*Helmi Abu Bakar el-Langkawi
Ramadan tidak lama lagi menyapa kita. Tamu agung yang bernama Ramadan itu mempunyai bermacam kelebihan dan keagungan dibandingkan dengan bulan lainnya, bahkan terdapat satu malam yang menjadi puncak di antara kelebihan bulan tersebut yang disebut dengan lailatul qadar.
Sudah selayaknya umat Islam mempersiapkan diri pribadi dan orang yang menjadi tanggungannya semaksimal mungkin. Indikasinya persiapan pra-Ramadan menjadi start permulaan yang sangat menentukan seseorang untuk meraih berbagai kelebihan dan keutamaan dalam bulan Ramadan.
Salah satu kelebihan dan keistimewaan bulan Ramadan, disebutkan dalam firman Allah swt. berbunyi: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain (QS. Al-Baqarah [2]: 185).
Berdasarkan ayat di atas menunjukkan bahwa di antara kelebihannya di wajibkan kepada setiap muslim untuk menunaikan ibadah wajib berupa berpuasa Ramadan dan pada bulan itu pula diturunkan Alquran sebagai pedoman dan pegangan hidup umat Islam.
Rasulullah memberi kabar gembira kepada sahabat tentang kelebihan Ramadan sebagaimana disebutkan dalam sabda-Nya: Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa'. (HR. Ahmad dan An-Nasa'i).
Dalam riwayat yang lain, disebutkan dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah bersabda:Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya tepercaya)
Menjelang tibanya Syahrul Mubarak, yakni bulan Ramadan, fenomena yang terjadi dalam masyarakat kita yang biasa disemarakkan oleh berbagai kegiatan seremonial dan positif keagamaan dibingkai dengan nama Marhaban ya Ramadan, kegiatan semacam ini oleh mayoritas masyarakat dijadikan sebagai momentum untuk berbenah diri, membersihkan hati dan mempererat kembali tali silaturahim dengan sanak family, melakukan wisata rohani berupa menziarahi kuburan leluhur dan orang tua di samping membersihkan maqbarah-nya serta berbagai aktivitas keagamaan lainnya.
Namun fenomena ini tidak sedikit masyarakat berekreasi ke tempat wisata untuk bertaubat diri dari pahala alias bermaksiat diri dengan memadu cinta dengan lawan jenis dan maksiat lainnya, mungkin syaitan membisikkan dalam hati mereka bahwa bulan Ramadan itu sebagai momentum untuk bertobat nantinya, sekarang waktunya di minggu terakhir Ramadan untuk menabung dosa dan bermaksiat terlebih dulu. Semoga persepsi semacam ini tidak terpatri dalam dada generasi kita .!!!
Menyambut sosok tamu bernama Ramadan akan terasa lebih indah, jika kita memprioritaskan diri untuk tazkiyatun nafsi (membersihkan jiwa) dan melakukan persiapan fisik dan mental serta berbagai kajian keagamaan untuk menyambut tamu yang agung tersebut.
Siapa yang tidak senang dan gembira menyambut tamu paling agung laksana seorang Permaisuri yang menyambut kedatangan sang pangeran nan tampan dan menawan? Entah bagaimana perasaan dan luapan cinta yang menggebu ketika sedang menunggu sang pujaan hati tersebut?
Terlebih sudah ditunggu-tunggu selama sebelas bulan. Sikap dan ekspresi tersebut merupakan wujud begitu besarnya cinta kita terhadap bulan sayyidul syahri (penghulu bulan).
Hal tersebut bukan tidak beralasan semenjak pra-Ramadan Rasulullah telah mengajari dan menyuruh kita untuk selalu berdoa dengan sekuntum untaian doa harapan untuk kita dipanjangkan umur dan keberkahan sampai ke Ramadan seperti banyak riwayat salah satunya terdapat dalam riwayat yang berasal dari Anas ra dengan sanad yang lemah bahwa ketika memasuki bulan Rajab, Rasulullah saw. berdoa, “Ya Allah berkahi kami pada bulan Rajab dan Sya'ban ini. Serta sampaikan kami ke dalam bulan Ramadan.” (HR. Tirmidzi danad-Darimi).
Pernyataan tersebut diperkuat sebagaimana disebutkan oleh Ma'la bin Fadhal, beliau berkata, “Dulu sahabat Rasul SAW berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian, selama enam bulan sejak Ramadan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu.”.
