BANDA ACEH – Rafly, salah satu musisi Aceh tidak terlalu memikirkan pendapat beberapa orang yang menyebutkan lagu-lagu lokal merupakan karya plagiat. Menurutnya hal terpenting dari musisi di Tanoh Rencong adalah sudah mau berkarya dan mencoba berbuat dengan tujuan memberikan hiburan untuk masyarakat Aceh.
“Minimal mereka sudah mencoba, baik yang plagiat atau karya sendiri, ataupun lagu-lagu yang memiliki esensi atau tidak,” kata Rafly ketika dihubungi portalsatu.com, Minggu, 20 Maret 2016.
Menurutnya kritikus seni atau lagu di Aceh tersebut terkadang tidak memahami masalah yang dikritiknya. “Karya sendiri saja mereka tidak punya,” katanya.
“Saya tidak sepakat untuk menyebutkan karya seseorang plagiat,” ujarnya lagi.
Rafly mengatakan dalam konteks lagu-lagu Aceh ada beberapa hal yang harus dipahami. Jika memang itu meniru, karya tersebut harus dipahami esensinya dan kemudian diberikan inovasi. “Tiru, pahami, dan berikan inovasi untuk melahirkan sesuatu,” katanya.
Di sisi lain, Rafly mengatakan lagu Aceh sejatinya memiliki keabsahan diri, keabsahan pesan, instrumen melodi dan tutur yang menarik agar bisa memikat penikmat musik. “Kalau memang mau mengemas lagu Aceh, seperti pengalaman bang Rafly (menyebut nama sendiri-red) yang masih minim ini, ya harus meramu material-material alat musik yang kaya di Aceh untuk dijadikan musik kontemporer dan diapresiasi dunia global,” ujarnya.
Dia mengatakan dunia luar akan memberikan, mengapresiasi dan juga penasaran dengan karya musik yang mengandung unsur sebuah pencerdasan. Salah satunya seperti musik etnik di Aceh.
“Saya ini murid yang fakir, saya tidak usah disebut pelopor atau maestro. Hal terpenting adalah inovasi dan kreasi. Itulah, Aceh banyak dipikirkan oleh orang yang tidak paham,” katanya.[](bna)


