Jumat, Juli 19, 2024

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...

JPU Tuntut Lima Terdakwa...

BANDA ACEH - Jaksa Penuntut Umum menuntut empat terdakwa perkara dugaan korupsi pada...

Abu Razak Temui Kapolda,...

BANDA ACEH – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh H. Kamaruddin...

Diterjang Badai, Lapak Pedagang...

ACEH UTARA - Banyak lapak pedagang dan warung di sepanjang jalan Simpang Rangkaya,...
BerandaNewsRampagoe UGM, Perkenalkan...

Rampagoe UGM, Perkenalkan Tari Tradisional Aceh di Yogyakarta

YOGYAKARTA – Keeanekaragaman budaya menjadikan Indonesia kaya. Pertukaran budaya melalui mahasiswa dan seiring perpindahan warga menjadikan budaya Indonesia terus tumbuh dan berkembang. Bukan hanya di lingkup sanggar seni, namun kearifan lokal tersebut juga berkembang di dunia kampus.

Salah satunya di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Melalui komunitas Rampoe (dibaca: rampo) yang dibentuk sejak 28 Desember 2009 oleh beberapa mahasiswa jurusan Sastra Asia Barat angkatan 2008 dan 2009, berbagai kegiatan pertunjukan seni tari Aceh di wilayah regional, nasional, bahkan internasional telah digelar.

Menurut Surya Timur, pengurus Rampoe UGM, berbagai kegiatan tersebut digelar sejak komunitasnya berada di bawah naungan Departemen Minat dan Bakat Ikatan Mahasiswa Sastra Asia Barat (IMABA) hingga menjadi sebuah Badan Semi Otonom (BSO) resmi milik Fakultas Ilmu Budaya UGM.

“Keanggotan Rampoe UGM telah mencapai lebih dari 300 anggota aktif baik dari dalam kampus maupun luar kampus. Di antaranya, ada UII, UIN SUKA, UMY, UAD, UPN, UPY, UTY, UNY, Akper Notokusumo, dan lain-lain,” ujar Surya, belum lama ini.

Sesuai dengan namanya diambil dari bahasa Aceh yaitu “Rampoe” yang berarti “beraneka ragam.” Rampoe UGM mengajarkan dan menampilkan berbagai macam seni tari dan seni musik tradisional khas Aceh baik yang tradisi maupun kreasi, seperti Tari Likok Pulo, Tari Rateb Meusekat, Tari Ratoeh Duek/Ratoeh Jaroe, Tari Rapa’i Geleng, Tari Tarek Pukat, Tari Ranup Lampuan, Tari Saman Gayo, dan Tari Seudati, Sedangkan untuk alat musik tradisional ada Serune Kalee, Jinbe, Geundrang, dan Rapa’i.

Kesemuanya diajarkan seminggu sekali di area kampus UGM (biasanya di gedung Pelataran Sastra Fakultas Ilmu Budaya UGM) dan Pendopo Royal Ambarrukmo Plaza oleh pelatih dari Aceh dan beberapa anggota Rampoe UGM yang telah dipilih koordinator latihan putra dan putri. Latihan berlangsung sesuai tingkatan tarian dan terpisah antara putra dan putri.

Kegiatan yang ada di Rampoe UGM tidak hanya belajar dan mengajarkan kesenian Aceh di internal tim saja. Rampoe UGM juga memiliki program Rampoe Mengajar. Biasanya Rampoe UGM mengirimkan beberapa anggota untuk melatih di sanggar dan sekolah tertentu sesuai dengan undangan dan permintaan di sanggar atau sekolah tersebut.

Surya menambahkan, untuk mengakrabkan dan menjalin silaturahmi antaranggota keluarga yang sudah mencapai tujuh angkatan, Rampoe UGM punya acara keakraban yang biasa disebut SALEUM—akronim dari Silaturrahmi dan Malam Keakraban Rampoe UGM. “SALEUM digelar setiap satu tahun sekali,” ujarnya.

Tahun lalu, Rampoe UGM menggelar SALEUM di Dusun Tanjunggunung Desa Tanjungharjo Kulonoprogo dengan setting pengabdian kepada masyarakat. Rampoe UGM berhasil menggelar Panggung Rakyat Rampoe yang menampilkan berbagai macam tarian Aceh dan berbagai kesenian dusun tersebut, seperti jatilan dan campur sari. Selain itu, ada program Rampoe Mengaji dan Rampoe Mengajar kepada anak-anak dusun selama SALEUM berlangsung.

Segudang Prestasi

Rampoe UGM sudah meraih prestasi sampai tingkat internasional sejak keikutsertaannya pada Festival Colours of The World (FESCO) 2011 di Universiti Teknologi Petronas Malaysia. Rampoe meraih dua penghargaan yakni The Best International Group Performance dan The Second Best Music Performance.

Kemudian menjadi perwakilan Indonesia dalam kegiatan International Art Workshop di Malaysia, perwakilan Asia Tenggara pada festival tari rakyat dan festival musik di Oostrozeberk–Belgia (2013), Saint Ghislain–Belgia (2014), dan Roche La Moliere–Perancis (2014) serta meraih The Best Appreciation from Acehness Government pada Festival Ratouh Jaroe Nusantara.

Semua itu dirangkum dalam program rutin Diplomasi Budaya Melalui Duta Seni Mahasiswa yang dicetuskan dan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Masih banyak program dan kegiatan lain yang ada di Rampoe UGM. Di antaranya, pagelaran seni Aceh tahunan berupa Piasan Rampoe, Street Performance untuk penggalangan dana bencana di Mall Yogyakarta 0 Km, dan Alun-alun Kidul, Bakti Sosial, Milad (Malam Penghargaan dan Syukuran Hari Jadi) Rampoe UGM, Meusapat Rampoe UGM (penyambutan anggota keluarga baru dan pembukaan latihan rutin) serta kegiatan lain berlandaskan prinsip kekeluargaan dan berbagi yang ada di Rampoe UGM.

Tagline We Learn, We Teach, We Dance, merupakan representasi dari kebersamaan, kesabaran, berbagi, dan kekeluargaan yang menjadi asas internal tim. Selain itu, keanggotaan di dalam Rampoe UGM bersifat seumur hidup, tidak ada senior, junior, dan alumni. Yang ada hanya keluarga,” ujar Surya, dikutip dari poskotanews.com.[]

Baca juga: