BLANGPIDIE – Ulva Hayati meraih sejumlah prestasi dalam berbagai Kejurda dan Kejurnas. Namun, atlet cabang olahraga anggar putri asal Aceh Barat Daya (Abdya) itu mengaku selama ini kurang diperhatikan oleh pemerintah daerahnya.

“Belum ada bukti nyata kalau pemerintah daerah bantu saya sebagai atlet anggar. Padahal saya sering meraih prestasi dalam berbagai Kejurda dan Kejurnas,” kata Ulva Hayati saat wawancara dengan portalsatu.com/ di Blangpidie, 13 November 2018.  

Ulva Hayati tercatat sebagai warga Desa Pantee Pirak, Kecamatan Susoh, Kabupaten Abdya. Saat ini ia sedang menimba ilmu di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Sejak masih duduk di bangku SMA tahun 2012 hingga menjadi mahasiswi tahun 2018, ia masih aktif menjadi atlet anggar.

Sejumlah prestasi telah diraih putri Abdya itu dalam Kejurda, pra-PORA, dan PORA di tingkat Provinsi Aceh hingga tingkat nasional. Medali emas tingkat kadet Kerjurnas Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) tahun 2013 hingga medali perunggu beregu Kejurnas Anggar 2018 di Jakarta pun diraihnya.

Namun, Pemerintah Kabupaten Abdya sepertinya luput dengan kegemilangan prestasi yang diraih  gadis kelahiran Susoh 8 Agustus 1998 itu.  

“Saya asli putri Abdya, tapi ketika saya bertarung dalam berbagai Kejurnas di tingkat nasional, saya kayak bukan atlet dari Kabupaten Abdya gitu. Cukup miris, bang. Sebab atlet dari daerah lain mereka senang karena didatangi oleh ketua pengcabnya, dikasih bonus, uang saku. Kalau saya tak pernah didatangi,” tutur Ulva sedih.

Ulva satu-satunya atlet anggar dari Kabupaten Abdya yang ikut dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jawa Barat tahun 2015 maupun ketika meraih medali perunggu beregu di Kejurnas 2018 di Jakarta.  

“Seharusnya pemerintah daerah memberikan perhatian penuh kepada kami atlet. Karena kami ini bertarung demi mengharumkan nama daerah di tanah air meskipun baru medali perunggu yang saya raih,” ujar Ulva.  

 Ulva berharap Pemkab Abdya ke depan agar memerhatikan atlet-atlet yang bertarung dalam berbagai perhelatan baik di tingkat provinsi hingga nasional. Dengan adanya perhatian pemda, atlet menjadi lebih semangat saat bertarung mengharumkan nama daerah di dunia olaharaga.

“Harapan saya kalau bisa pemerintah daerah perhatikan kepada kami atlet-atlet. Karena dengan adanya perhatian dari pemkab, kami atlet bertambah semangat. Jadi, target saya sekarang bagaimana harus bisa ikut PON di Papua,” tutur Ulva didampingi pelatihnya, Surianto.[](Suprian)