Oleh Taufik Sentana*
Ramadan akan tiba karena waktu memang diputar untuk kita. Bahkan sekarang, waktu telah diakui sebagai kapital yang tak dapat disentuh, nilainya teramat tinggi. Apatah lagi dengan Ramadan yang penuh berkah, Ramadan yang kita rindukan.
Dalam keadaan bagaimanapun Ramadan akan datang. Entah ada yang suka atau tidak, ia akan datang. Ramadan akan datang sebagai penebus dan pembakar lalai kita setahun di belakang. Kita yang lalai karena ritme fisikis dan materialis, seakan hidup sebatas isi perut. Dan Ramadan dengan puasa dan keutamaan di dalamnya mengajarkan kita nilai yang tertinggi dalam menjalani hidup. Maka bagi yang mengerti, Ramadan akan menjadi pintu rindu yang paling ditunggu.
Diantara kemuliaan Ramadan adalah karena Alquran diturunkan pada malam itu, diturunkan dari lauhul mahfuz ke langit dunia. Lalu dari langit dunia ke Nabi Muhammad SAW. Karenanya ia menjadi mulia. Setiap hari adalah mulia, setiap jam adalah mulia, setiap menit adalah
mulia, maka setiap detikpun adalah mulia dan setiap amal kita dinilai berlipat ganda. Sampai sampai Nabi kita yang Mulia menyatakan “celaka” bagi yang mendapatkan Ramadan tetapi tiada yang membekas di hatinya.
Adapun amal khasnya adalah puasa, yang dengan puasa itu seorang hamba telah “merasakan” sifat ketuhanan yang tidak membutuhkan makanan dan minuman. Puasalah yang dapat membakar nafsu dan puasalah yang menjadi bahan bakar para penyabar.
Maka sedari awal kita rindukan Ramadan, dan kita bayangkan serta niatkan ragam amal yang akan kita kerjakan sepanjang waktu: baik amal hati, amal lisan, amal badan dan amal harta.
Dan Ramadan yang kita rindukan itu akan datang juga. Dalam keadaan apapun. Walau mungkin tidak semeriah Ramadan yang lalu karena musibah wabah Covid 19 yang mendunia. Tapi Ramadan tetap istimewa, karena yang melanda kita sekarang tidaklah merusak syarat dan rukunnya.
Semoga kita tetap dapat menikmati hidangan Ramadan dengan sebaik mungkin dan memperoleh hasilnya berupa taqarrub dan taqwallah.[]
*Ikatan Dai Indonesia.Kab. Aceh Barat



