Kamis, Juli 25, 2024

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...
BerandaEkonomiRelaksasi PPKM Pengaruhi...

Relaksasi PPKM Pengaruhi Inflasi Agustus 2021

JAKARTA – Relaksasi terhadap kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah pusat ikut mempengaruhi laju inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2021 mengalami inflasi 0,03% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada Juli 2021 yang tercatat 0,08% (mtm).

Kepala Departemen Komunikasi/Direktrur Eksekutif Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono melalui rilis No.23/222/DKom, 1 September 2021 mengungkapkan, peningkatan inflasi inti didorong oleh pola musiman tahun ajaran baru dan mobilitas masyarakat yang mulai meningkat sejalan dengan relaksasi pembatasan aktivitas masyarakat.

Berdasarkan komoditasnya, peningkatan inflasi inti terutama disumbang oleh inflasi kelompok biaya pendidikan dan komoditas sewa rumah. Secara tahunan, inflasi inti Agustus 2021 tercatat sebesar 1,31% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,40% (yoy). Inflasi inti yang tetap rendah tidak terlepas dari pengaruh permintaan domestik yang belum kuat, stabilitas nilai tukar yang terjaga, dan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi.

Secara tahunan, inflasi IHK Agustus 2021 tercatat 1,59% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,52% (yoy). Erwin Haryono menegaskan, Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna menjaga inflasi 2021 sesuai kisaran targetnya sebesar 3,0% ± 1%.

Sementara pada kelompok volatile food mengalami deflasi 0,64% (mtm) pada Agustus 2021, setelah pada bulan sebelumnya tercatat inflasi 0,14% (mtm). Hal tersebut didorong oleh penurunan harga komoditas aneka hortikultura, sayur-mayur, dan daging ayam ras seiring terjaganya pasokan yang didukung panen di berbagai daerah sentra produksi.

Deflasi yang lebih dalam tertahan oleh inflasi komoditas minyak goreng seiring dengan kenaikan harga crude palm oil (CPO) global. Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food sebesar 3,80% (yoy), meningkat dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,97% (yoy).

Kelompok administered prices pada Agustus 2021 mencatat inflasi sebesar 0,02% (mtm), melambat dibandingkan 0,05% (mtm) pada bulan sebelumnya. Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh tarif angkutan, khususnya angkutan udara, yang mengalami deflasi seiring mobilitas udara yang masih terbatas.

Perlambatan inflasi administered prices lebih lanjut tertahan oleh inflasi komoditas rokok kretek filter seiring transmisi cukai tembakau. Secara tahunan, kelompok administered prices mengalami inflasi sebesar 0,65% (yoy), lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,61% (yoy).[rls]

Baca juga: