BANDA ACEH  Salah satu sebab hancurnya Timur Tengah hari ini adalah karena banyak di antara umat Islam di sana yang saling mengkafirkan antar sesama, sehingga keadaan ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak luar yang ingin melihat Timur Tengah terus dalam distablitas.

Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Prof. Dr Farid Wajdi Ibrahim, MA saat mengisi kajian Islam bulanan dengan tema “Radikalisme: Meredukasi Kebebasan Akademik” yang diselenggarakan Badan Edukasi Sosial Tarbiyah (BEST) di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Kamis, (16/11).

“Sebagai contoh, Suriah hari ini hancur karena saling menyesatkan antar tokoh-tokoh agama di sana. Jadi aneh ketika hari ini kita melihat disini juga ada yang suka mengkafirkan sesama Muslim, bukan mengislamkan kafir,” kata Prof Farid.

Oleh sebab itu, Prof Farid berharap masyarakat Indonesia belajar dari tragedi kehancuran Timur Tengah agar tidak terulang di negeri ini. Sebab, ketika sudah suka mengkafirkan, maka umat Islam akan mudah disetting pihak-pihak asing.

Dalam kajian yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dan seratusan akademisi UIN ini, Prof Farid juga menegaskan, bahwa di UIN Ar-Raniry tidak akan bisa berkembang paham-paham yang radikal karena pembelajaran agama yang sangat memadai. Prof Farid juga menyatakan, bahwa paham radikalisme ini sebenarnya lahir karena adanya pembiaran, diciptakan dan juga karena ketikdakadilan pemerintah.

“Untuk mencegah radikalisme ini, pemerintah harus berbuat adil bagi seluruh rakyatnya sehingga mereka akan merasa diayomi oleh pemerintah,“ kata Prof Farid.

Selain mahasiswa, dalam kajian yang berlangsung sekitar 3 jam ini, sejumlah dosen ikut memberikan tanggapan. Salah satu dosen, Dr Fajarul Falah mengatakan, ia sepakat dengan apa yang disampaikan Prof Farid. Ia juga mengatakan bahwa apa yang disampaikan Prof Farid agar umat Islam tidak suka mengkafirkan persis seperti dulu Sultan Iskandar Muda dalam Qanun Meukuta Alam Al-Asyis mewasiatkan agar Aceh dijaga dari golongan-golongan yang radikal.

Saat mengisi materi ini, Prof Farid juga mendesak para dosen UIN agar semuanya bergegas ke masjid saat Adzan berkumandang. Prof Farid juga mengaku kehabisan akal bagaimana agar saat Adzan berkumandang, kantin bisa kosong dan semuanya menuju masjid. Tapi selama ini, kata Prof Farid kantin dianggap lebih penting dari shalat ke masjid.

“Kalau lihat dosen yang tidak ke masjid saat adzan berkumandang, silahkan lapor kepada saya. Akan saya beri hadiah “ pungkas Prof. Farid.[] (rel)