Kita hidup di dunia ini terkadang menganggap mereka yang menegur kita terhadap sebuah kesalahan merupakan hal yang hina. Padahal itu merupakan sebuah teguran demi kebaikan. Fenomena ini sering terjadi dalam masyarakat kita.

Hendaknya dengan bulan Ramadhan (Ramadan) sebagai bulan tarbiyah an-nafsi (mendidik jiwa) mampu menjauhkan diri dari berbagai penyakit hati, termasuk merasa diri paling benar atau dalam bahasa agama katagori ini dikelompokkan kepada takabbur.

Sikap takbur itu adakalanya dapat dilihat melalui perbicaraan. Di antaranya, mereka tidak mau mengalah, menganggap dirinya senantiasa benar, dan tidak ingin mendengar dan mengikut nasihat.

Lantas bagaimana esensi takabur itu? Sikap demikian sebagaimana digambarkan Imam Al Ghazali yang mengatakan, “Orang yang takabur itu ialah orang yang apabila ditegur, ia marah dan benci, sedangkan kalau ia menegur orang lain ditegurnya dengan keras dan kasar”.

Sikap tidak terpuji itu mendapat ancaman sebagaimana disebutkan baginda Nabi Muhammad Saw, “Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat walau seberat zarah dari perasaan takabur atau sombong”.

Allah SWT juga menyebutkan ancaman neraka Jahannam untuk mereka yang mutakabbirin (orang takabur). Firman Allah berbunyi, “Sesungguhnya mereka yang sombong untuk taat sebagai hamba-Ku, mereka akan masuk Jahanam sebagai makhluk yang hina dina”. (QS. Almukmim: 60)

 

Tarbiyah an-nafsi untuk takabbur

Imam Al-Ghazali bukan hanya menggambarkan penyakit “kronis” takabur, tetapi juga memberikan gambaran semacam terapi jiwa dalam konteks  tarbiyatuh an-nafsi terhadap mutakabbirin. Beliau menyebutkan, “Apabila kita berjumpa dengan kanak-kanak, anggaplah kanak-kanak itu lebih mulia dari kita. Karena kanak-kanak itu belum diberati dosa, sedangkan kita sudah berlarut-larut hampir setiap langkah berbuat dosa. Apabila kita berhadapan dengan orang tua, anggaplah orang tua itu lebih mulia, kerana ia lebih lama beribadah daripada kita. Ketika kita berjumpa dengan orang alim, anggaplah beliau lebih mulia dari kita kerana banyak ilmu-ilmu yang tidak kita ketahui tetapi beliau mengetahuinya.

Kalau kita melihat orang yang jahil, anggaplah dia lebih mulia dari kita , karena dia berbuat sesuatu kesalahan atau dosa kerana kejahilannya, sedang kita berbuat dosa dalam keadaan kita mengetahuinya. Kalau kita berjumpa dengan orang jahat, janganlah anggap kita mulia atau lebih baik daripadanya, tetapi katakanlah bahwa orang jahat itu mungkin di masa tuanya ia bertaubat, memohon ampun dari perbuatannya. Sedangkan kita sendiri belum tahu lagi bagaimana kita akhirnya. Apabila berjumpa dengan orang kafir, katakanlah dalam hati, bahwa si kafir itu belum tentu kafir selamanya, mungkin di suatu hari datang keinsafan padanya, dia memeluk Islam dan semua dosanya di dalam kekafiran dulu diampuni Tuhan, sedangkan kita ini sejak lahir sudah Islam hingga saat ini, tetapi dosa terus dikerjakan juga dan balasan pahala belum tentu lagi”.

Indahnya merasa rendah (tawadhu) dan tidak bersikap sombong kepada sesama. Terlebih di bulan Ramadan ini untuk melatih jiwa dari sikap yang tidak terpuji dan menjadikan kita untuk terus membenahi jiwa dan nafsu kita dalam bingkai tarbiyah an-nafsi. Kalau di bulan Ramadhan saja kita tidak mampu memanajemen kalbu dan an-nafsi kita, lantas kapan juga kita menyepuh dan membersihakn kotoran dan karat yang sudah membandel bermain di kalbu kita?

Jadikanlah Ramadan ini yang sedang berlabuh menuju terminal terakhir (itqum minannar) sebagai bulan tarbiyah an-nafsi demi menggapai mardhatillah. Amiin.[]