LHOKSEUMAWE – Sebanyak 215 santri Pesantren Modern Misbahul Ulum, Lhokseumawe, mengikuti pelatihan jurnalisme dasar dan menaruh minat besar terhadap dunia jurnalistik.
Dalam pelatihan dasar jurnalistik yang digelar selama dua hari, 5-6 September 2020, terlihat para peserta sangat antusias mengikuti pelatihan. Bahkan, sampai tengah malam, pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari peserta. “Kalau tidak kami hentikan, pelatihan bisa selesai pagi dinihari,” ungkap tenaga pengajar di Misbahul Ulum, Ustaz Juwanda, M.Pd., Senin, 7 September 2020.
Diklat Jurnalistik bagi santri dan santriwati Misbahul Ulum digelar untuk membekali ilmu jurnalistik dasar. Diharapkan dari kegiatan tersebut santri mendapatkan ilmu jurnalisme dasar dan bisa mengelola majalah dinding serta website pesantren.

(KH. Hamdani Khalifah. Foto: Ayi Jufridar)
Pimpinan Pesantren Modern Misbahul Ulum, KH. Dr. Hamdani Khalifah, M.A., menyebutkan mempelajari ilmu jurnalistik tidak cukup satu atau dua hari. “Kami dulu belajar jurnalistik sampai beberapa semester. Tapi anak-anak belajar satu malam esoknya langsung ujian,” ujar KH. Hamdani ketika membuka Diklat Jurnalistik di Masjid Al Hasyimiyah, Paloh, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe.
KH. Hamdani meminta peserta serius dan fokus mengikuti pelatihan karena mereka diberi tugas untuk menulis berita kegiatan tersebut. KH. Hamdani juga meminta siswa bisa mengelola majalah dinding dengan informasi terbaru setiap hari.

(Ayi Jufridar. Foto: Humas Pesantren Modern Misbahul Ulum)
Materi Diklat Jurnalistik tersebut antara lain diisi Ayi Jufridar, MSM., jurnalis sekaligus dosen jurnalistik dari Universitas Malikussaleh. Ayi menyampaikan materi tentang jurnalisme dasar, mulai dari sejarah jurnalisme, nilai berita, sumber berita, prinsip jurnalisme, unsur-unsur berita, sampai editing.
“Seperti disampaikan Ustaz Hamdani, butuh beberapa semester untuk belajar setiap materi. Tapi harus dipadatkan secara singkat dan disesuaikan dengan tingkat pendidikan peserta yang masih SMA. Banyak di antaranya sudah paham karena sudah pernah mengikuti pelatihan jurnalistik dan belajar otodidak,” ungkap Ayi Jufridar.
Selain tentang jurnalistik, para peserta juga banyak bertanya terkait penulisan puisi dan novel. Beberapa peserta mengaku juga menyukai penulisan puisi dan novel serta berharap ada pelatihan tentang itu.[](*)

(Santriah mengikuti Diklat Jurnalistik. Foto: Ayi Jufridar)





