Oleh: Dr Yogi Prabowo Sp OT (Aktivis Kemanusiaan MER-C)
Pemerintah sudah menyiapkan Rumah Sakit (RS) rujukan untuk penangan Coronavirus Disease-2019 (Covid-19), seperti RSP, RSPI SS, RSPAD, dan bahkan meng-extend ke RS lain seperti RS Fatmawati, RS Pelni, RSKD Duren Sawit, juga kita dengan upaya pihak-pihak swasta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti RS Pertamina Jaya menyiapkan “ratusan ICU” untuk merawat pasien Covid-19, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu yang katanya siap 1000 bed, ditambah lagi Wisma Atlet yang menyiapkan ribuan bed.
Sementara kita lihat potret macetnya sistem rujukan antar fasilitas kesehatan tersebut. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) juga tidak lancar, bahkan ada yang wafat di ambulance atau di jalan.
Potret lain kita lihat pada jurnal-jurnal pengalaman negara lain, kematian pasien Covid-19 ini selain akibat gagal pernafasan, bisa disebabkan masalah jantung (miokarditis) yang menyebabkan “sudden death”, pasien drop tiba-tiba. Artinya untuk pasien Covid-19 yang berat perlu penangan tim ICU yang multi disiplin, dan tidak bisa di ICU yang tidak ada tim yang lengkap, sementara pembangunan ICU-ICU yang di-upgrade terkendala Sumber Daya Manusia (SDM) tim yang lengkap.
Disinilah perlu dilakukan disaster triage, yaitu memilah dan mengelompokkan pasien Covid-19 berdasarkan severity dan mendistribusikan ke fasilitas kesehatan yang levelnya sesuai. Perlu dilakukan pemetaan level kemampuan fasilitas kesehatandan ICU untuk mendistribusikan pasien sesuai dengan level severity agar bisa menekan angka kematian akibar Covid-19. Untuk mempermudah dan memotong jalur komunikasi berjenjang bisa dibentuk Forum Rujukan Covid-19 yang isinya para Direktur RS. Disaster triage ini harus ada komando agar prosesnya lancar.[**]


