Senin, Juli 15, 2024

Kapolres Aceh Utara AKBP...

LHOKSUKON - AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., kini resmi mengemban jabatan Kapolres...

Temuan BPK Tahun 2023...

BLANGKEJERN - Badan Pemeriksa Keungan (BPK) Perwakilan Aceh menemukan kelebihan pembayaran pada anggaran...

Pj Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menerbitkan surat keputusan (SK) tentang...

Kadispora Lhokseumawe Apresiasi Pejuang...

LHOKSEUMAWE - Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) XVII Provinsi Aceh di Aceh Timur...
BerandaRupanya Begini Usaha...

Rupanya Begini Usaha Belanda Taklukkan Aceh

BANDA ACEH – Penulis buku, Yusra Habib Abdul Gani, dalam diskusi membedah buku karyanya Strategi Belanda Mengepung Aceh (1873-1945) memaparkan, Aceh melakukan perlawananan secara frontal terhadap kolonialisme Belanda. Perlawanan tersebut, menurut Yusra, adalah pertempuran terpanjang yang pernah dialami Belanda.

Yusra menjelaskan, segala cara dan usaha dilakukan oleh Belanda untuk menaklukan Aceh, mulai dari cara militer dan nonmiliter. Dalam buku tersebut, Yusra mengatakan, ada beberapa cara nonmiliter yang dipakai Belanda untuk mengalahkan Aceh. Salah satunya, menggerus nilai dan nasionalisme Aceh yang dipegang oleh pejuang Aceh dan masyarakat Aceh saat itu.

“Mereka kirim aktivis dari Pulau Jawa untuk berbaur dengan orang Aceh, dalam rangka apa? Tentu saja untuk menggerus nilai nasionalisme Aceh dan menggantikannya dengan nilai nasionalisme lain,” ucap Yusra dalam diskusi yang diselenggarakan di Aula Fakultas Adab UIN Ar-Raniry, 26 Juli 2016.

Salah satu intelektual GAM ini menjelaskan, Aceh pada saat itu adalah sebuah negara yang sudah diakui oleh dunia internasional. Sejarawan ini juga memaparkan beberapa fakta sejarah, termasuk peta negara Aceh yang terbentang luas sampai ke Siak, Riau.

“Tanggal 22 April 1206 Aceh sudah ada dan diakui oleh internasional. Yang jadi pertanyaannya sekarang adalah mengapa tak selamatkan Aceh, tapi malah memunculkan kemerdekaan Indonesia? Ini buktinya nasionalisme telah mengalahkan nasionalisme Aceh,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, memang benar ada beberapa golongan di Aceh yang bersedia tunduk terhadap Belanda demi kepentingan pribadi. Akan tetapi, secara keseluruhan Aceh tak pernah dikuasai oleh Belanda.

Akan tetapi, di akhir Yusra mengatakan, ilmu sejarah memang milik sejarah. Walaupun banyak warna yang akan muncul, fakta sejarah tetaplah sejarah. Sebagai ilmuwan dan sejarawan ia mengaku akan memaparkan fakta kebenaran sejarah yang sebenarnya.

“Saya hanya menampakkan bahwa Aceh punya sertifikat tanah dan ini ahli warisnya, begitu,” kata Yusra.[] (*sar)

Baca juga: