Selasa, Juni 25, 2024

Yayasan HAkA Minta APH...

BANDA ACEH - Berdasarkan pemantauan yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh...

HUT Ke-50, Pemkab Agara-Bulog...

KUTACANE - Momentum HUT Ke-50, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tenggara bekerja sama dengan...

Pemilik Gading Gajah Super...

BLANGKEJEREN - Satreskrim Polres Kabupaten Gayo Lues berhasil mengungkap kasus kepemilikan dua gading...

YARA Minta Polisi Transparan...

ACEH UTARA - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) mendesak kepolisian serius menangani kasus...
BerandaNewsSBY Walk Out...

SBY Walk Out dari Acara Deklarasi Kampanye Damai, Kenapa?

JAKARTA – Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), “walk out” dari acara kampanye damai Pemilu 2019. SBY tidak hadir dalam pelepasan burung merpati dan penandatanganan prasasti sebagai tanda dimulainya kampanye yang anti-SARA dan hoax itu.

“Partai Demokrat, juga Pak SBY, protes keras terhadap KPU dalam rangka deklarasi ini,” kata Sekjen Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan, di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Minggu, 23 September 2018, dilansir okezone.com.

Hinca mengatakan bahwa Presiden keenam Indonesia itu langsung ditelepon oleh Ketua KPU, Arief Budiman. Dalam percakapan itu, SBY diminta untuk menyepakati aturan main dengan tidak membawa atribut untuk berkampanye.

SBY tak hadir setelah acara karnaval kampanye damai dengan menaiki mobil golf yang diarak-arakan mulai dari Monas menuju Patung Kuda, Jakarta.

“Beliau turun dan walk out meninggalkan barisan karena melihat banyak sekali aturan main yang tak disepakati awalnya. Misalnya, kan kita sepakat pakaian adat saja damai dan tidak membawa partai apalagi membawa atribut yang begitu banyak sehingga terkesan tidak kampanye,” ujarnya.

Dia melanjutkan bahwa SBY berpesan kepada ketua parade karnaval dari Demokrat untuk mengikuti acara kampanye damai sampai dengan selesai. “Beliau walk out, (jadi) saya pimpin sampai selesai,” kata Hinca.

Hinca mengaku acara penandatanganan prasasti dan pelepasan burung secara simbolik itu telah berakhir saat tim parade karnaval dari Demokrat baru tiba di Monas. Alhasil, lanjutnya, tak ada perwakilan dari partai berlambang mercy di acara itu.

“Kami tak bisa naik, tak bisa tanda tangan. Nah sehingga apa yang terjadi saya telah menulis protes keras kepada Ketua KPU saudara Arief Budiman,” tandasnya. 

Ketua DPP Bidang Advokasi dan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahean, menjelaskan, SBY merasa tidak nyaman karena terganggu oleh hadirnya relawan yang berteriak-terika di samping kendaraan SBY.

“Pak @SBYudhoyono dan pak @ZUL_Hasan akhirnya meninggalkan deklarasi lbh awal krn merasa tdk nyaman dan terganggu,” cuit akun Ferdinand @LawanPolitikJKW, Minggu, dikutip okezone.com.

Selain itu, relawan pendukung salah satu paslon membawa alat peraga kampanye. Padahal, pihak KPU sudah melarang. Oleh karena itu, Ferdinand pun menilai acara deklarasi kampanye damai yang diselenggarakan KPU ini berjalan gagal. “Atas peristiwa ini, SBY menyatakan protes. Kami nyatakan deklarasi damai gagal,” sambung dia. 

Tanggapan KPU

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, turut berkomentar terkait sikap Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono yang memilih pulang terlebih dahulu karena merasa terganggu oleh pendukung salah satu paslon.

“Jadi, gini sebetulnya yang sudah kita atur itu semua delegasi yang ada di dalam jalur karnaval. Memang yang di luar itu kita nggak bisa atur misalnya tiba-tiba banyak orang berdiri di pinggir jalan,” ungkap Arief di Kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu.

Oleh karenanya, Arief menilai kejadian yang menimpa presiden keenam tersebut tidak terjadi di dalam kawasan acara deklarasi kampanye damai yang berada di lingkaran Monas. Ia pun menilai agar acara deklarasi kampanye damai dapat berjalan dengan lancar dibutuhkan tanggung jawab semua pihak dan tidak hanya kepada KPU.

“Ya kalau ngomong tanggung jawab, tanggung jawab kita bersama yang penting masing-masing pihak bisa memahami itu,” kata dia.[] Sumber: okezone.com

Baca juga: