LHOKSUKON – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara mencatat, 33 gampong di tiga kecamatan terendam banjir kiriman dari Bener Meriah, sehingga mengakibatkan meluapnya Krueng Keureutoe dan Krueng Pirak, Rabu, 17 Oktober 2018. Berdasarkan data sementara, jumlah pengungsi di Kecamatan Matangkuli mencapai 80 kepala keluarga (KK) atau 242 jiwa.
Hal itu diungkap Kepala BPBD Aceh Utara, Munawar, S.E., ditemui portalsatu.com/ di ruang kerjanya, Rabu malam. Dirincikan, 20 gampong yang terendam di Kecamatan Matangkuli meliputi, Alue Entok, Teumpok Barat, Hagu, Alue Thoe, Cebrek Pirak, Lawang, Tanjong Haji Muda, Mee, Parang Siekureung, Baroe, Blang Matangkuli, Tanjong Tgk Kari, Siren, Meuria, Pante Pirak, Leubok Pirak, Meunye Pirak, Teungoh Seulemak, Tanjong Tgk. Kari dan Punti Matangkuli.
Di Kecamatan Pirak Timu meliputi delapan gampong, yaitu Leupee, Ceumecet, Krueng, Rayeuk Pange, Bungong, Geulumpang, Beuracan dan Asan Krueng Kreh.
Sementara di Kecamatan Tanah Luas terdapat lima gampong yang terendam meliputi, Teupin Mee, Blang, Tanjong Mesjid, Serbajaman Baroh dan Rayeuk Kuta.
“Jumlah pengungsi saat ini, di Gampong Hagu 20 KK 43 jiwa, Lawang 18 KK 45 jiwa, Tanjong Haji Muda 14 KK 110 jiwa dan Siren 20 KK 35 jiwa. Saat ini mereka mengungsi di gedung evakuasi yang telah dibangun BPBD beberapa waktu lalu. Saat ini kita belum membangun posko di lokasi banjir, namun petugas sudah diturunkan ke lokasi, bahkan tadi ada wanita yang baru bersalin hendak berobat dan orang tua sakit juga telah dievakuasi di Gampong Hagu,” ungkap Munawar.
Menurut Munawar, saat ini ketinggian air di Kecamatan Matangkuli antara 20 centimeter hingga 1,5 meter. “Banjir ini masih dikategorikan kecil (tiga kecamatan), banjir besar itu 2014 di mana 26 kecamatan terendam. Penyebab banjir akibat hujan lokal dan banjir kiriman dari Bener Meriah. Jika di sana (Bener Meriah) hujan deras selama 5 – 6 jam, maka kita pasti banjir, khususnya yang berada di bantaran Krueng Keuretoe. Sejak awal memasuki musim hujan, kita BPBD Aceh Utara sudah siap siaga, baik anggota tim reaksi cepat (TRC) maupun peralatan seperti mobil rescue dan boat,” ujarnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Munawar melihat persoalan banjir di Aceh Utara tidak terlepas dari rendahnya tanggul sungai. Munawar berharap pemerintah Aceh Utara dan provinsi untuk memerhatikan persoalan ini.
“Aceh Utara saat ini kan sedang defisit, jadi saya harap pemerintah provinsi atau pusat bisa membantu anggaran melalui dana Otsus untuk pembangunan tanggul. Memang benar saat ini kita berharap banyak dari pembangunan Waduk Keureutoe, namun faktanya hingga saat ini belum selesai dibangun. Dalam penantian itu, banjir terus datang. Jadi kalau bisa pemerintah provinsi bantu Aceh Utara untuk penanganan darurat pembangunan tanggul di Krueng Keuretoe. Terkait jumlah anggaran yang dibutuhkan, setelah banjir surut, nanti kami akan melakukan koordinasi dengan dinas teknis untuk survei ke lapangan khususnya di wilayah imbas banjir untuk perhitungan kasar biayanya,” pungkas Munawar.[]



