BANDA ACEH – Stan Asyraf Aceh di Aceh History Expo pada Pekan Kebuadayaan Aceh (PKA) ke-7, dikunjugi oleh Sayid Ahmad Kabeer Al-Jamalulail dari Kerala, India, dan Prof. Abdul Rahim bin Samsudin dari Malaysia, juga berbagai kalangan dari penjuru Aceh, dan nusantara.

“Kedatangan Sayid Ahmad Kabeer ke Aceh untuk melihat bagaimana hubungan Sayid Aceh di masa lalu dengan Sayid yang berada di Pantai Malabar dalam berbagai perspektif,” kata Sayed Murthada, Ketua Asyraf Aceh, Sabtu, 11 Agustus 2018.

Di PKA ke-7, Asyraf Aceh berpartispasi dalam Aceh History Expo dengan menampilkan berbagai jenis poster batu nisan keluarga sayid di Aceh dan Hadramaut, mushaf tulisan tangan, kitab-kitab kuno, stempel, jenis-jenis senjata serta berbagai informasi tentang sejarah keluarga sayid Aceh.

“Asyraf Aceh merupakan lembaga yang juga mengeluarkan buku nasab untuk keluarga sayid Aceh. Saat ini Asyraf Aceh telah mengeluarkan lebih seratus buku nasab untuk berbagai macam keluarga sayid Aceh serta sedang melakukan berbagai kajian sejarah yang berhubungan dengan dispora Arab Hadrami di Aceh,” katanya.

Di antara sekian banyak koleksi tersebut, kata Sayed, terdapat naskah tentang tokoh ulama pejuang Aceh adalah Habib Teupin Wan (Habib Abdurrahman bin Hasan Asseqaf) yang telah berjuang selama 38 tahun dari 1873 -1911 M.

“Juga sejarah tokoh Syarif Muhammad bin Abdurrahman Al-Jamalulail yang berhijrah dari Aceh ke Kadalundi (Kerala, India), Sejarah keluarga Syarif Keumala dan jaringan tarekat alawiyah di Aceh,” katanya.

Untuk Habib Teupin Wan, kata dia, di stan itu Asyraf Aceh menampilkan sebuah manuskrip tahun 1909 M yang berisikan tentang ajakan penguasa pada saat tersebut untuk bertaslim dengan Belanda, tetapi Habib Teupin Wan dan para pejuang lainnya menolak untuk bertaslim (berdamai) dengan pihak kolonial.

Hingga Snouck Hurgronje pun waktu itu berpendapat, Habib Teupin Wan akan berpotensi menjadi Tgk. Chik di Tiro kedua, karena pengaruhnya akan sanggup menggalang masyarakat Aceh untuk berperang. Sebab itu kemudian Snouck Hurgronje mengirimkan surat untuk memerintahkan supaya Habib Teupin Wan dibunuh.

“Padahal ada surat bertaslim dari Tuanku Mahmud, Tuanku Raja Keumala, Panglima Polem guna mengajak Habib Teupin Wan menyerah, namun beliau dan anak Habib Cut nya tidak mau menyerah pada Belanda hingga syahid di gunung Halimon,” katanya.

Bila Habib Teupin Wan yang lahir di Aceh tersebut memilih syahid daripada harus menyerah kepada kolonial Belanda, namun berbeda dengan Habib Abdurrahan Azzahir yang lahir di Tarim, tentang tokoh itu Asyraf berpendapat, bahwa ia tidak berkhianat.

Pada masa itu menurut penelitian Asyraf kekuatan Belanda telah berhasil memecah-belah kekuatan pasukan Aceh hingga kalangan Ulee Balang pun sudah banyak yang menyerah.

“Sedangkan Habib Abdurrahman Azzahir adalah lahir di Tarim kemudian ke Aceh berjuang bersama masyarakat Aceh melawan Belanda kemudian kembali lagi ke Arab ketika ia merasa kondisi perjuangan tidak akan berhasil dimenangkan,” kata dia.[]