Secara harfiyah santri diartikan sebagai pelajar muslim, tepatnya pelajar yang mendalami ilmu agama secara khusus dan mengkaji literaturnya secara komprehensif.

Berkembangnya isu modernitas dan pesatnya laju industri, dan kini TIK, menuntut banyak lembaga agar berbenah. Baik dari segi metode, bahan ajar dan orientasi. Maka banyak pesantren yang menggunakan label modern, terpadu, berbasis kejuruan (skill) dan sebagainya. Walau tetap ada yang secara murni memelihara tradisi lama dengan kitab klasik murni yang mengkhususkan diri dalam pengkaderan ulama. Inipun mesti dapat menjawab problem kekinian umat.

Kini dapat kita tengarai bahwa citra santri yang sarungan itu mulai tergerus walau tidak merusak makna santri itu sendiri. Kaum santri mesti dapat meletakkan dirinya di tengah zaman yang berubah cepat, sarat konflik dan pergeseran nilai. Pesantren mesti dapat menyiapkan santri yang tidak hanya “militan” secara tekstual, tapi juga dapat berdialog dengan kaumnya dan menjadi perekat umat. Sebagai pusat pembangunan karakter yang utuh,  pesantren mesti menjadi lembaga yang autentik bagi pengembangat bakat santrinya secara bertahap dan optimal. 

Dalam arti, bahwa  para santri itu kelak tidak semuanya mengkhususkan diri sebagai “penjaga tradisi kitab klasik”, tapi tetap membekali diri dengan skill relevan, baik sebagai profesional, pedagang, pekerja mandiri, bertani dll. Dan itu membutuh skala kurikuler yang serius. Misalnya, mereka yang khusus menghafal Alquran, mesti dibekali bahasa Arab, telaah kitab, hadis, dasar sains, pidato, bahkan menulis, dan kewirausahaan. 

Untuk mencapai maksud tersebut, perlu sinergi dengan para donatur, aghniya', pewakaf dan pemerintah. Sebab kita tentu berharap agar para lulusan pesantren bisa eksis dengan  fungsi dirinya yang relevan di tengah masyarakat tanpa kehilangan ruh santri yang sarat khusuk, ketundukan, keilmuan dan kemuliaan: agar setiap mereka dapat menjadi cahaya dimanapun berada.[]

Penulis: Taufik Sentana

Pesantren Darul Arafah 90-96,

Pesantren Yusriyah, Misbahul Ulum 96-2003.

Menulis Buku dalam antologi Berani Hidup, Tak Takut Mati dan Logika Kemulian Hidup, bersama mahasantri Darul Arafah. Komentator pada Buku Bangga Jadi Santri, Misbahul Ulum Paloh, Lhokseumawe.

Menetap di Aceh Barat.