Samsariah hidup dari berjualan tiram. Ia selalu optimis, ada usaha pasti ada hasil.
Perempuan paruh baya itu dengan telaten mengupas cangkang tiram, mengambil isinya. Ia seolah tak terusik dengan orang-orang yang lalu lalang di jalan pinggiran sungai Krueng Cut itu. Baginya tiram adalah kehidupan.
Tiram-tiram itu diambilnya sendiri dari Krueng Cut. Tapi ada kalanya juga dia menerima titipan dari pencari tiram lainnya. Tiram yang sudah dipisahkan dari cangkangnya itu dimasukkan dalam plastik, diberikan air secukupnya, lalu diletakkan di meja kecil untuk dijual kepada warga yang lalu lalang.
“Saya jual Rp 10.000 hingga Rp15.000 per bungkus. Kadang-kadang tiram saya ambil sendiri di sungai, ada juga saya ambil dari pencari tiram lainnya,” jelas Samsariah, Minggu, 12 September 2021. Perempuan berusia 48 tahun itu merupakan warga desa Baet, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.
Bagi Samsariah, mencari tiram di muara sungai merupakan pekerjaan yang berat. Tapi, tak ada pilihan lainnya baginya, untuk bertahan hidup ia harus melakoni pekerjaan itu. Tangan dan kakinya kadang terluka saat mengambil tiram, karena tergores cangkang tiram yang tajam.
Karena sudah terbiasa dengan pekerjaan itu, Samsariah sudah cekatan. Bila sebelumnya ia harus menggunakan pelindung saat mengupas tiram, kini ia bisa melakukannya tanpa sarung tangan. Sesulit apa pun ia akan terus menggeluti pekerjaan itu, karena setelah menjanda, ia harus menghidupi dirinya dan keluarganya sendiri, tak mau bergantung dari orang lain.
“Saya sudah berjualan tiram sejak gadis. Saya berjualan dari pagi hingga sore. Setiap hari laris. Asal ada usaha pasti ada hasil. Pendapatan saya bisa Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari,” ungkapnya.[mag/Fazliana]




