Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaSantri Labuhanhaji Terseret...

Santri Labuhanhaji Terseret Arus Laut Ditemukan Meninggal Dunia

TAPAKTUAN – Safran, 16 tahun, salah seorang santri Pondok Pesantren Darul Ihsan, Desa Pawoh, Kecamatan Labuhanhaji, Aceh Selatan yang hilang terseret arus laut saat sedang mandi-mandi di pinggir laut persis dibelakang pondok pesantren dimaksud pada Rabu, 30 November 2016 lalu sekitar pukul 15.20 WIB, ditemukan terapung dalam kondisi sudah meninggal dunia yang berjarak sekitar 4 Km dari bibir pantai pada Jumat, 2 Desember 2016 sekitar pukul 0910 WIB.

Korban baru berhasil ditemukan setelah dilakukan proses pencarian selama dua hari dua malam oleh tim gabungan dari Satgas SAR, Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) dan pihak Polres Aceh Selatan dengan dibantu sejumlah nelayan setempat.

“Korban pertama kali ditemukan oleh nelayan yang sedang melaut. Saat melintasi bagan apung disekitar perairan laut Kecamatan Labuhanhaji yang berjarak 4 Km dari bibir pantai, salah seorang nelayan merasa curiga ketika melihat seperti ada tubuh manusia yang tersangkut jaring bagan apung, setelah di cek ternyata benar orang tersebut adalah santri yang hanyut terseret arus beberapa hari lalu,” kata Kepala BPBK Aceh Selatan, Erwiandi saat dihubungi wartawan dari Tapaktuan, Jumat, 2 Desember 2016.

Penemuan tersebut, lanjut Erwiandi, langsung di laporkan kepada tim pencari yang saat itu memang sedang melakukan proses pencarian di sekitar perairan laut Labuhanhaji menggunakan tiga rubber boat milik BPBK, Satgas SAR dan milik Polres Aceh Selatan serta dibantu dua unit boat nelayan setempat yang di usahakan oleh Kapala Desa Pawoh dan Camat Labuhanhaji.

Erwiandi menyatakan, berdasarkan hasil rapat antara pihak Muspika Labuhanhaji dengan pimpinan Pondok Pesantren Darul Ihsan, Abuya H Amran Waly telah memutuskan bahwa jasad santri yang telah ditemukan meninggal dunia tersebut tidak lagi disemayamkan di Pondok Pesantren dimaksud melainkan langsung di evakuasi ke rumah duka di Kecamatan Tangan-tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

“Langkah ini diambil karena kondisi jenazah telah dua hari tenggelam dilaut sehingga diperkirakan jasadnya sudah mulai mengembung. Untuk mempercepat proses penguburan korban, maka diputuskan korban segera di evakuasi ke rumahnya, apalagi hari ini merupakan hari Jumat,” kata Erwiandi.

Sebelumnya, sambung Erwiandi, tim pencari sempat mengalami kendala dan hambatan dalam melakukan proses pencarian terhadap korban hanyut terseret arus laut tersebut, karena kondisi cuaca sedang buruk yang ditandai dengan gelombang tinggi dan deras disertai angin kencang dan air keruh.

“Sebenarnya proses pencarian terhadap korban sudah maksimal dilakukan oleh tim pencari dari BPBK, Satgas SAR dan pihak Polres Aceh Selatan dengan menurunkan tiga rubber boat serta dibantu dua unit boat nelayan setempat. Namun karena cuaca sedang tidak bersahabat sehingga proses pencarian mengalami kendala,” ujarnya.

Keterangan dihimpun, kejadian naas yang merenggut nyawa salah seorang santri Pondok Pesantren Darul Ihsan, Desa Pawoh, Kecamatan Labuhanhaji pimpinan Abuya H Amran Waly tersebut bermula dari keputusan para santri bersama masyarakat setempat yang diperkirakan berjumlah puluhan orang mandi-mandi laut, pada Rabu (30/11) siang bertepatan hari tolak bala atau yang lazimnya di kenal di Aceh hari “Rabu habeh”.

Saat sedang mandi-mandi itulah, secara tiba-tiba datang gelombang besar yang menghempas seluruh santri dan masyarakat yang sedang mandi laut.

Dari puluhan santri dan masyarakat yang dihempas gelombang, empat orang santri masing-masing bernama Safran, Reza, Hasyimi dan Bachtiar sempat terseret arus ke tengah-tengah laut. Beruntung tiga santri diantaranya berhasil di selamatkan oleh nelayan setempat yang langsung menuju ke lokasi setelah menerima laporan warga.

“Setelah tiga santri berhasil di evakuasi ke daratan, ternyata satu orang lagi bernama Safran tidak berhasil ditemukan saat itu. Setelah di cek ternyata yang bersangkutan telah hilang tenggelam ke dasar laut. Sehingga saat itu juga langsung dilakukan proses pencarian terhadap korban hingga dia baru berhasil ditemukan pada Jumat 2 Desember 2016 dalam kondisi telah meninggal dunia,” kata Camat Labuhanhaji, Rahmatuddin.

Menurutnya, dari tiga santri yang berhasil di selamatkan satu di antaranya bernama Hasyimi terpaksa harus di rawat di Klinik dokter Yensuari, Kecamatan Labuhanhaji karena kondisinya sudah sangat lemas.

“Diperkirakan jika tidak cepat sampai pertolongan yang bersangkutan juga akan hilang tenggelam ke dasar laut. Sedangkan dua orang santri lainnya setelah diperiksa oleh tim medis, pada hari itu juga di izinkan kembali ke rumahnya masing-masing,” tandas Rahmatuddin. []

Laporan Hendrik Meukek

Baca juga: