BLANGKEJEREN – Ratusan warga Kabupaten Gayo Lues terpaksa membiarkan areal perkebunannya ditumbuhi semak belukar di daerah Reko Kering, Desa Sangir, Kecamatan Dabun Gelang. Pasalnya, medan jalan sangat sulit dilalui, bahkan harus “bertaruh nyawa” untuk mencapai perkebunan tersebut.
Salah seorang petani, Muhammad Yusuf, ditemui wartawan di puncak Reko Kering, Sabtu, 18 Oktober 2025, mengatakan saat ini ada ratusan hektare lahan yang sudah bersertifikat terpaksa dibiarkan warga menjadi lahan tidur karena akses jalan sangat sulit dilalui.
“Sebagian warga ada yang sudah berbuah kebun kopinya karena memang hanya itu tanahnya. Sementara kebanyakan petani lainya memilih meninggalkan kebunya karena tidak sanggup setiap hari melewati jalan menanjak dipenuhi lubang,” kata dia saat mengecek perkebunannya.
Petani di sana mengaku bukan tidak bisa menjadikan kebunnya menjadi perkebunan kopi produktif seperti pada umumnya, tetapi lantaran keseringan jatuh dari atas sepeda motor membuat warga memilih mundur.
“Bukan kami tidak mau mengikuti Program GERETEK (Gerakan Restorasi Ekonomi Kerakyatan) yang digagas oleh Bupati dan Wakil Bupati Gayo Lues. Kalau jalan sudah bagus, jangankan menanam kopi, tempat ini juga sangat layak menjadi objek wisata sore menyentuh kabut,” ujarnya.

[Kondisi jalan menuju Reko Kering sangat ekstrem karena dipenuhi lubang di tengah jalan. Foto: Anuar Syahadat]
Muhammad Yusuf mewakili ratusan warga lainnya berharap Bupati, Wakil Bupati, dan Dinas PU Gayo Lues meninjau lahan perkebunan di Reko Kering, dan meningkatkan jalan yang sudah dibuka beberapa tahun silam itu.
“Jalan ini hanya bukaan saja, kalau hujan sangat licin, padahal jaraknya dari kota ke sini hanya setengah jam. Kalau pemerintah daerah mau meningkatkan jalan ini, saya yakin ratusan warga lainnya akan sejahtera dengan menanam kopi Gayo,” katanya.
Ia mengaku petani tidak muluk-muluk urusan bantuan dari Pemda. Jika jalan sudah mudah dilalui, meskipun tidak diberi bantuan bibit, obat semprot dan lainnya sudah pasti lahan tidur akan dimanfaatkan warga.
Pantauan wartawan di lapangan, selain petani membutuhkan peningkatan jalan, satu unit jembatan juga harus dibangun untuk mempermudah akses menuju perkebunan Reko Kering. Saat ini, jalan itu hanya bisa dilalui oleh sepeda motor dan mobil yang sudah dimodifikasi.[]





