RUMAH itu selalu terbuka pintunya. Kapan saja engkau lewat keadaannya akan tetap begitu. Pintu rumah itupun sudah tak layak lagi, catnya pudar dan tampak lapuk papannya.
Orang orang di sekitar rumah itu sudah maklum dengan kondisi si penghuni rumah. Bukan karena sakit atau kelainan tertentu. Di rumah itu tinggal seorang ibu yang sudah tua, tapi masih bisa beraktifitas dengan bekerja serabutan apa saja, mengerjakan apa yang diminta warga sesuai kemampuannya. Dari mencuci, menemani anak kecil di rumah, membersihkan kebun dan sebagainya.
Tak diketahui siapa dan bagaimana suami dan dimana kampung asal mereka. Yang sering diketahui selama ini adalah, pintu rumahnya yang selalu terbuka. Kapan saja, sepanjang hari dan sepanjang malam. Bahkan saat angin kencang dan hujan lebat pun pintu rumah itu selalu terbuka.
Pada suatu malam yang sunyi dan dingin, saat warga setempat sudah tak tampak lagi berkegiatan. Hanya beberapa kedai kecil yang masih buka sambil menunggu pembeli. Ada sekelebat bayang mengendap pelan ke pekarangan rumah seorang ibu tua tadi. Berpakaian lusuh, bertampang lelaki, seorang pemuda. Tampak ragu untuk masuk.Sebelumnya ia menoleh kesana-kemari. Ia ingin mengetuk pintu rumah yang sudah lapuk itu. Tapi ia urungkan.
Terdengar suara dari belakang, suara ibu tua itu.
“Siapa?, kaukah itu?” ia bertanya kepada sosok pemuda di depan rumahnya.
“Masuklah!” Kata ibu itu. Pemuda itu diam, menarik nafas, lalu deengan langkah pelan dan menyimpan rasa yang bercampur, pemuda tadi menuju ruang belakang, seketika ia memeluk ibu tadi yang sedang menyiapkan jajanan kecil intuk dijual esok pagi. Ia memeluk erat badan ibu tua itu, seperti berkata tapi tak terdengar, air matanya tumpah dan dadanya sesak.
Si ibu menahan rasa sambil menatap wajah pemuda yang di depannya, wajah yang kotor berdebu dan penuh putus asa.
“Kenapa baru sekarang engkau pulang?”
Suara itu begitu.
“Aku sendiri disini, menyelesaikan hari hariku”
tambahnya sedih. Si pemuda yang ternyata anaknya, kembali menangis terisak.
“Maafkan aku, Buk”. Kata pemuda itu lirih
“Aku tidak hanya bersalah pada diriku, tapi bersalah juga kepada Ibu”, tambahnya sambil memegang tangan tua si Ibu.
“Telah lama engkau aku maafkan. Sehari setelah engkau pergi aku memaafkanmu. Bahkan sejak itu pintu rumah ini selalu terbuka untukmu. Aku selalu membuka pintunya untukmu”. Kata ibu itu datar. Suasana malam yang dingin kini bertambah haru. Tak terdengar suara apapun, semua bisu dan waktu bagai membeku.[]
Karya Taufik Sentana.
Selamat Hari Ibu: “Semoga Rahmat Allah Melimpah untuk Ibu kita, juga kepada lelaki yang mendampinginya, Ayah kita).



