LHOKSUKON – “Awak nyan itamong gampong ngon beude panyang, lengkap ija itop muka. Awak nyan i’ek honda raya sue. Rata sagoe gampong jidong, ka lage wate konflik awai. (Mereka/polisi masuk gampong dengan menggunakan senjata laras panjang, lengkap penutup wajah/sebo. Mereka datang mengendarai sepeda motor dengan suara bising. Berdiri di setiap sudut gampong, seperti masa konflik dahulu)”.

Hal itu diungkapkan seorang warga Gampong Meunasah Reudeup, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara saat ditemui portalsatu.com/, Sabtu, 14 Januari 2017, malam menjelang Minggu dini hari. Yakni, setelah terjadi keributan dengan polisi yang berujung dibawanya puluhan warga ke Mapolres Aceh Utara.

“Awalnya kami melihat polisi mengejar pengendara sepeda motor yang lari saat razia, kami ikut melihat. Namun, saat ada suara tembakan, kami pergi. Namun, beberapa warga lainnya malah mencari tahu dari mana suara tembakan itu berasal,” kata salah seorang warga saat ditemui portalsatu.com/ di depan Masjid Al-Hidayah, gampong setempat.

Selang 10 menit, lanjut warga itu, polisi datang lagi dengan jumlah yang lebih banyak. Setelah itu, 21 warga dibawa ke mapolres. “Kami sebagai warga meminta agar polisi dapat memberi rasa aman kepada masyarakat. Ini bukan zaman konflik. Apalagi gampong kami berada di belakang Polres Aceh Utara,” ujar pria paruh baya yang saat kejadian mengaku sedang berada di dayah gampong setempat.

Di bawah cahaya lampu yang remang-remang, warga lainnya menimpali, “Aceh ini bekas konflik, mungkin mereka (polisi) harus maklum. Sebagian warga Aceh jika mendengar suara tembakan bukannya lari, malah sibuk mencari tahu dari mana asal suara dan apa yang terjadi.”

Tak lama terdengar warga lainnya berkata, “Jika memang polisi mengejar tersangka narkoba, kami sebagai warga siap membantu. Namun, jangan begitu caranya, berdiri di setiap sudut gampong, belum lagi terdengar puluhan kali suara tembakan. Hal itu membuat sebagian warga was-was, khususnya wanita dan anak-anak. Meski itu tembakan ke udara, tapi mengganggu ketentraman warga. Apalagi ini sudah beberapa kali terjadi, bahkan pengejaran (saat) razia yang masuk gampong sudah dilakukan tiga hari berturut-turut.”

Sementara itu, Antoni, 23 tahun, warga gampong yang sama ikut menunjukkan bagian kepala dan rusuknya yang sakit. Namun, ia mengaku tidak sempat dibawa ke mapolres, karena setelah dipukul langsung masuk kedai.

“Wate na su timbak, lon teungoh jep kupi bak keude yang na di simpang. Wate nyan na ngon yang beudoh jak pudep tivi. Mungken dipike le polisi jih dijak plueng, langsong ietarek iesipak le polisi nyan. Lon pih jitrom. Na nyang baro troh ietanyeng: ‘puna?’. Jih pih keunong sipak. Wate awak nyan sibok ngon warga laen, lon kutamong lam keude kujak eh, ka mumang kuh keunong trom,” beber Antoni.

Warga lainnya menambahkan, dirinya tidak sempat dipukul atau disepak. Ia mengaku sempat ditiarapkan dan dijejerkan dengan warga lainnya. “Wate troh keunan, lon ietarek, iepeucrup rame-rame hinan, tapi hana jipoh,” timpalnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Pemuda Gampong Meunasah Reudeup, Zulkifli di lokasi yang sama mengatakan, warga siap membantu aparat kepolisian memberantas narkoba. Namun, kata dia, terkait pengejaran saat razia, kebanyakan warga lain yang lari ke gampong tersebut.

“Sebenarnya semalam hanya salah paham. Saat tahu ada pengejaran oleh anggota, warga keluar untuk melihat. Saat terdengar suara tembakan, warga yang datang semakin banyak. Mereka datang untuk melihat, baik itu duduk di warung kopi ataupun keluar rumah. Jadi, bukannya menghalangi tugas polisi, karena kami siap membantu memerangi narkoba,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, personel Polres Aceh Utara terlibat keributan dengan warga Gampong Meunasah Reudeup, Kecamatan Lhoksukon, Sabtu, 14 Januari 2017, sekitar pukul 23.00 WIB. Puluhan warga kemudian dibawa ke mapolres.

“Awalnya anggota melakukan pengejaran terhadap pengendara sepeda motor yang kabur saat razia. Pengendara yang diduga membawa narkoba itu kabur ke arah Meunasah Reudeup. Saat anggota mengejar si pengendara, sejumlah warga mencoba menghalangi. Mereka juga menyerang anggota dengan melempari batu,” kata Kapolres Aceh Utara AKBP Ahmad Untung Surianata atau Untung Sangaji kepada portalsatu.com/ via telepon seluler, Minggu, 15 Januari 2017. (Baca: Diduga Halangi Tugas Polisi, Puluhan Warga Dibawa ke Mapolres)[]