Wildan Mukhalad MA yang menjadi Khatib Jumat, 28 Maret 2025, di Masjid Annur Rundeng, Aceh Barat, mengawali khutbahnya dengan mengingat kembali tentang sifat Allah Yang Maha Bicara, Mutakallim, semacam gelombang (suara) atau sinyal, tanpa huruf. Yang hanya dipahami oleh sesiapa yang Dia pahamkan saja sesuai KehendakNya.
Lalu Allah menyampaikan wahyuNya lewat malaikat terpilih kepada manusia terpilih, Muhammad SAW. Dalam satu waktu yang terpilih yaitu Ramadhan, dalam satu malam yang terpilih pula, lailatul qadr.
Disampaikan pula betapa gunung tak akan sanggup memikul cahaya Alquran, niscaya gunung itu akan hancur. Begitulah Alquran yang kita yakini sekarang, sebagai Kalamullah ia penyebab mulianya bulan Ramadan. Penyebab mulia bagi orang yang selalu bersamanya (belajar dan mengamalkannya).
Dengan kalamNya pula kita menerima perintah puasa, hingga tak terasa sudah akan segera berakhir. Hanya kita yang bisa menilai bagaimana amanah Ramadan ini kita tunaikan. sebab kita tidak bisa menjamin apakah Ramadan ke depan masih bisa kita jumpai.
Menyesallah kita bila hari hari di belakang kita masih belum bertaubat dari kesalahan dan maksiat, baii lidah, mata dan telinga dan lainnya.
Ada tersisa sehari atau dua hari lagi untuk kita bersadar, dan mengukur diri tentang persiapan amalan kita. Kita masih bisa berbenah dan memaksimalkan detik detik akhir Ramadhan: Lalu khatib mengutip ayat, “Hendaklah setiap diri melihat apa yang lalu untuk persiapan hari esoknya (kiamat).[]
Ringkasan oleh Taufik Sentana, Pengajar di SMPIT Teuku Umar, Aceh Barat.


