Oleh: Juanda Djamal
Ketua Fraksi Partai Aceh di Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Besar Periode 2019-2024.
Kultur Sosial Pulo Nasi
Kunjungan kali ini hanya ke Pulau Nasi dalam waktu yang terbatas. Sesaat tiba, kami langsung berjumpa dengan beberapa orang masyarakat di kedai kupi. Mereka sangat ramah. Selanjutnya, saat ke mesjid untuk menunai shalat Jumat, saya pun berjumpa dengan orang-orang ramah tadi. Bahkan ada yang memang mengenal saya, karena saat pilkada yang lalu menjadi tim pemenangan Pak Cek-Juanda.
Pemilik penginapan juga sangat ramah. Meskipun penginapannya belum ada nama, tetapi jiwa bisnis Bu Mariani sudah terlihat. Suguhan makan siang dengan menu “keumamah peuleumak” dan “boh manok mata sapi sambai lado” juga sangat nikmat. Begitu pula makan malam, menunya “gurita tumis Pulo”, luar biasa sedapnya, dan kebetulan ada yang memancing ikan pada sorenya, kami pun dapat menikmati ikan panggang berjenis “eungkot taleung”.
Menikmati kuliner Pulo, saya teringat kata Azhari dan Reza Idria suatu ketika di salah satu kedai. Mereka berkeliling Aceh menemani Prof James Siegel. Katanya kuliner Aceh lebih enak setelah tsunami daripada saatnya tinggal di Aceh sekitar tahun 50-an. Pernyataan tersebut ada benarnya juga. Cita-rasa dua waktu makan di Deudap memberikan kesan menyedapkan. Saya yakin kalau beberapa hari saja bisa tinggal di Pulo maka berat badan bakal bertambah.
Alhamdulillah, sekembali dari keliling menikmati keindahan beberapa lokasi pantai putih, saya dan kawan-kawan berinteraksi lebih jauh dengan warga Pulo. Ketika menyeruput kopi di TPI Pasie Janeng, datanglah Jufri, alias Abu Ija Krong, nama panggilannya di era perjuangan GAM. Dia menyampaikan, salah satu tantangan di kawasan Pulo Aceh adalah pengeboman ikan.
”Pengeboman ikan menjadi isu besar yang jika kita tidak menghentikan maka memberikan dampak besar terhadap ikan dan keindahan laut di kawasan tersebut,” kata Abu Ija Krong.
Menikmati senja di Pasie Janeng, kami menyewa boat untuk menyusuri teluk Lampuyang yang dikenal dengan kuatnya “Aruih Lampuyang”. Menyusuri pantai Pasie Puteh sambil memancing ikan, kami menunggu datangnya sunset di kaki langit Samudera Hindia.
“Merah jingga menanndakan magrib segera tiba, keindahan buih ombak Teluk Lampuyang yang tiada tara, menandakan keagungan Allah memberikan alam yang kaya.”
Setelah menunaikan salat magrib, terdengarlah sayup siaran langsung pertandingan sepakbola antara Persiraja vs Persib Bandaung. Saya bergabung dengan Pak Sekda dan beberapa warga Pulo menonton pertandingan tersebut. Terasa sekali keberpihakan warga Pulo pada Persiraja, meskipun tidak hadir langsung, tetapi mereka tetap memberikan dukungan penuh.
“Alhamdulillah”, sambil tepuk tangan dan “horee” Torres bisa membalas gol sehingga skor 1-1, meskipun hasil akhirnya kalah, tetapi tidak menunjukkan kecewa di wajah mereka.
Malam itu, kami menunaikan salat isya berjamaah di masjid Pasie Janeng. Mesjid tersebut indah sekali, bersih dan tertata rapi taman rumputnya. Kita seperti berada di sebuah negeri yang berdaulat layaknya cerita dongeng para indatu.
Namun, memang benar, warga Pasie Janeng kompak dan memiliki visi yang jelas. Menurut Pj Geusyik Pasie Janeng, Alfian, dalam setiap rapat gampong, misalnya musrembang gampong, gampong yang berpenduduk sekitar 55 kepala keluarga ini menyampaikan ide-ide strategis. Dalam penggunaan dana gampong misalnya, mereka bersepakat untuk membangun Tempat Pendaratan Boat dan Ikan, karena kebutuhannya lebih jelas, agar warga lebih mudah untuk melaut. Begitu pula dalam hal pembangunan jalan, lebih tertata dan jauh dari kesan kumuh gampong ini.
Malam tersebut, kami bermalam di homestay gampong Deudap, kepunyaannya bu Mariani, tentunya homsestay ini kami sewa. Jadi setidaknya, dengan kami sewa maka uang mulai berputar di Pulo Nasi. Memang beberapa gampong lain juga sudah ada homestay juga, mulai tampak rencana warga Pulo untuk menyediakan fasilitas untuk para pengunjung. Jadi, bagi kita di daratan jangan khawatir, kalau ke Pulo kita tidak ada tempat menginap. Alhamdulillah, warga di sana sudah membangun penginapan-penginapan sederhana tetapi nyaman. Apalagi saat malam dan subuh hari, rasanya kita begitu dekat dengan makhluk alam lainnya.
Pagi Sabtu. Setelah bersiap-siap, saya menyempatkan diri untuk bersilaturahim ke rumahnya Yah Nek Wod, di gampong Alue Reuyeung dengan mengendarai motor bersama Dek Wan. Kami sampai di rumahnya hanya dalam hitungan menit, karena memang tidak jauh. Setelah bersalaman dan saya perkenalkan diri, beliau langsung ingat bahwa dulu saat kecil, saya sering ikut dengan mobilnya ke pantai Taman Tepi Laut. Memang di Gampong Lamlheu, beliau adalah salah satu orang yang berada. Makanya, kalau beliau pulang ke gampong sering diajak jalan-jalan dengan mobil pick-upnya yang buatan Jepang itu.
“Sebenarnya Pulo ini terkenal dengan cengkeh dan kelapa, tetapi saat cengkeh jatuh harganya pendapatan orang Pulo jadi menurun. Namun, saya mulai menanam lagi di akhir 1999. Meskipun ketika itu orang menganggap sia-sia, tetapi saat ini harga mulai bagus, walaupun berkisar Rp 65,000/Kg. Harga tersebut sama dengan 4 USD untuk pasar global, jadi lumayan tinggi, lah. Namun, kalau menanam kelapa juga bagus, kebun kelapa mesti diremajakan karena kelapa yang sudah lama ditanam sudah tidak produktif lagi,” jelas Yah Nek Wod, sambil menyeruput kopi pagi.
Tentunya, banyak hal yang diceritakannya, terutama pengalamannya dalam berbisnis, baik saat di Medan maupun Jakarta. Beliau berasal dari Montasik. Ya, para pebisnis ulung memang ramai lahir di Montasik.
Sekembali dari rumah Yah Nek Wod, kami mampir di rumah Pak Azmi, Imum Mukim Pulo Nasi yang baru terpilih. Sejak datang dan malamnya kami belum bersilaturahim karena keasyikan keliling menikmati keindahan Pulo Nasi. Padahal utamanya, bersilaturahim ke rumah beliau, tapi memang sejak Jumat Tgk Imum Mukim sangat sibuk karena persawahannya digenangi air hujan sehingga dia sibuk memperbaiki saluran.
Memang sejak kami tiba, hujan terus menerus turun. Terlihat jelas sekali air tergenang di mana-mana, mencari lokasi yang agak rendah, atau air tersebut langsung mengalir ke laut. Salah satu warga yang ada di sana curhat tentang itu.
“Begitulah adanya, saat air melimpah, kita kurang dapat memanfaatkannya sehingga airnya langsung ke laut. Semestinya bisa kita tampung dalam beberapa embung agar saat kemarau tiba, airnya masih bisa kita manfaatkan,” katanya.
Saya hanya bisa tersenyum mendengarnya, tanpa bisa menyahutinya, karena potensi alam Pulo yang kaya, tetapi kita belum bisa mengelolanya. Seharusnya kita sebagai pemerintah kabupaten Aceh Besar malu adanya.
Pemkab Aceh Besar harusnya malu, sering sekali ke Pulo Aceh, tetapi hanya bisa menikmati saja, hanya membuat pengharapan saja, tetapi tidak ada kebijakan yang strategis dapat kita buat agar potensi alam yang tersedia betul-betul dapat dimanfaatkan untuk menyejahterakan warga Pulo.
Sambil mempersilakan meminum kopi yang sudah dihidang oleh peurumoh imum mukim, Tgk Imum mengeluhkan beberapa hal yang berkenaan dengan kepemimpinannya. Namun, saya tidak menanggapinya secara mendalam. Memang harus kita dalami dulu permasalahan-permasalahan di Pulo Aceh, sehingga jelas langkah yang diambil, jika salah disikapi malah kita membuat masalah baru ke depannya.[]
(Bersambung ke Bagian 3 dari 3 bagian)








