BANDA ACEH – Anggota DPD RI dari Aceh Rafli Kande bersama dengan Pimpinan Dayah Taubatan Nasuha Hikmah Lamteuba, Abu Bukhari 'menghipnotis' masyarakat Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, di Lapangan Cot Sibati, Blangkrueng, Rabu, 2 Mei 2018, malam.

Panitia pelaksana kegiatan, Wahyu mengatakan, acara ini merupakan bentuk kerinduan Rafli Kande terhadap masyarakat Baitussalam khususnya Blang Kreung dan sekitarnya.

“Sudah hampir dua tahun kita merencanakan acara ini. Alhamdulillah, di tengah-tengah kesibukan Bang Rafli Kande, beliau juga menyempatkan diri untuk menggelar acara malam ini,” kata Wahyu.

Setelah itu, Abu Bukhari dan jamaah zikir pun menaiki panggung. Lapangan kebanggaan masyarakat Baitussalam itupun hening seketika. Perlahan lantunan zikir mulai menggema. Ribuan masyarakat larut dalam senandung zikir yang diiringi rebana. Rafli Kande pun naik ke atas panggung bersama anggota DPRA Ghufran Zainal Abidin untuk bersama-sama berzikir.

Setelah kegiatan zikir selesai, Rafli Kande memulai bait-bait syairnya. Syair “gisa bak punca” membuka syiar wawasan kebangsaan malam itu, dilanjutkan dengan lagu “puleh” dan “ubat hatee”. Masyarakat yang hadir begitu bersemangat.

Di sela-sela syairnya, Rafli menyampaikan bahwa Aceh pada abad ke-12 telah menjalin kerja sama yang baik dengan dunia luar, baik itu Turki bahkan Inggris. “Terbukti hingga saat ini surat bertintakan emas dari Sultan Iskandar Muda kepada Ratu Inggris masih tersimpan rapi di salah satu meuseum di Scotlandia. Ini menunjukkan bahwa Aceh pernah membangun kerja sama yang baik dengan negara-negara luar,” kata Rafli.

Rafli juga meyakini bahwa Aceh dimasa yang akan datang juga tak dapat dilepaskan dari budaya Aceh. “Jika budaya kita yang unik ini dilestarikan dengan baik maka orang luar akan tertarik, dan akan datang ke Aceh untuk melihatnya. Kalau orang luar sudah berduyun-duyun datang melihat peristiwa budaya di Aceh, maka ibu-ibu yang jual gorengan pun, dagangannya laku dan merasakan manfaatnya,” jelasnya.

Selanjutnya, lantunan lagu “ibu” yang menjadi soundtrack sinetron “Hapalan Shalat Dellisa” menggema. Masyarakat mulai larut dalam bait-bait syair lagu tersebut. Terlihat tetesan air mata tak dapat dihentikan dari pipi sejumlah kaum ibu yang berhadir. Syair itupun mengakhiri acara pada malam itu.

Turut hadir keuchik dan perangkat Gampong Blangkreung, pihak polsek, dan sejumlah tokoh masyarakat.

Apresiasi untuk Rafli Kande

Sebelum meninggalkan panggung acara, Pimpinan Dayah Taubatan Nasuha Hikmah Lamteuba Abu Bukhari mengapresiasi perjuangan Rafli Kande dalam mempromosikan budaya Aceh dan mensyiarkan Islam melalui lantunan syairnya.

“Alhamdulillah, di tengah-tengah aktivitasnya yang padat, Rafli Kande tetap menyempatkan diri bersama-sama kita pada malam ini. Patut kita apresiasi perjuangan beliau dalam menyampaikan syiar islam ke berbagai pejuru dunia,” ungkapnya.

Menurut Abu Bukhari, syair dan lagu ataupun rebana itu hanyalah alat, yang lebih penting makna pesan yang disampaikan merupakan dakwah.

“Sebagaimana para pendahulu kita Syekh Hamzah Alfansuri, Syekh Abdurrauf As-Singkily yang mengajarkan kita untuk terus menyampaikan syiar Islam melalui syair-syairnya. Kita berharap upaya syiar yang dilakukan ke luar tersebut dapat menyentuh pihak di luar untuk tertarik masuk ke dalam Islam,” pungkasnya.[](Rel)