Rasa cinta itu bukan hanya di pendamkan dan dilampiaskan dalam hati, namun implementasi dari itu lebih sangat penting dengan mengisi berbagai ibadah dan amalan pada bulan Ramadan. Rasulullah dalam menyemarakkan malam-malam Ramadan, beliau sering melakukan qiyamullail, terlebih pada sepertiga menjelang akhir Ramadan. Beliau bersabda: Barangsiapa yang menunaikan qiyamul lail pada bulan Ramadan karena keimanan dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim ).
Allah swt. juga menyebutkan dalam firman-Nya: Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb yang Maha Penyayang itu (ialah) orang orang yang berjalan di atas bumi dengan merendahkan hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata ( yang mengandung ) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. (QS. Al Furqon:63 64). Di antara kelebihan bulan Ramadan dibukakan pintu syurga dan ditutup pintu neraka sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Jika bulan Ramadan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu (HR. Bukhari no. 1898, 1899 dan Muslim no. 1079)
Di kala malam hari, nabi memotivasi kita untuk bergadang yang diisi dengan ibadah alias qiyamullail, maka pada siang harinya, kita diperintahkan untuk berpuasa. Demikianlah, kalau semua itu kita lakukan dengan ikhlas karena Allah, pasti bakal diampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Dengan ampunan itulah, kita bisa selamat dari lahapan Neraka. Ramadan tidak menghalangi kita untuk beraktivitas sebagaimana hari lainnya.
Banyak di antara kita yang tetap memiliki rutinitas mencari nafkah, belajar dan bekerja di bulan ini. Bekerjalah dengan penuh semangat dan teliti. Selingilah waktu-waktu bekerja dengan berzikir dan tidak meninggalkan salat berjamaah di awal waktu. Teruslah berusaha menambah kontribusi ibadah dan amalan sunnah yang bisa dilakukan di saat bekerja. Seperti amar maruf nahi mungkar walau dalam skala yang kecil dan terbatas, bersedekah, ikut berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan di masjid, kantor, dan sebagainya.
Semua aktivitas tersebut akan bernilai dengan balasan berupa pahala, semakin ikhlas berusaha akan semakin berlipat ganda pahalanya. Terlebih seorang suami dia mencari nafkah bukan hanya untuk dirinya tetapi anak dan keluarganya bahkan orang tuanya sendiri, tentu saja akan semakin menambah nilai pahalanya sesuai dengan sebuah qaidah fiqh yang maksudnya: pahala tergantung pada besarnya manfaat bukan kadar kesulitannya.
Di samping itu harus diingat pula kadar pahala puasa itu hak preogratif Allah swt.,sebagaimana dalam sebuah hadis disebutkan; Seluruh amal ibadah bani Adam adalah miliknya, dan setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kali hingga tujuh ratus kali lipat. Allah swt. berkata : kecuali ibadah puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Akulah yang langsung membalasnya. Seorang yang berpuasa telah menahan diri dari syahwat, makanan dan minumannya karena Aku semata. Ada dua kegembiraan bagi yang berpuasa, kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan tatkala bertemu dengan Allah. Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di antara visi yang diembankan dalam kancah arena Ramadan yakni untuk menggapai sebuah predikat taqwa, maka berbagai persiapan pra-Ramadan baik di bulan Syakban dan Rajab khususnya sepatut dijadikan sebagai bulan Training Center (TC) menuju Ramadan, maka bulan Ramadan laksana seperti tempat pembinaan yang memiliki fungsi strategis dan handal. Jika kita umpamakan lembaga pendidikan seperti IPDN (Institute Pemerintahan Dalam Negeri) diproyeksikan untuk mencetak SDM unggulan, melahirkan aparatur pemerintahan dan pejabat yang handal dan berkualitas serta amanah, juga memberikan kontribusi dan pengayom untuk bangsa dan negara, maka bulan Ramadan juga berfungsi seperti demikian.
Bahkan harus didedikasikan lebih dari itu, bulan Ramadan harus dijadikan sebagai sebuah Universitas untuk melahirkan lulusan terbaik sebagai Sarjana Ramadan (S. Rd.) dengan predikat clumlude yang mampu memberikan nilai kebaikan dan lampu penerang bukan hanya untuk diri sendiri bahkan orang lainnya. Juga bukan hanya menjadi sarjana di kala hari wisuda saja tetapi kontribusinya yang terbaik sepanjang masa hingga akhirat nantinya. Semoga .!!!!
*Helmi Abu Bakar el-Langkawi Staf pengajar Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga dan Sekretaris LP3M IAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen






