Kontraksi otot yang terus-menerus ini akan menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke otot tersebut, yang mana oksigen itu dibawa oleh darah sebagai nutrisi jaringan pada otot tubuh kita. Apabila jumlah kadar oksigen ke otot tubuh berkurang, maka tubuh akan berkompensasi dengan meyesuaikan keadaan tersebut, dan dapat memicu lepasnya pemicu nyeri atau disebut (laktat dan asam piruvat ). Inilah yang membuat seseorang terasa tegang bukan berarti itu akibat kolesterol yang meningkat, ya.

Dari reaksi pemicu nyeri tersebut, maka akan menjalar ke bagian otot sekitarnya seperti pundak dan kepala. Pada area-area otot yang tidak terlalu banyak mendapatkan persarafan sensasi yang dirasakan dapat hanya rasa pegal-pegal saja. Pada seseorang yang sering mengalami hipotensi dan anemia yaitu tekanan darah yang rendah serta kadar oksigen dalam darah yang rendah bisa dapat lebih sering menderita rasa tegang pada leher.

Hal tersebut berkaitan rendahnya suplai oksigen ke otot tersebut dan pada pasien hipotensi berkaitan dengan tekanan darah yang rendah dapat menjadi pemicu berkurangnya oksigen sebagai nutrisi jaringan pada otot. Psikologis seseorang memiliki peranan penting terhadap respon nyeri atau rasa tegang yang muncul pada leher. Dengan suasana hati yang tidak nyaman menyebabkan munculnya kontraksi otot yang berlebihan. Sehingga dapat menurunkan kadar oksigen dan menimbulkan gejala demikian.

Stres pada seseorang yang berulang terus-menerus akan menyebabkan nyeri atau rasa tegang menjadi lebih mudah muncul walaupun penyebab yang sederhana sekalipun dan durasi rasa tegang yang dapat berlangsung lebih lama. Oleh sebab itu, peranan pengelolaan stres sangat penting pada setiap orang karena perasaan dan mood kurang baik pada seseorang memudahkan seseorang tersebut lebih mudah merasakan rasa tidak nyaman atau tegang pada leher.

Karakteristik tegang pada leher sangatlah beragam, dari mulai rasa tidak nyaman di kuduk membuat seseorang yang mengalaminya menjadi lebih sering memegang area yang dirasa nyeri. Dan dapat menjalar ke pundak bahkan di area yang banyak mendapatkan persarafan rasa demikian lebih dirasakan.

Ilustrasi via Munzirul.

Dapat pula ditemukan adanya trigger point yaitu ada suatu titik yang bila diraba maka akan teraba seperti adanya bagian otot yang menonjol atau tegang. Sehingga dari titik perabaan tersebut menimbulkan nyeri tekan di area leher dan kepala, dan sejalan dengan aliran darah rasa nyeri dan tegang dapat dirasakan lebih luas lagi.

Rasa tegang dan nyeri bahkan dapat dirasakan hingga ke area kiri dan kanan kepala namun terkadang rasa tegang pada leher banyak yang mengabaikannya. Walaupun gejala tersebut sebenarnya tidak terlalu berdampak serius, tetapi ada penyebab lain yang dapat memicu terutama pada lansia yaitu rasa nyeri dan tegang pada leher diakibatkan oleh saraf yang terjepit, tulang yang bergeser atau rusak karena proses penuaan yang dalam istilah medis disebut spondilosis servikal.

Kondisi ini muncul akibat perubahan pada tulang dan bantalan pada sendi leher akibat dari keausan yang timbul karena proses penuaan, seiring bertambahnya usia seseorang lama-kelamaan bantalan tulang leher akan semakin kaku akibat berkurangnya cairan pelumas dan gesekan antar tulang akan semakin terasa, akibat dari bantalan antar tulang dan tulang yang semakin tipis. …

Bersambung ke Bagian 2.[]