Adaptasi oleh Taufik Sentana*
Kisra merupakan sebutan khas Raja Persia, disebutkan bahwa Ano Sirwan sedang melakukan kunjungan ke beberapa daerah pelosok negerinya. Dalam kunjungan tersebut ia didampingi oleh para pengawal dan beberapa pasukan khusus lainnya.
Tibalah ia di suatu tempat yang jauh dari pusat kerajaannya. Namun di tengah perjalanan ia menyaksikan pandangan yang membuatnya terkesima. Ia melihat seorang tua yang renta sedang menanam pohon. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya iapun menghampiri seorang tua tadi lalu bertanya dari atas kuda.
“Wahai Orang tua, pohon apa yang akan engkau tanam?”
“Aku sedang menanam pohon zaitun” Jawabnya singkat tanpa memandang lama ke arah Kisra.
“Bukankah pohon itu tumbuhnya lama dan mungkin usiamu tak akan sampai untuk memetik hasilnya”, sanggah Kisra kemudian.
“Iya, Tuan. Tapi aku ingin hasil pohon ini dinikmati oleh orang sesudahku, sebagaimana aku menikmati hasil dari pohon yang ditanam oleh orang sebelumku”
Raja kagum dengan jawaban orang tua tadi,
“Benar, engkau benar!” Kata sang Kisra sambil memberikan sekantong perhiasan untuk hadiah. Hal ini sering ia lakukan saat menjumpai rakyatnya.
“Lihatlah, baru saja aku menanamnya, pohon ini telah memberikan hasil untukku”
sambung si orang tua.
“Benar sekali!”
Jawab Kisra sambil memberikan lagi sekantong perhiasan. Orang tua tadi kembali berucap:
“Tuanku, biasanya pohon ini dipetik sekali dalam setahun, tapi aku telah memetiknya dua kali hanya dalam beberapa saat saja”
Sang Kisra semakin terkesima dan kembali memberikan sekantong perhiasan.
“Tepat sekali jawaban engkau!” Lanjutnya.
Tapi sesaat sang Kisra menoleh ke pengawal terdekatnya sambil berkata lirih
” Agaknya perhiasan yang kita bawa tidak akan cukup untuk setiap jawaban yang keluar dari mulut orang tua bijak ini, marilah kita berlalu darinya!”
Demikianlah sepotong kisah tentang kearifan utama yang mesti dimiliki oleh setiap warga masyarakat, yaitu adanya sifat ingin meninggalkan yang terbaik untuk orang yang datang sesudahnya dengan memperhatikan segala hal yang diperlukan untuk kebaikan bersama. Sungguh akan selamatlah suatu bangsa bila setiap warga memiliki karakter sebagaimana orang tua di atas tadi, yang rela berbuat tanpa pamrih untuk perbaikan di masa depan.
*Dari Qiraah Rasyidah (Buku panduan bahasa Arab dan Moral) kelas IV versi pesantren Modern.



