JAKARTA — Anggota DPD RI asal Aceh Rafli Kande meminta pemerintah memberikan perhatian khusus kepada para guru.

“Kami meminta kepada pemerintah agar memperhatikan nasib para guru, agar mereka tidak lagi terjerat dengan kredit-kredit yang membuat mereka tidak bersemangt dalam mengabdi,” ujar Rafli Kande melalui siaran pers, Sabtu, 25 November 2017.

Selaku mantan guru Rafly mengatakan, hal ini mereka lakukan karena gaji para guru sangat terbatas sehingga jumlah guru di Aceh yang terikat kredit sangatlah banyak, hal ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Gaji mereka para guru sangat terbatas apalagi itu guru kontrak ataupun guru honor, sangat memprihatinkan. Terkadang juga sangat miris ketika kita lihat adanya keterlambatan pembayaran gaji atau tunjangan-tunjangan terhadap guru. Padahal mereka harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagaimana mereka bisa fokus mengajar dan mendidik para siswa, jika haknya selalu diabaikan,” timpalnya.

Belum lagi, jika dilihat pengorbanan guru-guru daerah terpencil, mereka harus mengabdi di pelosok-pelosok untuk mendidik dan mencerdaskan generasi.

“Pemerintah yang baik tidak akan mengabaikan nasib para guru, kalau bukan karena jasa guru, seseorang tidak akan mungkin jadi presiden, gubernur, bupati dan sebagainya,” ujarnya.

Rafli menuturkan, dulu ketika Naga Saki dan Hiroshima dibumihanguskan pada perang dunia. Pihak yang pertama dicari dan dikumpulkan kembali oleh pemerintah Jepang adalah guru.

“Mereka yakin dengan masih adanya guru mereka masih punya harapan dan peluang besar untuk mendidik generasinya dan membuat bangsanya kembali maju. Alhasil mereka hari ini kembali bangkit dan menjadi negara yang sangat maju. Dari iktibar itu kita dapat melihat betapa pentingnya peranan guru untuk kemajuan bangsa. Begitupun bangsa Aceh dan Indonesia, jika ingin maju guru-guru harus diperhatikan,” jelas Rafli.

Menurutnya  guru adalah pahlawan yang sangat berjasa meski tak pernah diberikan tanda jasa.

Rafli mengimbau para guru untuk senantiasa mengabdi untuk kemajuan Aceh secara khusus dan Indonesia pada umumnya.

“Kami mengimbau kepada guru-guru yang ada di Aceh, teruslah lakukan pengorbanan dengan target anak didik cerdas dan berbudi pekerti yang baik,” harap Rafli.

Terakhir, dalam rangka momentum Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November, Rafli mengajak semua pihak untuk mengirimkan Al-Fatihah kepada guru-guru yang telah berpulang ke rahmatullah.

“Tidak ada istilah mantan guru, untuk itu mari senantiasa kita mengenang jasa-sanya,” katanya.[]