BPJS Kesehatan senantiasa menyampaikan sosialisasi kepada seluruh peserta dan takeholder BPJS Kesehatan bahwa program JKN-KIS dijalankan dengan mengedepankan prinsip gotong-royong, dengan slogan “Dengan Gotong Royong Semua Tertolong”.

Salah satu yang telah menyerap pemahaman yang baik tentang prinsip ini adalah Bapak Idrus Mahmud, yang saat masa aktif bekerjanya berprofesi sebagai pengusaha ini.

Pada saat dikunjungi oleh BPJS Kesehatan, beliau tengah duduk di beranda rumahnya menemani cucunya bermain. Di rumahnya yang relatif besar, beliau hanya tinggal berempat saja, dengan anak laki-lakinya dan dua orang cucu.

“Saya sudah tua, tidak lagi produktif seperti saat masih aktif bekerja dulu. Sekarang dengan sisa-sisa tenaga ikut mengurus cucu. Saya bahagia melakukan ini (mengurus cucu). Cuma saya jadi sering teringat istri saya,” ujar Pak Idrus.

Istri beliau baru saja meninggal dunia sekitar 3 bulan yang lalu karena komplikasi penyakitnya, yang utama adalah faktor penyakit ginjal yang mengharuskan mendiang melakukan prosedur cuci darah secara rutin. “2 kali seminggu, saya yang selalu menemani, mengandalkan pelayanan dari BPJS Kesehatan,” sambungnya.

“Istri saya itu sudah pernah menjalani rawatan di 5 Rumah Sakit, seluruhnya dengan pelayanan dari BPJS kesehatan. Tidak pernah kami mengeluarkan biaya tambahan.”

Pernah suatu kali saat mengantre di instalasi Haemodialisa di RSUD Zainal Abidin, Pak Idrus bercerita dirinya duduk bersebelahan dengan pasien yang membiayai sendiri seluruh biaya pelayanan kesehatannya, tidak menggunakan JKN-KIS.

“Saya terkejut kok masih ada yang mau berobat dengan biaya sendiri begitu. Saat saya bertanya ternyata beliau menyepelekan layanan  BPJS. Mungkin terpengaruh omongan orang. Saya sampaikan pengalaman saya kepada beliau, itu yang selalu saya lakukan setiap bertemu orang, saya ceritakan pengalaman manis saya menggunakan kartu BPJS Kesehatan (JKN-KIS), biar semua tau, kok dibilang rumit, padahal pengalaman saya semuanya mudah saja asal ikut prosedur,” ujarnya bersemangat.

“Kalau membiayai sendiri, mungkin saya sudah sakit karena memikirkan biaya, bukan sembuh malah bertambah sakit. Iuran saya jelas tidak seberapa dibandingkan biaya yang dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan saya dan istri, program ini sangant membantu orang tua seperti saya yang secara finansial sudah tidak sehebat masa muda dulu,” kata beliau.

Selain untuk prosedur haemodialisis sang mendiang istri, Pak Idrus sendiri pernah pula mengakses pelayanan kesehatan dengan kartu JKN-KIS. “Masa tua saya akrab dengan Puskesmas dan Rumah Sakit,” beliau melanjutkan sambil tertawa. “Untunglah tidak terlalu berat secara biaya. Saya berulang kali ke Puskesmas dan pernah juga melakukan operasi Hernia di RS Harapan Bunda,” kata Pak Idrus.[]