Oleh Taufik Sentana*
Para pencari dan penempuh jalan suluk telah membuang keinginannya sejauh mungkin. Dan itu muncul bukan karena kelemahan capaian personalnya, tapi karena sikap ubudiyah, keyakinan dan ridha dalam jiwa guna mencapai Tujuan Bermakna.
Dasarnya adalah: wa ma tasyaauna illa an yasyaa Allah Rabbul alaamiin: Apapun yang engkau inginkan hanyalah terjadi karena kehendak Allah. Apabila terjadi keinginanmu yang buruk, maka itu menjadi amalan yang dimurkai Allah semata.
Keinginan murni sang pencari sering dirusak oleh kelelaian dari mengingatNya. Keinginana itu meredup karena terjebak dalam aktivitas yang sia sia atau hilang karena mengikuti dorongan nafsu yang condong pada kelezatan.
Maka seorang murid dalam menempuh jalan suluknya mestilah mampu melepaskan ikatan kelezaran itu apapun bentuknya sampai ia dapat meresapi makna perjalanannya dan apa tujuan tertingginya.
Pada tahap ini, ia mesti tidur hanya sedikit, makan hanya sedikit dan tidak risau dengan status sosialnya selama ia yakin pada jalan ketaatan.
disarikan bebas dari Risalah Alqusyairiyah dalam kanal Ust. Abd Somad, edisi dua Ramadan 1441 H.[]
*Pegiat kajian sufistik



