ACEH UTARA – Banjir melanda Kabupaten Aceh Utara berdampak terdampak 119.830 jiwa atau 41.135 Kepala Keluarga (KK), berdasarkan data sementara dari BPBD hingga 30 November 2025. Adapun pengungsi sebanyak 107.305 jiwa atau 32.547 KK.
“(Korban) meninggal dunia 78 jiwa dan hilang 51 jiwa,” kata Juru Bicara Pemkab Aceh Utara, Muntasir Ramli, dalam keterangannya, Ahad malam (30/11).
Muntasir menyebut lokasi pengungsian tersebar di 221 titik. “Pengungsi prioritas, ibu hamil 71 jiwa, balita 573 jiwa, lansia 582 jiwa, dan disabilitas 12 jiwa,” ujarnya.
Menurut Muntasir, logistik mulai didistribusikan ke kecamatan dan seluruh titik pengungsian.
Jumlah Kerusakan
Adapun kerusakan rumah rusak berat 66 unit, sedang 67 unit, dan ringan 60 unit. Sawah terendam 12.782 hektare dan tambak 10.653 hektare.
Lalu, tanggul rusak 57 titik, jembatan rusak 27 unit, dan sekolah rusak 101 unit. “Box culvert rusak di ruas jalan Kecamatan Paya Bakong-Pante Bahagia,” ucap Muntasir.
Menurut Muntasir, data sementara ini sewaktu-waktu akan berubah mengingat hampir 90 persen wilayah Aceh Utara lumpuh total dari 27 kecamatan dan 852 desa. “Keterlambatan pendataan akibat akses jalur komunikasi seluruh Aceh Utara masih blackout (pemadaman total),” ujarnya.
9 Kecamatan Masih Terisolasi
Muntasir menyebut sembilan kecamatan masih terisolasi, yaitu Langkahan, Seunuddon, Baktiya, Baktiya Barat, Pirak Timu, Lapang, Samudera, Tanah Pasir, dan Sawang.
“(Kebutuhan) logistik bantuan masa panik untuk pengungsi dan warga yang masih terisolir serta kebutuhan khusus perempuan, anak-anak, ibu hamil, balita, lansia, dan disabilitas,” tuturnya.
Selain itu, transportasi air untuk menyalurkan bantuan logistik ke pengungsian dan daerah terisolir yang masih terendam banjir.
Lalu, pemulihan saluran komunikasi, listrik dan air bersih, serta peralatan berupa alat berat untuk normalisasi.
Muntasir menjelaskan banjir menyebabkan kerusakan infrastruktur publik, pemukiman penduduk, fasilitas pendidikan umum dan agama, sawah, tambak, pusat aktivitas pemerintahan. “Dan kegiatan ekonomi masyarakat hancur akibat diterjang banjir”.
“Jaringan listrik dan komunikasi di wilayah Aceh Utara sebagian masih (blackout/padam),” tambah Muntasir.
Muntasir menyampaikan transportasi jalan lintas nasional Lhokseumawe-Pantonlabu berangsur membaik. Namun, masih tergenang di berapa titik seperti di Simpang Peureupok, Kecamatan Syamtalira Aron, Matang Panyang dan Matang Sijuek, Kecamatan Baktiya dan Baktiya Barat dengan air setinggi 30 sentimeter.
“Sedangkan jalan kecamatan atau pemukiman penduduk masih digenangi air dan lumpur,” ungkap Muntasir.
Muntasir menjelaskan, banjir parah di Aceh Utara diakibatkan kedangkalan sungai, cuaca ekstrem dan intensitas curah hujan tinggi selama lima hari berturut-turut. Selain itu, jebolnya tebing sungai (Krueng) Pase di Kecamatan Samudera dan Nibong, Krueng Peutou di Lhoksukon dan meluapnya sungai Krueng Keureuto, Krueng Ajo, Krueng Nisam, Krueng Langkahan, Krueng Jambo Aye, dan Krueng Sawang.
Penetapan status tanggap darurat penanganan bencana banjir telah ditandatangani Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayahwa) pada 25 November 2025.[]








