ADA tujuh rekomendasi dari Dialog Pembangunan Ekonomi Aceh Hebat pada acara Halal Bihalal dan Forum Silaturahmi Aceh Meusapat di Kantor Badan Penghubung Pemerintah Aceh, di Jakarta, 30 Juni 2019 lalu. Menariknya, saat merespons rekomendasi tersebut, Plt. Gubermur Aceh berjanji melakukan reformasi Bank Aceh dalam tujuh hari sejak rekomendasi itu. Benarkah itu terjadi?
Senin lalu (3 Februari 2020), Plt. Gubernur melantik dua komisaris dan empat direktur baru Bank Aceh. Apakah ini bagian reformasi Bank Aceh yang dijanjikan itu? Sepertinya, melihat orang-orang yang dilantik, harapan itu terkesan “jauh panggang dari api”.
Bank Aceh saat ini barangkali “bank terkuno” di atas muka bumi. Bayangkan, untuk layanan mandiri hanya pakai kartu ATM. Selebihnya transaksi manual. Di zaman internet ini, ada bank tanpa transaksi online berbasis internet. SMS banking, serta berbagai transaksi digital lain. Kartu kredit atau transaksi EDC atau berbasis gesek kartu.
Namun, manajemen baru yang dilantik itu tampak tidak mencerminkan semangat reformasi yang pernah dijanjikan Plt. Gubermur. Mereka tidak bisa dilihat jejak prestasi yang hebat. Minimal memberi keyakinan kepada publik bahwa bank ini sesuai harapan kita orang Aceh.
Banyak harapan selama ini tak terwujud. Misalnya, bagaimana bank ini tidak hanya mengumpul rente. Memilih aman dengan berinvestasi paling aman. Contohnya, mengandalkan bunga dari kredit konsumtif PNS. Kredit untuk penyedia atau kontraktor pemerintah. Bahkan membeli surat utang pemerintah.
Padahal, pertumbuhan ekonomi Aceh di bawah rata rata nasional. Tingkat kemiskinan di atas rata rata nasional. Seharusnya, Bank Aceh terjun ke pasar. Menjadi mitra UMKM. Bukan hanya modal, tapi juga menjadi mentor bagi masyarakat ekonomi lemah.
Nyata kita lihat di pasar-pasar tradisional, bank nasional malah lebih berani terjun ke sektor riil. Kenapa Bank Aceh memilih tidak nimbrung ke sini? Ini pasti akibat lemahnya sumber daya. Tidak inovatifnya manajemen.
Dan lucunya, Plt. Gubernur saat pelantikan komisaris dan direktur baru sekadar mengimbau agar Bank Aceh segera terjun ke sektor UMKM. Padahal, beliau selaku pemegang saham mayoritas, bisa saja mencari manajemen baru. Tidak mesti dari internal Bank Aceh, atau sekadar akademisi di Aceh, yang rata-rata diduga cuma mau “makan gaji besar dengan pekerjaan ongkang-ongkang kaki”. Kenapa tidak, direksi direkrut para bankir yang berprestasi di bank bank internasional atau nasional. Besarnya bank bank swasta nasional, kita lihat dan baca, mereka membayar mahal bankir berprestasi dari bank bank asing.
Mengapa Bank Aceh cuma mengambil internal? Para komisaris baru, misalnya. Tidak pernah kita lihat dan baca, apa prestasi mereka di dunia perbankan. Para direksi baru dari internal, tidak pernah kita lihat prestasi inovasinya. Artinya, janji reformasi Bank Aceh Juni tahun lalu hanya omong kosong. Cuma gertak sambal. Kita tidak tahu mengapa beliau tidak konsisten. “Cakap tak serupa bikin“.[]
* Murthalamuddin (Mudin Pase) adalah jurnalis portalsatu.com/. Opini ini pandangan pribadi penulis.
Lihat pula:
Ini Tujuh Rekomendasi Dialog Pembangunan Ekonomi Aceh Hebat
Plt. Gubernur: Reformasi Bank Aceh Syariah akan Terjadi Seminggu ke Depan





