipun malaikat memprotes atas rahmat Allah untuk manusia. Allah menjawab kepada malaikat bahwa manusia adalah khalifah, sebagai khalifah maka mereka akan jauh dari segala pertumpahan darah dan menjaga lingkungan. Tentunya, dua kriteria khalifah tersebut menjadi tantangan bagi kita, akankah kita menjadi khalifah atau kah kita menjadi makhluk yang merusak bumi Allah ini.
Kembali lagi ke pengalaman perjalanan ke Pulau Nasi, meskipun hujan turun rintik-rintk karena semalaman hujan dan angin kencang, Jumat pagi 2 April 2021, sekira pukul 07:15 pagi kami putuskan tetap berangkat.
Kata Jabar lewat WAG, ”Jangan ragu, karena ragu itu berbahaya.”
Maka, sekalimat kemudian, saya tegaskan, ”Ayo bungkoh bajee, dan kita bergerak ke Pelabuhan.”
Dalam waktu yang hanya 30 menit, kami berupaya untuk segera menginjakkan kaki kami di KMP Papuyu. Meskipun orang di rumah khawatir dengan cuaca, tetapi kami ambil keputusan untuk berangkat.
Hujan tidak berhenti, dalam keadaan rintik-rintik, kami langkahkan kaki menaiki tangga ke lantai dua KMP papuyu. Pak Nakhoda segera meniup terompet bertanda kapal segera berangkat, sedangkan ABK mulai menutup tirai agar air hujan tidak membasahi penumpang. “Jangan sampai banjir di deck penumpang,” kata ABK sambil tersenyam-senyum.
Terlihat wajah sejumlah penumpang, para ibu, bapak, dan anak-anak. Terlihat wajah mereka agak khawatir dengan cuaca. Kami pun demikian, bahkan salah seorang warga Pulo, Bang Nasir, beliau berharap pada Allah agar kapal bisa merapat ke Pelabuhan. Menurutnya, pernah juga kapal tidak bisa merapat karena faktor cuaca sehingga kembali ke Ulee Lheue. Saya memberi harapan, “Sebagusnya kita berdoa agar perjalanan di lindungi oleh Allah SWT dan kita bisa merapat.”
Kami bertiga mengambil tempat duduk agak dekat dengan baju pelampung, “safety first”,” kata Doto Murdani.
Sambil berforo-foto di atas kapal, kami juga sempat berinteraksi dengan pemuda Pulo dan menanyakan perkembangan-perkembangan Pulo Nasi, karena kami bertiga masih kurang pengetahuan tentang Pulo Aceh, khususnya Pulo Nasi.
“Bekal selama perjalanan sudah disiapkan oleh Jabar,” kata doto Murdani. “Makanlah, Juanda, supaya kita kuat, jangan sampai lapar kita.”
Meskipun hujan dan angin menerpa, kami tetap menikmati perjalanan ini dengan menyeruput kupi-susu dan nasi prang dengan lauk eungkot suree keumong, ikan favorit saya.
Sepanjang perjalanan, hujan semakin lebat. Pulau dan dermaga tak terlihat, tetapi monitor Pak Nahkoda menunjukkan posisi kapal sudah tidak terlalu jauh lagi dengan daratan. Saya menggerutu, “Alhamdulilah, sudah mendekat dan mudah-mudahan kapal bisa merapat.”
Alhamdulillah dengan izin Allah, meskipun hujan disertai angin, KMP Papuyu tidaklah bergoyang dangdut dalam perjalanan, dan akhirnya, “Alhamdulillah kami mendarat di Pelabuhan Lamteng pukul pukul 10:15”.
Kapal siap merapat dan mobil minibus pemkab sudah menunggu. Semua penumpang diarahkan untuk naik bus tersebut dan dibawa kami ke kedai kopi sebelah luar pelabuhan. Ternyata, di sana sudah terlebih dahulu hadir Pak Sekda dan anggota DPRK Dapil II, Abdul Mukhti, bersama 20-an dokter yang melakukan bakti sosial “sunat masal” bagi anak-anak Pulau Nasi. Rupanya, rombongan Pak Sekda sudah tiba lebih awal menggunakan KM Peunaso, kapalnya Pemkab Aceh Besar untuk memudahkan mobilisasi tenaga pendidikan dan kesehatan menyeberang ke Pulo Aceh.
Saya dan kawan-kawan bergabung dengan rombongan dan duduk menanti selesainya pembersihan jalan. Para rombongan dokter rencana ke Pulau Deudap dan begitu pula kami. Tentunya kami punya cerita berbeda. Kami hanya ingin melihat Pulo Nasi secara langsung, menyelaminya dan bahkan kalau bisa menikmatinya, meskipun hanya 24 jam kami di sana.
Saat menyeruput kopi di kedai Kupi Lamteng, kepala saya langsung berpikir kali-kali, “Bayangkan kalau setiap hari ada pengunjung dari daratan ke Pulo Aceh sejumlah 20 orang, di mana setiap orangnya membelanjakan uang sekira 1 juta Rupiah, maka ada 20 juta uang akan berputar di Pulo Aceh. Jadi, transaksi dapat berjalan dan uang yang berdar di sana akan menjadi bola salju tumbuhnya ekonomi Pulo Aceh.”
Pertanyaan selanjutnya, ”Apa yang bisa mereka belanjakan?” Tentunya saya tidak bisa menemukan jawaban ini, karena baru saja tiba.
Tapi saya yakin, dengan kehadiran Papuyu maka ekonomi Pulo Aceh akan hidup, karena bicara investasi maka pra-syaratnya adalah pelabuhan yang didukung oleh kapal penumpang/barang yang rutin berlayar, juga keberadaan jalan tentunya. Namun, apa langkah yang mesti kita ambil agar kita mampu menyiapkan produk. Khusus Pulo Aceh, rasanya mereka memiliki produk, tetapi selama ini, istilah Aceh “kada” diambil pihak luar Pulo Aceh. Namun, bagaimana “kada” tetap menjadi miliki masyarakat Pulo, ya, itulah tantangannya.
Secara perlahan, menurut saya, ”Kita ajak orang supaya beramai-ramai berkunjung ke Pulo Aceh, karena selain terjadinya transaksi dengan produk yang ada, maka interaksi sosial yang terbangun akan sangat membantu transfer knowledge. Langkah bersama inilah yang dapat menjadi kekuatan untuk mengembalikan “Qada” pada warga Pulo Aceh.[]
(Bersambung ke Bagian 2 dari 3 bagian)








