SINGKIL – Satu orang dilaporkan tewas dan dua lainnya hilang dalam musibah banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Aceh Singkil, Minggu, 31 Januari 2016. Adapun korban yang diketahui tewas adalah Rusiyem, 46 tahun.

Informasi yang diterima portalsatu.com menyebutkan, tim penanggulangan bencana setempat masih melakukan pencarian terhadap korban yang terseret arus.

Banjir yang melanda Aceh Singkil ini juga mengakibatkan longsor dan putusnya jalan serta jembatan. Selain itu, banjir bah tersebut turut membuat ratusan rumah warga hancur, ternak hilang dan banyak penduduk saat kejadian menyelamatkan diri ke atap rumah dan pohon besar.

Camat Singkohor, Zulhelmi, kepada wartawan, Senin, 1 Februari 2016, mengatakan, terdapat tiga kecamatan yang menjadi titik terparah banjir. Ketiga kecamatan tersebut adalah Kecamatan Suro, Kota Baharu dan Singkohor. 

“Dalam bencana itu seorang warga tewas dan dua orang terseret arus, ratusan rumah rusak dan ambruk. Sejumlah jalan tertimbun longsor dan banyak penduduk harus diungsikan,” ujar Zulhelmi.

Menurutnya saat kejadian banyak warga tidak menyangka air bah dengan ketinggian satu meter datang tiba-tiba. Hal ini menyebabkan warga kaget dan secara spontan menyelamatkan diri ke pohon dan atap rumah seperti yang terjadi di Desa Multi Daya.

“Di desa itu semua rumah hancur dan warga korban hingga saat ini belum diketahui apakah selamat semua atau ada yang keseret air,” ujarnya.

Sementara korban yang dilaporkan tewas, Rusiyem, diketahui terseret air bah saat melintasi jembatan penghubung antara kampung Kecamatan Kota Baharu dengan Singkohor. 

“Saat itu muncul air bah yang sangat deras. Korban bersama suaminya hendak pergi jualan ke Rimo dengan menggunakan sepeda motor, namun kendaraan mereka jatuh dan korban terseret arus,” katanya.

Zulhelmi mengatakan, musibah banjir bandang di Singkohor juga menyebabkan dua warganya, Hamzah Sihombing dan Rospita Sitompul hilang terseret arus. Hingga saat ini masih belum diketahui keberadaannya.

“Sejumlah pihak ikut mencari korban,” katanya. 

Dia mengatakan banjir terjadi akibat meluapnya air sungai. Saat ini, kata Zulhelmi, air sudah surut dan warga yang mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.

“Namun sejumlah penduduk masih sibuk dengan membersihkan tempat tinggal mereka,” katanya.

Berdasarkan keterangan anak korban, Hamzah Sihombing dan Rospita Sitompul, hilang dan terseret arus karena rumah mereka tersapu air bah. Upaya pencarian kedua korban ini terhambat lantaran jalan menuju lokasi yang tertimbun longsor.

“Pagi ini pihak pemerintah setempat sedang menggerakkan alat berat membersihkan jalan agar bisa mencari korban,” kata Zulhelmi.

Sementara informasi dari Camat Suro, Abdul Manaf, mengatakan, banjir bandang di wilayahnya menyebabkan 770 jiwa penduduk terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam banjir. “Bahkan ada rumah warga yang rusak berat dan ringan,” katanya.

Banjir yang melanda Kecamatan Suro turut merendam markas TNI Yonif 115.

“Padahal kawasan itu selama ini tidak pernah banjir. Namun kemarin air setinggi satu meter mengepung perkampungan,” katanya.[](bna)