Jumat, Juli 19, 2024

Rekomendasi HUDA Berisi 22...

BANDA ACEH - Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA) mengeluarkan rekomendasi...

Lebih 170 Bangunan Rusak...

ACEH UTARA - Sebanyak 173 bangunan dilaporkan rusak akibat diterjang badai (hujan deras...

Inilah Struktur Lengkap Kepengurusan...

BANDA ACEH - Ketua Umum Majelis Syuriah Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh...

Samsul Azhar Dilantik sebagai...

BANDA ACEH - Pj. Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, melantik Samsul Azhar sebagai Pj....
BerandaRayakan Lebaran Dengan...

Rayakan Lebaran Dengan Kue Khas ‘Lepat Gayo’

Kalau Anda mengunjungi sanak saudara di Gayo, dan tiba-tiba disuguhkan penganan berbungkus daun pisang, jangan lupa bertanya, sedang ada acara apa? Bisa jadi Anda disuguhkan lepat, sebuah penganan khas Gayo yang cuma tersaji pada acara-acara tertentu saja, seperti perayaan hari-hari besar Islam.

Makanan khas Lepat Gayo ini, terbuat dari tepung ketan halus yang diremas hingga kalis. Lalu, di dalamnya diisi kelapa gongseng dicampur gula merah disebut inti. Lantas, inti dibalut tepung, dan baru dibungkus daun pisang. Kemudian memasaknya dengan cara dikukus hingga matang.

Lepat Gayo—kalau dilihat dari cara dan bahan yang diperlukan—penganan sejenis juga terdapat di Batak Karo. Namanya ‘Cimpa’, yang juga disaji pada hari-hari besar. Penganan ini memang sejenis timpan dari pesisir Aceh, tetapi tentu berbeda, baik bahan maupun cara membuatnya.

Timphan terbuat dari tepung beras, lepat dari beras ketan. Kalau bungkus timphan dari daun muda pucuk pisang, lepat dibalut daun pisang tua atau dalam istilah Gayo disebut keken.

“Lepat Gayo itu terbuat dari tepung ketan dan diaduk dengan air gula, kemudian diberi isi kelapa yang telah diparut dan diaduk dengan gula merah, setelah itu dibungkus lembaran daun pisang,” kata Inen Haical, warga Bener Meriah.

Inen Haikal menyebutkan, biasanya Lepat Gayo dibuat menjelang Ramadan dan hari raya saja.

Bagi masyarakat Gayo kue lepat ini merupakan sebuah alasan untuk membangun silaturahmi dengan keluarga dekat, sahabat, dan tetangga.  Biasanya, menjelang Ramadan, sebuah keluarga akan berkunjung ke keluarga lainnya. Lepat menjadi sebuah alasan kunjungan itu. Muatan filosofis pun tinggi. Penganan yang lengket dan manis itu sebuah pertanda hubungan yang erat dan baik. Itu sebabnya Lepat Gayo menjadi tradisi yang kuat di Gayo.

Keunikan lainnya yang dimiliki Lepat Gayo adalah daya tahan yang lama, bisa mencapai dua minggu hingga sebulan.  Menurut Inen Haical, Lepat Gayo bisa bertahan lama dan tidak basi hingga sebulan karena diawetkan dengan mengunakan asap kayu bakar (tungku). Sebab di Gayo banyak warga masih mengunakan kayu bakar untuk memasak.

“Cara mengawetkannya di gantung di atas tempat memasak yang mengunakan kayu bakar hingga mengering. Ketika hendak dimakan tinggal memanggang di atas bara api,” jelas Inen Haical.

Kendati membuat lepat sudah mentradisi di Gayo yang mendiami tiga kabupaten yakni, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues, sekarang sebagian masyarakat Gayo di perkotaan mulai meninggalkan tradisi itu dan beralih ke penganan modern yang bisa di dapat di toko-toko.  

Begitupun di Kabupaten Aceh Tengah, tradisi ini juga sudah mulai menghilang. Lepat Gayo hanya dilakukan oleh masyarakat yang berumur 40 ke atas. Sedangkan usia di bawahnya tidak lagi membuat lepat.[]

Baca juga: