Oleh Taufik sentana

Panggung kampanye telah disiapkan. Deklerasi damai, komitmen dan pawai-pawai juga tak ketinggalan. Ke depan kita menyaksikan akan banyak kejutan. Dua kubu yang berkompetisi bukan sosok baru. Namun kampanye pilpres khususnya, akan tetap menarik.

Kejutan yang ingin penulis saksikan, apakah frasa “dua periode” bisa menembus benak pemilih dan menyamai rekor presiden sebelumnya. Kejutan lain yang juga layak kita bincangkan, bagaimana tingkat kedewasaan dan intelektualitas pendukung saat menerima kekalahan, apa yang akan menjadi cerita kemudian?

Sebagian cerita itu agaknya bermula dari masa kampanye yang sudah terbuka. Kampanye diasumsikan untuk memengaruhi alam sadar dan bawah sadar pemilih untuk menentukan pilihan. Masa ini bisa menjadi masa yang rawan dan penuh godaan. Pada masa ini, bisa saja logika tidak berdiri tegak. Sementara emosi, dorongan agresi dan kepentingan negatif mungkin mendominasi.

Maka alangkah baik bila kampanye putih menjadi model yang paling dikedepankan. Peran mediapun sangat vital dalam mewujudkan kampanye putih ini.

Untuk itu penulis ingin menuturkan sedikit tentang “Rahasia Kampanye Putih” dalam ulasan berikut.

Lisan yang terjaga

Bukan rahasia lagi, bahwa lisan menjadi penerus hati dan pikiran kita. Lisan juga termasuk anggota tubuh yang paling banyak bekerja sepanjang hari. Apalagi pada masa kampanye ini. Ada beberapa bencana lisan yang mesti dihindari agar kampanye putih dapat terealisir. Hendaknya lisan para pendudukung ataupun jurkam dapat dijauhkan dari: Dusta, fitnah, mengumpat, membuka aib dan menjelekkan. Kesemua sikap ini walaupun sangat laku oleh banyak media, tapi tetap saja bertentangan dengan norma sosial dan keyakinan yang dianut. Kemampuan kita dalam menjaga lisan dari hal negatif di atas akan mendatangkan kebaikan dan mengundang rahmat dalam struktur sosial kita.

Tangan yang amanah

Tangan yang amanah ialah tangan dapat memelihara kehormatan dari pemiliknya. Yaitu tangan yang tidak merusak, anarki dan menyebabkan orang lain terluka atau kehilangan nyawa. Pada era digital kini, kita juga perlu menahan jempol dan jejari kita dari setiap peluang yang memungkinkan orang lain tersakiti dan merasa tak nyaman.

Demikianlah di antara dua “Rahasia Kampanye Putih” yang sejatinya dapat menjadi pengingat kita, sebagaimana Nabi mulia telah mengingatkan agar sesama kita terselamatkan dari perilaku jelek lisan dan tangan kita.

Semoga Allah selalu merahmati kita dan mendatangkan bagi kita pemimpin yang memenangkan, bukan pemimpin yang haus untuk dilayani.[]

Taufik sentana
Guru dan peminat kajian sosial-budaya
Menetap di Meulaboh, Aceh Barat.