BLANGKEJEREN – Ribuan orang yang datang dari berbagai kabupaten/kota menyaksikan final pacuan kuda tradisional di Stadion Buntul Nege Gayo Lues, Minggu, 26 Oktober 2025.
Penonton datang dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, hingga Kota Langsa.
Ketua Pordasi Gayo Lues, Muhibunsyah, mengatakan seluruh tribun di Stadion Buntul Nege penuh. Lebih dari setengah penonton tidak mendapatkan tempat duduk.
“Alhamdulilah, antusias warga masih sangat tinggi menyaksikan lomba pacuan kuda tradisional yang sudah menjadi budaya kita di dataran tinggi Gayo,” katanya.
Di final pacuan kuda, setiap kuda yang telah selesai mengikuti lomba dan menang langsung diberikan hadiah dan piala. Kuda-kuda perkasa yang berhasil meraih juara itu bisa langsung kembali ke kandang.
“Event tahunan ini akan kita gelar setiap tahunnya, mudah-mudahan masyarakat Gayo Lues terhibur. Karena pacuan kuda tradisional ini hanya setahun sekali kita adakan,” ujarnya.
Anak Hilang di Arena Pacuan Kuda

[Ribuan penonton memadati tribun Stadion Buntul Nege Gayo Lues saat final pacuan kuda. Foto: Anuar Syahadat]
Setiap event pacuan kuda tradisional di Kabupaten Gayo Lues, ada anak terpisah dari orang tuanya sehingga panitia mengumunkan lewat pengeras suara.
Pada pacuan kuda tradisional Gayo Lues tahun 2025, beberapa anak yang terpaksa dibawa ke pentas lantaran terpisah dari orang tuanya.
“Ada beberapa anak tadi yang terpisah dari orang tuanya saat pacuan kuda dimulai, dan pemandangan ini sudah biasa terjadi setiap ada lomba pacuan kuda,” kata Salihin, salah satu penonton di Stadion Buntul Nege.
Salah satu faktor penyebab anak terpisah dari orang tuanya karena keseruan orang tua menyaksikan pacuan kuda, sehingga anaknya pergi entah kemana.
“Satu lagi karena penonton memang sangat ramai, sehingga orang-orang kesulitan mencari anakya yang hilang di arena, sehingga dengan terpaksa diumumkan dengan pengeras suara oleh panitia,” ujarnya.[]






